23 February 2014

Tragedi Hilangnya Fakultas Pertanian

Beritanya kecil saja di koran minggu lalu. Tapi bikin ngenes. Khususnya bagi orang kampung yang biasa mengenal sawah, ladang, hutan, aneka tanaman. Berita itu intinya: fakultas dan jurusan pertanian tak diminati.

Dalam 20 tahun terakhir kampus-kampus yang punya jurusan atau fakultas pertanian terpaksa menyesuaikan diri. Ada yang tutup sama sekali. Ada yang bikin mereka baru: agrobisnis!

Yah, pasar pendidikan memang punya logika dan selera sendiri. Kalau memang tidak diminati, tak ada mahasiswanya, buat apa dipertahankan. Bikinlah kampus yang laku di pasar!

Yah, hari gini siapa sih anak muda yang mau jadi petani? Bergelut dengan keringat di sawah? Dengan hasil yang tidak pasti. Dengan kehidupan yang sederhana, bahkan mendekati primitif?

Orang muda Indonesia, di negara yang katanya agraris ini, lebih suka jadi artis. Selebriti. Pesohor macam Mulan Kwok alias Mulan Jameela yang sekali nyanyi nilainya melebihi penghasilan petani dua tiga tahun. Atau jadi penari latar oplosan yang selalu tampil cantik dan wangi.
Isu kolapsnya fakultas pertanian atau di masa lalu SPMA (sekolah pertanian menengah atas) bukan barang baru. Tapi perlu diangkat terus agar pemerintah atau pengambil keputusan negeri ini tidak terlena.

Silakan engkau pergi ke pasar buah. Lihatlah buah-buahan bagus pasti dari luar negeri, khususnya Thailand dan Tiongkok. Apel malang sudah lama tergusur karena kecut dan tidak ada pengembangan. Duren yang di pinggir jalan itu tidak bisa dinikmati. Beda dengan duren bangkok yang... wuih, bikin ngiler.

Minggu lalu juga ada diskusi soal konversi lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo. Daerah ini paling berkembang dibandingkan kota lain di Jawa Timur karena letaknya berbatasan dengan Surabaya. Penduduknya sudah 2,5 juta jiwa.

Maka, lahan pertanian dan tambak pun hilang secara signifikan. Dibikin perumahan, kantor, gudang, ruko, dan sebagainya. Anda yang 10 tahun tidak ke Sidoarjo pasti pangling melihat sawah-sawah di Kwangsan hingga Prasung sudah jadi kota baru dengan perumahan dan pergudangan yang luas.

Di Prambon yang dulu dipenuhi tebu di pinggir jalan pun kini diganti hutan perumahan, toko, dan sebagainya. Makin sulit kita menemukan orang yang asyik bekerja di sawah seperti zaman dulu.

Seorang teman saya dapat warisan sawah yang luas di kawasan Sekardangan, lingkar timur Sidoarjo. Dulu dia biasa mengajak kami dari Surabaya ramai-ramai panen semangka dan garbis di kebunnya. Makan sampai kenyang, lalu membawa pulang berapa pun yang diinginkan.

Belum lama ini saya melintas di sana. Mana sawah yang luas itu? 

Yah, sudah berubah 360 derajat. Sawah tak ada lagi jejaknya. Lahan subur itu sudah jadi perumahan yang padat. Hampir tak ada ruang (space) untuk menikmati keindahan alam.

Sang teman rupanya sudah bosan jadi petani sambil membaca buku setelah membina rumah tangga. Juga bosan jadi tuan tanah. Tanah warisan leluhur itu dijual dan beliau rupanya lebih senang jadi karyawan biasa.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment