23 February 2014

Ikut Pengusaha Tionghoa ke Kelud



Setiap kali ada bencana alam, para pengusaha Tionghoa di Surabaya dan Sidoarjo langsung bergerak. Dalam waktu singkat terkumpul bantuan untuk disalurkan ke korban bencana alam.

Begitu juga dengan letusan Gunung Kelud pada 13-14 Februari 2014. Erupsinya Kamis malam, Senin barang-barang bantuan sudah terkumpul di Kertajaya Indah Timur, Surabaya, markas Perhimpunan Pengusaha Tionghoa Indonesia.

Seperti biasa, saya diajak blusukan ke lokasi pengungsian oleh Pak Liem Ouyen dan Pak Chandra, yang juga bosnya barongsai Jatim. "Anda harus ikut biar tahu langsung kondisi lapangan. Biar informasinya akurat. Wartawan jangan cuma nelpon-nelpon aja, tapi harus turun ke lapangan," kata Pak Ouyen.

Hehehe.... Omongan khas Pak Ouyen ini sebetulnya guyon tapi 100 persen benar. Di zaman internet ini banyak wartawan yang lebih suka "bekerja cerdas" daripada bekerja keras. Kerja cerdas itu maksudnya santai, murah, tapi dapat berita bagus.

Buat apa capek-capek ke kawasan Kelud, sementara kita bisa menelepon pejabat, PMI, BPBD, atau Dandim dari Surabaya? Cukup BBM saja bisa. Minta dikirimi foto. Lalu bikin berita tujuh atau delapan alinea dan... selesai. Sambil ngopi di warung di Surabaya atau Sidoarjo.

Karena itu, celetukan Pak Ouyen saya anggap sangat penting bagi reporter media apa saja. Bahwa turun ke lapangan itu penting. Harus menjumpai sumber pertama. Lihat sendiri kondisi pengungsi seperti apa.

Rabu pagi, 19 Februari 2014, kami bertolak ke Kediri. Saya bersama Mas Anto, sopir mobil boks. Rombongan dilepas Pak Alim Markus, bos Maspion Group yang juga pimpinan pengusaha Tionghoa di Jawa Timur.

Hampir 20 wartawan memotret dan mewawancarai Alim Markus di depan kantor bersama pengurus Perpit Jatim. Plus nyeting foto Pak Alim Markus dan pengusaha ramai-ramai memasukkan barang ke atas mobil. Padahal barang-barang itu tadinya sudah ada di dalam mobil. Hehehe....

"Ayo, mas-mas wartawan silakan masuk ke mobil itu. Kita sudah sediakan," kata Pak Ouyen. Ternyata sebagian besar bilang tidak ikut ke Kediri karena berbagai alasan.

Saya pun sempat tergoda untuk tidak ikut karena capek. Dan harus masuk kantor petang hari. Tapi saya selalu ingat kata-kata Pak Ouyen yang sering saya ajak diskusi masalah Tionghoa di Kembang Jepun. Bahwa wartawan harus lihat langsung, turun ke lapangan.

"Berita kalian tidak akan akurat kalau tidak meliput di lapangan," katanya. Pernyataan ini sering diulang dalam berbagai kesempatan. Dan 100 persen akurat!

Oke, saya ikut! Ternyata hanya lima wartawan yang ikut blusukan ke Kediri. Dua koran Tionghoa Surabaya (Guoji Ribao dan Jiantao Ribao), dua TVRI Surabaya, dan saya yang di mobil boks. Waduh, keengganan banyak wartawan turun langsung ke kawasan Kelud ini bakal jadi bahan rasan-rasan Pak Ouyen dan kawan-kawan! 

Sampai di Kediri terasa sekali dampak letusan Kelud. Jalanan sudah bersih meski abu vulkanik masih tebal di beberapa kawasan. Rombongan kami tiba di Lapangan Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, dengan cukup cepat. Maklum, dikawal polisi dari Surabaya.

Di kawasan itu ada sekitar 4000 pengungsi yang tinggal di enam lokasi penampungan. Paling banyak dari Desa Besowo, kemudian Kebonrejo, Kampungbaru, dan Puncu.

Lantas, di mana pengungsinya yang katanya ribuan orang itu? Kok hanya sedikit? 

Ternyata, menurut Pak Sutikno, sekdes Brumbung, sebagian kembali ke kampung halaman untuk bersih-bersih rumah. Sebab mereka percaya Gunung Kelud sudah jinak.

"Sorenya mereka turun dan tinggal di pengungsian. Selain masih berbahaya, rumah mereka rusak gara-gara abu, pasir, dan batu Kelud," kata Pak Sutikno yang juga pejabat sementara kades.

Setelah Pak Ridwan Harjono, ketua rombongan pengusaha, berkoordinasi dengan PMI di lapangan desa Brumbung, bantuan dari Surabaya pun dibongkar. Beras, mi, sabun, camilan, dan perlengkapan untuk pengungsi.

"Ini baru tahap pertama, sekaligus survei lapangan. Nanti akan menyusul setelah memastikan apa yang dibutuhkan oleh pengungsi," kata laopan (bos) besar di Surabaya ini. Total bantuan yang disiapkan sekitar Rp 2 miliar.

Cuaca agak mendung saat itu. Kami masih mengantar bantuan sisanya ke posko BNPB yang dikendalikan Dandim Kediri Letkol Inf Heriyadi. Orang Makassar dengan logat mirip Jusuf Kalla tapi namanya Jawa.

Pak Dandim ini orangnya asyik, tahu lapangan. Dia sangat menguasai data. "Total pengungsi awal erupsi 66.139 orang," kata Pak Dandim.

Paling parah di Kecamatan Puncu karena paling dekat dengan kawah Gunung Kelud. Sekitar 8000 orang masih ngungsi di sejumlah titik. Letkol Heriyadi dengan bangga menceritakan kepada pengusaha Tionghoa tentang gerak cepat tim gabungan saat evakuasi.

Bayangkan, mereka hanya punya waktu kurang dua jam untuk evakuasi setelah Kelud dinyatakan awas alias erupsi. Tapi skenario berjalan mulus. "Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa," katanya.

Pak Dandim juga cerita pasukan gabungan bersama warga dan sukarelawan berhasil membersihkan abu vulkanik dari jalan raya hanya dalam waktu tiga hari. Lalu Pak Ridwan dan pengusaha lain ngobrol santai, diselingi humor segar, masih tentang Kelud. Khususnya tentang pasir kelud yang kualitasnya luar biasa.

"Pasir di Sidoarjo itu kalah jauh," kata Pak Dandim. Sebab, pasir Kelud ini sangat kuat ketika dicampur semen. Tidak membutuhkan semen yang banyak tapi lebih kuat.

Sementara itu, Pak Anto memasukkan mobil boks untuk menurunkan bantuan. Sherly Yunita, sekretariat Perpit yang asli Toraja, melaporkan data ke BPBD untuk dicatat. Lalu bantuan diturunkan.

Eh, sambil ngobrol sama Pak Dandim, Sherly memanggil nama saya. "Rek, Rek, kamu ikut Pak Anto duluan ke Surabaya aja. Katanya masuk kantor sore," ujarnya.

Saya masih ingat kata-kata Pak Dandim bahwa yang paling dibutuhkan pengungsi adalah bahan bangunan. Rekonstruksi memerlukan biaya banyak karena besarnya skala kerusakan. "Saya taksir perlu 8 juta genting," katanya.

Apa boleh buat, saya tak bisa ikut wisata kuliner bersama Pak Ouyen dan kawan-kawan seperti biasanya. Tapi paling tidak saya bisa "jaim" di depan Mr Liem dan pengusaha Tionghoa bahwa saya termasuk orang yang mau "bekerja keras", bukan hanya "bekerja cerdas", blusukan dan berkeringat di lapangan. Hehehe....

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network


No comments:

Post a Comment