28 February 2014

Bupati Lembata Dipecat - Preseden Buruk!

Bupati Sunur bersama istri dan anak.

Kisruh politik terjadi di Lembata, kabupaten pemekaran Flores Timur. Kemarin Bupati Lembata Yentji Sunur dilengserkan oleh DPRD setempat. Mayoritas mutlak anggota dewan menganggap Yentji tidak cakap dan tidak pantas menjadi bupati.

Seperti dimuat Kompas, Sunur disebut punya banyak dosa politik. Selain tidak kompeten, bupati yang dulu berdomisili di Bogor dan Jakarta ini lebih suka blusukan di Jakarta daripada Lembata. Dalam setahun dia hanya tiga bulan di wilayahnya.

Kebijakan-kebijakan lain juga dikecam. Kemudian ada kasus pembunuhan di Lembata yang masih misterius. Polisi rupanya enggan mengusut tuntas. Dan banyak lagi kelemahan sang bupati dari PDI Perjuangan itu.

Orang Lembata, baik yang di Lembata, NTT, maupun luar NTT, sebetulnya sudah lama menduga akan terjadi krisis politik macam ini. Belum lagi isu ketidakcocokan dengan Wakil Bupati Viktor Mado Watun. Tapi biasanya kita hanya menduga bahwa Bupati Sunur akan dipertahankan sampai selesai masa baktinya.

Menurunkan bupati di tengah jalan menjadi preseden sangat buruk. Apalagi di kabupaten baru macam Lembata. Apalagi di wilayah yang kecil, hanya satu pulau dengan penduduk kurang dari 300 ribu. Sangat kontra produktif!

Kapan waktunya untuk memikirkan pembangunan? Mengurus jalan raya yang 20 tahun terakhir dibiarkan telantar? Mengurus penduduk, khususnya laki-laki yang sebagian besar memilih merantau ke Malaysia Timur?

Tapi begitulah, nasi sudah jadi bubur! Bupati Sunur rupanya gagal mengemban amanah rakyat yang telah memilihnya dalam pilkada dua putaran itu.

Kasus Bupati Sunur ini juga bisa menjadi preseden buruk bagi orang Lembata di luar NTT, khususnya Jawa, yang ingin mengabdi di kampung halaman lewat jalur politik. Sudah lama ada semacam rasan-rasan bahwa orang Lembata (NTT umumnya) yang lama berdomisili di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya, akan sulit melakukan re-adaptasi dengan kehidupan di Lembata.

Dan rupanya asumsi itu beroleh pembenaran dengan kasus Bupati Sunur ini. Sebab, Pak Sunur ini meski orang tua dan leluhurnya peranakan Tionghoa Lembata, lebih lama tinggal di Jakarta. Dia baru balik kampung ketika ada pilkada dan kebetulan saja menang.

Kalau Bupati Sunur lengser, otomatis Wakil Bupati Viktor Mado naik jadi bupati. Pak Mado juga asli Ile Ape, Desa Atawatung, tapi lebih lama tinggal di Kupang. Dia pun balik kampung setelah jadi wabup. Pak Mado pun punya hobi traveling ke Kupang atau kota besar.

Mudah-mudahan Pak Mado bisa memetik pelajaran dari Bupati Sunur yang dipecat oleh wakil rakyat. Pak Mado dan Pak Sunur harus ingat bahwa orang-orang Lembata di luar NTT memantau dengan cermat semua perkembangan yang terjadi di kampung halaman.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment