15 February 2014

Capgomeh Dihiasi Hujan Abu Kelud

Hujan abu Gunung Kelud memang luar biasa. Menyebar hingga ratusan kilometer dari lubang gunungnya di Kediri. Maka, 14 Februari 2014 menjadi hari yang malang justru bersamaan dengan perayaan Capgomeh dan Valentine's Day.

Saya mampir ke rumah Tante Tok di pecinan Sidoarjo. Wow, sore itu tante yang ramah ini lagi menyiapkan lontong capgomeh. Makanan khas perayaan hari ke-15 bulan pertama Imlek alias Capgomeh.

"Makan lontong capgomeh ya?" Tante Tok mengajak dengan keramahan khasnya.

Oh ya, tentu saya mau karena momen ini sangat langka. Setahun sekali. Kalau sekadar cari lontong capgomeh si banyak. Tapi lontong capgomeh khusus untuk perayaan hari besar Tionghoa yang ditandai pesta lampion jelas langka.

Wow, enak lontong + opor ayam masakan tante yang juga guru bahasa Tionghoa itu. Minumnya teh tawar khas Tiongkok. Lumayan bisa merasakan suasana Capgomeh di rumah orang Tionghoa Sidoarjo.

"Capgomeh itu acara keluarga yang sederhana. Kumpul bareng, makan bareng lontong capgomeh, cerita-cerita," katanya.

Yah, apa lagi kalau cerita soal Kelud yang meletus. Soal antisipasi yang kurang. Kita kelabakan karena tiba-tiba debu beterbangan, sementara kita tidak punya masker. Stok masker habis.

Mudah-mudahan erupsi Kelud cepat selesai. Kita yang di Surabaya dan Sidoarjo saja kelabakan dengan abu vulkanik. Saya tidak bisa membayangkan di Kediri dan tempat-tempat yang dekat dengan Gunung Kelud.

Salam Capgomeh!

Happy Valentine's Day!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Enak Bung Hurek bisa merayakan Capgomeh dirumahnya Cik Tok sambil makan bareng. Saya sebaliknya justru selalu melarikan diri dari Tiongkok diwaktu Sincia sampai Capgomeh, sebab saya tidak kuat mendengarkan ledakan2 mercon di-masa2 itu. Mercon Cina panjangnya masya-allah, dan ledakan terachir seperti bunyi bom. Selama 15 hari itu, orang2 cina saling pay-cia kerumah famili dan kerabat. Begitu sampai didepan pintu, si-tamu lalu menyulut mercon, entah mungkin maksudnya, yang datang ini bukan setan, melainkan kerabat.
    Karena tetangga2 saya adalah Cina2 yang kaya, maka para tamunya menyulut mercon yang panjang2 dan besar, harganya bisa sampai 500 Renminbi. Ada juga yang menyulut kembang api dengan tabung peluncur yang banyak sekali, seperti Stalin-Orgel, peluncur roket ala Rusia. Biasalah orang cina suka gengsi. Kegaduhan itu berselang selama 15 hari, mulai pukul 8 pagi sampai malam buta jam 2 pagi, terus menerus tanpa hentinya.
    Kebiasaan makan bareng di Tiongkok memang sudah tradisi, mereka bilang kalau tidak makan ramai2, rasanya kurang marem.
    Dikota saya mayoritasnya adalah penduduk etnis Khek. Dulu di Indonesia, kita etnis hokkian selalu beranggapan; khek-lang mari nyekek ngilang. Kenyataannya di Tiongkok teman2 saya semuanya orang2 khek, bahkan babu- dan sopir-saya juga orang khek. Saya bilang kepada abang-saya, lho mereka juga banyak yang baik koq. Jawab abang-ku; mereka baik terhadap lu, bukan berarti baik terhadap setiap orang. Oh, jadi sifat manusia diatas bumi semuanya sama. Pilih-pilih bekol, istilah Bali-nya.
    Saya sering sekali diundang makan bareng oleh teman2 di-Tiongkok, karena keseringan, terpaksa harus mencari alasan untuk menolak secara halus. Tidak bisa mengundang balik, hanya membalas dengan angpao atau kalung untuk cucu2 mereka, sebab babu-ku bisanya cuma masak babi kecap, dengan kaki babi atau daging sam-cam. Belasan tahun kami selalu dimasaki babi kecap, cah-kangkung atau -taoge, kadang2 juga ba-kut goreng. Apa boleh buat, yang penting ada lombok dan kecap manis cap bangau atau cap sedaap. Masakan khek
    bagi selera saya kurang marem, kalau di Chuan-chiu barulah makanannya enak, seperti masakan Tionghoa dipulau Jawa.
    Cik Tok masak lontong Capgomeh koq pakai opor ? Kalau dulu saya makan di Indonesia pakai kare-ayam, sambel goreng rempela dan markisa, serundeng dll.

    ReplyDelete