15 February 2014

Dilema Bu Risma

Bu Risma rupanya kurang happy dengan Wisnu SB, wakil wali kota Surabaya. Dan itu cerita lama. Itu juga yang membuat Risma, wali kota Surabaya, tidak datang saat pelantikan Wisnu.

Alasan resminya: sakit! Tapi siapa pun tahu psikologi bu wali kota Tri Rismaharini itu. Lalu muncul rumor bahwa Risma mau mundur. Wow, wanita yang disebut-sebut wali kota terbaik ini mundur?

Sudah lama memang terjadi masalah antara kepala daerah dan wakilnya. Di Surabaya malah sudah muncul sebelum Wisnu dilantik. Sebab Risma merasa tidak sreg. Ingin orang lain.

Bukankah dulu Wisnu ikut dalam barisan yang ingin melengserkan Risma? Bagaimana bisa bekerja sama dengan politikus yang rekam jejaknya seperti itu?

Tapi Bu Risma pun semestinya sadar bahwa kursi wali kota itu jabatan politik. Risma jadi wali kota Surabaya karena diusung PDI Perjuangan. Dan Wisnu ketua PDIP Surabaya.

Bukan itu saja. Wisnu itu putra almarhum Sutjipto, tokoh yang berani melawan represi rezim Orde Baru terhadap PDI Pro Megawati pada pengujung 1990an. Tanpa dukungan PDIP, tak mungkinlah Risma jadi wali kota dan kemudian jadi pemimpin yang kualitasnya diakui di Indonesia.

Risma itu teknokrat, birokrat tulen. Tak pernah aktif di politik. Ketika menjadi wali kota, seharusnya dia sadar bahwa dunia politik itu ada logika sendiri. Logika yang berbeda dengan teknokrat yang semata-mata bekerja tanpa menimbang konstelasi politik.

Inilah contoh dilema seorang teknokrat yang menduduki jabatan politik. Kita membutuhkan Risma, karena itu, beliau jangan sampai mundur. Tapi di pihak lain Risma pun membutuhkan partai dan dukungan parlemen.
Akan lebih afdal bila partai-partai punya tokoh sehebat Risma sehingga tidak perlu mengusung orang luar sebagai kepala daerah.

Kasus Risma-Wisnu di Surabaya ini hendaknya bisa diambil hikmahnya oleh semua partai politik di Indonesia ketika menghadapi pemilukada.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment: