28 February 2014

Bupati Lembata Dipecat - Preseden Buruk!

Bupati Sunur bersama istri dan anak.

Kisruh politik terjadi di Lembata, kabupaten pemekaran Flores Timur. Kemarin Bupati Lembata Yentji Sunur dilengserkan oleh DPRD setempat. Mayoritas mutlak anggota dewan menganggap Yentji tidak cakap dan tidak pantas menjadi bupati.

Seperti dimuat Kompas, Sunur disebut punya banyak dosa politik. Selain tidak kompeten, bupati yang dulu berdomisili di Bogor dan Jakarta ini lebih suka blusukan di Jakarta daripada Lembata. Dalam setahun dia hanya tiga bulan di wilayahnya.

Kebijakan-kebijakan lain juga dikecam. Kemudian ada kasus pembunuhan di Lembata yang masih misterius. Polisi rupanya enggan mengusut tuntas. Dan banyak lagi kelemahan sang bupati dari PDI Perjuangan itu.

Orang Lembata, baik yang di Lembata, NTT, maupun luar NTT, sebetulnya sudah lama menduga akan terjadi krisis politik macam ini. Belum lagi isu ketidakcocokan dengan Wakil Bupati Viktor Mado Watun. Tapi biasanya kita hanya menduga bahwa Bupati Sunur akan dipertahankan sampai selesai masa baktinya.

Menurunkan bupati di tengah jalan menjadi preseden sangat buruk. Apalagi di kabupaten baru macam Lembata. Apalagi di wilayah yang kecil, hanya satu pulau dengan penduduk kurang dari 300 ribu. Sangat kontra produktif!

Kapan waktunya untuk memikirkan pembangunan? Mengurus jalan raya yang 20 tahun terakhir dibiarkan telantar? Mengurus penduduk, khususnya laki-laki yang sebagian besar memilih merantau ke Malaysia Timur?

Tapi begitulah, nasi sudah jadi bubur! Bupati Sunur rupanya gagal mengemban amanah rakyat yang telah memilihnya dalam pilkada dua putaran itu.

Kasus Bupati Sunur ini juga bisa menjadi preseden buruk bagi orang Lembata di luar NTT, khususnya Jawa, yang ingin mengabdi di kampung halaman lewat jalur politik. Sudah lama ada semacam rasan-rasan bahwa orang Lembata (NTT umumnya) yang lama berdomisili di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya, akan sulit melakukan re-adaptasi dengan kehidupan di Lembata.

Dan rupanya asumsi itu beroleh pembenaran dengan kasus Bupati Sunur ini. Sebab, Pak Sunur ini meski orang tua dan leluhurnya peranakan Tionghoa Lembata, lebih lama tinggal di Jakarta. Dia baru balik kampung ketika ada pilkada dan kebetulan saja menang.

Kalau Bupati Sunur lengser, otomatis Wakil Bupati Viktor Mado naik jadi bupati. Pak Mado juga asli Ile Ape, Desa Atawatung, tapi lebih lama tinggal di Kupang. Dia pun balik kampung setelah jadi wabup. Pak Mado pun punya hobi traveling ke Kupang atau kota besar.

Mudah-mudahan Pak Mado bisa memetik pelajaran dari Bupati Sunur yang dipecat oleh wakil rakyat. Pak Mado dan Pak Sunur harus ingat bahwa orang-orang Lembata di luar NTT memantau dengan cermat semua perkembangan yang terjadi di kampung halaman.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

26 February 2014

Pensiunan Tak Perlu Pangkat

Polisi dan tentara yang sudah pensiun kembali jadi rakyat biasa. Pangkat, gelar, mulai kopal hingga jenderal tinggal sejarah. Dia jadi sama dengan warga lain yang petani, pedagang, dan sebagainya.

Anehnya, dari dulu di Indonesia ini gelar atau pangkat tentara atau polisi selalu dibawa-bawa meskipun sudah purnawirawan. Mungkin bukan salah mereka. Tapi salahnya wartawan yang menulis berita.

Di Kompas 24 Februari 2014 ada berita berjudul Istri Brigjen Polisi (Purn) MS Diperiksa. Ini berita soal penganiayaan pembantu rumah tangga di Bogor.

Lah, mengapa tidak ditulis nama lengkapnya? MS itu siapa? Mengapa orang Hongkong yang menganiaya PRT Indonesia ditulis nama lengkapnya?

Lalu, mengapa harus pakai gelar brigjen polisi (purn)? Setahu saya gelar atau pangkat kepolisian atau militer hanya efektif ketika yang bersangkutan masih aktif. Setelah pensiun ya selesai.

Sebagai pelengkap informasi, baru disebutkan bahwa MS ini pensiunan polisi dengan pangkat terakhir brigadir jenderal. Tak perlu embel-embel jenderal dipasang di depan nama orang yang sudah pensiun.

Analogi yang sama berlaku untuk Prabowo Subianto atau SBY. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak perlu ditulis Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Ketua dewan pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Tak perlu ditulis Jenderal (Purn) Prabowo Subianto.

Saya berpendapat media massa, khususnya media utama macam Kompas, harus berada di garda terdepan dalam merawat bahasa Indonesia yang baik. Bukan malah menelan mentah-mentah jargon dan military minded ala beberapa ormas berbaju doreng.

Okelah, wartawan mungkin ingin menunjukkan kepada mayarakat bahwa ada pensiunan brigjen yang tindakannya tidak manusiawi. Tapi bukankah kejahatan itu bisa dilakukan siapa saja?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Lakon Warung Pangku Wartawan Gresik

Credit foto: http://gresikterkini.blogspot.com/

Ini cuma lakon, pertunjukan singkat buat hiburan, Senin malam 24 Februari 2014, di Surabaya. Tapi sangat menarik dan menggelitik. Ceritanya tentang fenomena warung pangku di Kabupaten Gresik. Yang main ya teman-teman wartawan yang bertugas di Gresik.

Di beberapa tempat ada warung kopi yang menyediakan pelayan-pelayan cakep dan bahenol. Mereka tidak hanya melayani kopi pesanan tamu, tapi juga bisa dipangku. Ada harganya tentu saja. Kalau kopi thok Rp 2000-3000, tapi kalau bonus pangku ya Rp 50 ribu.

Kalau lebih dari pangku? Wah, belum tahu. Perlu dicek dulu ke Gresik.

Ludruk ala OVJ itu dimulai dengan penugasan kepada seorang wartawan muda untuk investigasi warung pangku. Malam-malam dia pamit istrinya karena harus melaksanakan tugas jurnalistik.

Tiba di lokasi si Bondet, wartawan itu, pesan kopi. Lalu didatangi si germo. "Kok sendirian? Di sini anda bisa ditemani cewek cantik," katanya.

Si bondet akhirnya naksir janda cakep berambut pirang (cat). Mereka pun asyik ngobol ngalor ngidul. Lama-lama dia merasa cocok. "Berapa dik?"

"Gak mau sama wartawan. Nanti gak mbayar. Wartawan-wartawan itu kan dari dulu sukanya yang gratisan!" kata si cewek disambut tawa penonton.

"Ah, kamu wartawan ya!" Giliran germo yang khawatir bisnis warung pangkunya dimuat koran, kemudian digerebek satpol PP.

"Tenang bos," kata wartawan. "Kita kan teman. Gak usah khawatir. Yang penting yang itu jadi milikku."

"Siap! Gampang bos!" kata germo.

Sejak itu si Bondet betah berlama-lama di warung pangku. Asyik memangku si janda kembang dan lupa tugasnya sebagai reporter yang harus membuat laporan investigasi. Juga lupa sama istri dan anaknya di rumah.

"Mana tulisan tentang warung pangku?" tanya redaktur.

"Belum ada. Investigasinya sulit karena rupanya mereka tahu kalau saya wartawan. Makanya setiap kali saya ke sana enggak ada yang pangku-pangkuan," kata si Bondet.

Akhinya, suatu ketika rombongan satpol PP datang menggerebek warung pangku itu. Si wartawan tertangkap basah sedang pangku-pangkuan mesra dengan gendakannya, si janda pirang.

Apesnya lagi, istri si wartawan ikut menyaksikan penggerebekan itu. Si wartawan pun tak berkutik. Dia digelandang bersama wanita penghibur itu.

Pertunjukan selesai.

Karena itulah, menurut sutradara Mas Aris, wartawan senior di Gresik, fenomena warung pangku tidak bisa diberantas di Gresik. Banyak oknum yang terlibat, mulai aparat keamanan, wartawan, hingga pengurus desa/kelurahan.

"Lakon itu based on true story. Saya tidak mengada-ada lho," kata sang sutradara.

Hidup warung pangku!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

24 February 2014

Lagi, Orang Flores Jadi Uskup Bogor



Akhir pekan lalu, 22 Februari 2014, Monsinyur Paskalis Bruno Syukur OFM ditahbiskan sebagai uskup Bogor. Deo gratias! Proficiat!

Uskup adalah pemimpin tertinggi umat Katolik di wilayah keuskupan. Uskup langsung bertanggung jawab ke Vatikan. Paus Fransiskus menunjuk Paskalis Bruno Syukur menggantikan Mgr Michael Angkur OFM yang pensiun.

Yang menarik, baik uskup Bogor yang baru ditahbiskan dan uskup emeritus yang digantikan sama-sama orang Flores. Bahkan sama-sama dari Manggarai di Flores bagian barat. Kok bisa begitu?

Yah, cuma kebetulan saja. Atau istilah katoliknya: providentia Deo! Penyelenggaraan Tuhan. Pihak Vatikan tentu punya pertimbangan sendiri, jauh melampaui pertimbangan asal usul daerah.

Bisa jadi pula karena wilayah Bogor dan sekitarnya (Serang, Banten, Cianjur, Bojonegara) sejak dulu digembalakan oleh imam-imam Fransiskan atau OFM. Dan, ketika Mgr Angkur menjadi uskup Bogor sejak 1980an, banyak panggilan imamat yang datang dari Flores.

Anak-anak muda asal Flores barat pun akhirnya tertarik mengikuti jejak Santo Fransiskus dengan bergabung ke kongregasi OFM. Dus, bapa uskup Angkur menjadi driver panggilan.

Itu sebabnya, banyak sekali orang Manggarai yang jadi romo OFM. Dan, itu juga sebabnya mereka bertugas di Keuskupan Bogor. Dan, ketika uskup lama pensiun, calon terkuat ya orang Manggarai juga.

Salut untuk kraeng-kraeng dari Manggarai!

Inilah bedanya Flores Barat dan Flores Timur. Kami yang di Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, Alor tidak mengenal kongregasi lain selain SVD. Imam-imam OFM tidak ada. Sekarang SVD sangat kurang karena Keuskupan Larantuka didominasi imam-imam praja atau diosesan.

Sebagai umat Keuskupan Surabaya, yang berasal dari Keuskupan Larantuka, terpilihnya Mgr Bruno Syukur OFM sebagai uskup Bogor ini sangat menarik. Mengapa? Ini seperti melawan tren yang ada di Gereja Katolik dalam beberapa dekade terakhir.

Sebab, saat ini kebanyakan uskup berlatar belakang imam praja. Sebut saja Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo atau Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono. Uskup Larantuka pun sudah lama dijabat imam praja, yakni Mgr Frans Kopong Kung.

Lantas, bagaimana dengan imam-imam praja di Bogor? Saya kira inilah salah satu tugas Mgr Bruno Syukur OFM untuk mematangkan romo-romo diosesan di Keuskupan Bogor.

Akhirnya, selamat kepada monsinyur yang baru! Selamat melayani umat!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

23 February 2014

Arzetty caleg paling cakep di Sidoarjo



Kalau melintas di Surabaya ke Sidoarjo, kita melihat begitu banyak poster kampanye di pinggir jalan. Tapi yang cakep, menurut saya, ada dua. Mbak Arie dari Nasdem dan Mbak Arsetty dari PKB.

Arzetty paling menonjol, selain karena posternya banyak, juga memang dikenal luas di dunia hiburan tanah air. Arzetty Bilbina itu model paling top beberapa tahun lalu. Model yang jadi langganan para pengusaha gaun pengantin di Surabaya.

Kini, setelah usianya terlalu matang untuk jadi model gaun pengantin, Arzetty banting setir ke politik. Jadi caleg Partai Kebangkitan Bangsa. Penampilan Mbak Zety pun berubah total. Kayak anggota Fatayat atau Muslimat.

Saya tidak tahu mengapa Arzetty dicalegkan dari Sidoarjo + Surabaya (Jawa Timur I) mengingat dia lebih kental darah Sumatera Barat. Atau, Jakarta karena dia merintis karier modelingnya sampai ngetop banget di Jakarta.

Tapi begitulah politik Indonesia. Caleg dipasang di mana saja, siapa tahu jadi. Apalagi Arzetty kan populer meskipun tidak sepopuler Dewi Pessik atau Julia Perez.

Berbeda dengan artis kebanyakan, saya menilai Arzetty ini punya intelektualitas di atas rata-rata. Itu saya ketahui ketika meliput seminar khusus untuk para model di Surabaya. Saat itu Arzetty masih top model Indonesia.

Wow, cara mengajar, public speaking-nya, bagus banget. Tahu betul apa yang diajarkan. Sejak itulah saya jadi paham dunia modeling serta seluk-beluk fashion show. Sejak itu pula Arzetty selalu jadi teman wartawan peliput fashion show di Surabaya.

Menyaksikan Arzetty di atas catwalk, biasanya di Hotel Shangri-La Surabaya, ibarat menyaksikan bidadari dari kayangan. Biasanya dia ditemani artis yang tengah naik daun seperti Ari Wibowo. Kita bisa menikmati keindahan rancangan para desainer.

Kini, Arzetty bergeser dari panggung fashion show ke panggung politik. Dunia yang benar-benar baru baginya. Akankah caleg tercantik di Sidoarjo ini mampu menyihir masyarakat untuk memilih dirinya?

Kita lihat saja.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Dokter jadi caleg di Sidoarjo



Pak Dokter itu kan sudah wareg (kenyang). Mengapa harus jadi caleg? Apa yang dia cari dengan menjadi anggota dewan? Begitu kira-kira gumunan orang di warung kopi di Sidoarjo.

Memangnya yang boleh maju jadi caleg hanya orang-orang lapar? Wah, bisa makan duit rakyat tiap hari. Korupsi, meras sana meras sini. Komentar warga lain.

Ah, andaikan semua anggota dewan itu orang-orang yang sudah wareg! Tapi mana ada batas kenyang? Ketika ketamakan dan nafsu makan makin dirayakan.

Yah, ada beberapa dokter yang maju caleg di daerah pemilihan Sidoarjo. Pak dr Wijono maju DPRD Sidoarjo lewat PDI Perjuangan. Pak dokter ini sudah makmur sejahtera. Punya sekolah, klinik, pasien banyak, dan sebagainya. Anaknya pun dokter.

Ada juga dr Benjamin Kristianto yang maju lewat Gerindra. Dokter yang masih muda ini punya klinik di daerah Sedati, dekat Bandara Juanda. Dokter Benjamin juga aktif melayani pasien lewat bakti sosial di Sidoarjo dan Surabaya.

Lalu, apa yang dicari Pak Dokter? Bukankah jadi wakil rakyat justru membuat praktik melayani pasien tidak bisa optimal? Bahkan tidak bisa praktik lagi?

Manusia tidak hanya hidup dari roti! Begitu kata dr Benjamin yang memang sangat menguasai ayat-ayat kitab suci. Ada idealisme yang diperjuangkan. Paling tidak di bidang legislasi.

Suka tidak suka, katanya, politik itu sangat menentukan kehidupan masyarakat. Karena itu, partai politik harus diperkuat oleh orang-orang yang well educated dan punya idealisme. Bukan orang yang nganggur lalu jadi caleg, siapa tahu bisa jadi wakil rakyat.

"Saya merasa perlu nyaleg karena ada banyak hal yang belum beres," katanya bersemangat.

Lalu dengan senyum khasnya dia menambahkan, "Tolong dibantulah. Soalnya saya lagi blusukan ke berbagai wilayah di Sidoarjo, bikin baksos kesehatan."

Ada juga dr Rudi yang maju lewat Nasdem. Dia punya tiga atau empat klinik kesehatan di Sidoarjo. Tapi naluri politiknya lebih kuat sehingga orang lebih kenal dia sebagai politisi, bukan dokter.

Sempat gabung PDIP, Rudi pindah ke partainya Eros Djarot yang tidak lolos verifikasi. Sekarang saya lihat wajahnya di pinggir jalan pakai baju biru ala Nasdem. Nyaleg DPRD Jatim.

Dokter Rudi ini orangnya easy going. Beberapa kali gagal, tapi tidak putus asa. Maju lagi, siapa tahu gagal lagi eh... Berhasil! "Misi saya untuk pelayanan kepada masyarakat," katanya.

Bukankah pelayanan itu sudah dilakukan lewat klinik kesehatan?

Beliau ini ingin jalur yang lebih luas lagi. Tapi, kalau dipikir-pikir, sejak dulu para dokter di tanah air banyak yang terjun ke politik. Sebut saja dr Soetomo, dr Wahidin, dr Radjiman, dr Tjipto yang mewarnai pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Di negara tetangga ada dr Mahathir yang berhasil memajukan Malaysia. Siapa tahu dokter-dokter kita yang berpolitik ini pun memberi sumbangan nyata untuk kemakmuran bangsanya.

Jangan seperti dr Bagus yang sudah bertahun-tahun jadi buronan di Jawa Timur karena korupsi.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Ikut Pengusaha Tionghoa ke Kelud



Setiap kali ada bencana alam, para pengusaha Tionghoa di Surabaya dan Sidoarjo langsung bergerak. Dalam waktu singkat terkumpul bantuan untuk disalurkan ke korban bencana alam.

Begitu juga dengan letusan Gunung Kelud pada 13-14 Februari 2014. Erupsinya Kamis malam, Senin barang-barang bantuan sudah terkumpul di Kertajaya Indah Timur, Surabaya, markas Perhimpunan Pengusaha Tionghoa Indonesia.

Seperti biasa, saya diajak blusukan ke lokasi pengungsian oleh Pak Liem Ouyen dan Pak Chandra, yang juga bosnya barongsai Jatim. "Anda harus ikut biar tahu langsung kondisi lapangan. Biar informasinya akurat. Wartawan jangan cuma nelpon-nelpon aja, tapi harus turun ke lapangan," kata Pak Ouyen.

Hehehe.... Omongan khas Pak Ouyen ini sebetulnya guyon tapi 100 persen benar. Di zaman internet ini banyak wartawan yang lebih suka "bekerja cerdas" daripada bekerja keras. Kerja cerdas itu maksudnya santai, murah, tapi dapat berita bagus.

Buat apa capek-capek ke kawasan Kelud, sementara kita bisa menelepon pejabat, PMI, BPBD, atau Dandim dari Surabaya? Cukup BBM saja bisa. Minta dikirimi foto. Lalu bikin berita tujuh atau delapan alinea dan... selesai. Sambil ngopi di warung di Surabaya atau Sidoarjo.

Karena itu, celetukan Pak Ouyen saya anggap sangat penting bagi reporter media apa saja. Bahwa turun ke lapangan itu penting. Harus menjumpai sumber pertama. Lihat sendiri kondisi pengungsi seperti apa.

Rabu pagi, 19 Februari 2014, kami bertolak ke Kediri. Saya bersama Mas Anto, sopir mobil boks. Rombongan dilepas Pak Alim Markus, bos Maspion Group yang juga pimpinan pengusaha Tionghoa di Jawa Timur.

Hampir 20 wartawan memotret dan mewawancarai Alim Markus di depan kantor bersama pengurus Perpit Jatim. Plus nyeting foto Pak Alim Markus dan pengusaha ramai-ramai memasukkan barang ke atas mobil. Padahal barang-barang itu tadinya sudah ada di dalam mobil. Hehehe....

"Ayo, mas-mas wartawan silakan masuk ke mobil itu. Kita sudah sediakan," kata Pak Ouyen. Ternyata sebagian besar bilang tidak ikut ke Kediri karena berbagai alasan.

Saya pun sempat tergoda untuk tidak ikut karena capek. Dan harus masuk kantor petang hari. Tapi saya selalu ingat kata-kata Pak Ouyen yang sering saya ajak diskusi masalah Tionghoa di Kembang Jepun. Bahwa wartawan harus lihat langsung, turun ke lapangan.

"Berita kalian tidak akan akurat kalau tidak meliput di lapangan," katanya. Pernyataan ini sering diulang dalam berbagai kesempatan. Dan 100 persen akurat!

Oke, saya ikut! Ternyata hanya lima wartawan yang ikut blusukan ke Kediri. Dua koran Tionghoa Surabaya (Guoji Ribao dan Jiantao Ribao), dua TVRI Surabaya, dan saya yang di mobil boks. Waduh, keengganan banyak wartawan turun langsung ke kawasan Kelud ini bakal jadi bahan rasan-rasan Pak Ouyen dan kawan-kawan! 

Sampai di Kediri terasa sekali dampak letusan Kelud. Jalanan sudah bersih meski abu vulkanik masih tebal di beberapa kawasan. Rombongan kami tiba di Lapangan Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, dengan cukup cepat. Maklum, dikawal polisi dari Surabaya.

Di kawasan itu ada sekitar 4000 pengungsi yang tinggal di enam lokasi penampungan. Paling banyak dari Desa Besowo, kemudian Kebonrejo, Kampungbaru, dan Puncu.

Lantas, di mana pengungsinya yang katanya ribuan orang itu? Kok hanya sedikit? 

Ternyata, menurut Pak Sutikno, sekdes Brumbung, sebagian kembali ke kampung halaman untuk bersih-bersih rumah. Sebab mereka percaya Gunung Kelud sudah jinak.

"Sorenya mereka turun dan tinggal di pengungsian. Selain masih berbahaya, rumah mereka rusak gara-gara abu, pasir, dan batu Kelud," kata Pak Sutikno yang juga pejabat sementara kades.

Setelah Pak Ridwan Harjono, ketua rombongan pengusaha, berkoordinasi dengan PMI di lapangan desa Brumbung, bantuan dari Surabaya pun dibongkar. Beras, mi, sabun, camilan, dan perlengkapan untuk pengungsi.

"Ini baru tahap pertama, sekaligus survei lapangan. Nanti akan menyusul setelah memastikan apa yang dibutuhkan oleh pengungsi," kata laopan (bos) besar di Surabaya ini. Total bantuan yang disiapkan sekitar Rp 2 miliar.

Cuaca agak mendung saat itu. Kami masih mengantar bantuan sisanya ke posko BNPB yang dikendalikan Dandim Kediri Letkol Inf Heriyadi. Orang Makassar dengan logat mirip Jusuf Kalla tapi namanya Jawa.

Pak Dandim ini orangnya asyik, tahu lapangan. Dia sangat menguasai data. "Total pengungsi awal erupsi 66.139 orang," kata Pak Dandim.

Paling parah di Kecamatan Puncu karena paling dekat dengan kawah Gunung Kelud. Sekitar 8000 orang masih ngungsi di sejumlah titik. Letkol Heriyadi dengan bangga menceritakan kepada pengusaha Tionghoa tentang gerak cepat tim gabungan saat evakuasi.

Bayangkan, mereka hanya punya waktu kurang dua jam untuk evakuasi setelah Kelud dinyatakan awas alias erupsi. Tapi skenario berjalan mulus. "Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa," katanya.

Pak Dandim juga cerita pasukan gabungan bersama warga dan sukarelawan berhasil membersihkan abu vulkanik dari jalan raya hanya dalam waktu tiga hari. Lalu Pak Ridwan dan pengusaha lain ngobrol santai, diselingi humor segar, masih tentang Kelud. Khususnya tentang pasir kelud yang kualitasnya luar biasa.

"Pasir di Sidoarjo itu kalah jauh," kata Pak Dandim. Sebab, pasir Kelud ini sangat kuat ketika dicampur semen. Tidak membutuhkan semen yang banyak tapi lebih kuat.

Sementara itu, Pak Anto memasukkan mobil boks untuk menurunkan bantuan. Sherly Yunita, sekretariat Perpit yang asli Toraja, melaporkan data ke BPBD untuk dicatat. Lalu bantuan diturunkan.

Eh, sambil ngobrol sama Pak Dandim, Sherly memanggil nama saya. "Rek, Rek, kamu ikut Pak Anto duluan ke Surabaya aja. Katanya masuk kantor sore," ujarnya.

Saya masih ingat kata-kata Pak Dandim bahwa yang paling dibutuhkan pengungsi adalah bahan bangunan. Rekonstruksi memerlukan biaya banyak karena besarnya skala kerusakan. "Saya taksir perlu 8 juta genting," katanya.

Apa boleh buat, saya tak bisa ikut wisata kuliner bersama Pak Ouyen dan kawan-kawan seperti biasanya. Tapi paling tidak saya bisa "jaim" di depan Mr Liem dan pengusaha Tionghoa bahwa saya termasuk orang yang mau "bekerja keras", bukan hanya "bekerja cerdas", blusukan dan berkeringat di lapangan. Hehehe....

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network


Standup Comedy dan Wartawan Alay



Lucu dan tidak lucu itu relatif. Ada orang yang tertawa ngakak, terbahak-bahak, ketika melihat ludruk, tapi ada yang biasa saja. Ada yang bilang Soimah lucu atau Tukul lucu. Tapi saya sih biasa aja.

Mengukur kelucuan di zaman penuh rekayasa ini sangat sulit. Apalagi di televisi. Sebab, sebagian penonton di studio yang nonton lawakan itu dibayar untuk tertawa. Lucu tak lucu dia harus tertawa terpingkal-pingkal.

Belakangan ini banyak standup comedy di TV. Tapi rupanya saya makin sulit ketawa. Beberapa kali saya mencoba menyimak titik ledak atau lucunya tapi sulit ketemu. Apalagi kebanyakan adalah guyonan lawas.

Karena itu, saya selalu heran membaca ulasan wartawan Kompas tentang standup comedy di Kompas Minggu yang membahas lawakan di Kompas TV. Seakan-akan standup comedy di TV yang sama-sama satu manajemen itu begitu bagusnya. Kreatif, cerdas, dan tentunya lucu.

Saya pun terheran-heran dan kagum. Sebab saya malah tidak menemukan keasyikan menonton standup komedi di Kompas TV, Metro TV, dan sebagainya. Mungkin selera humor saya yang buruk.

Saya biasanya tertawa sendiri mendengar omongan Jaya Suprana atau Slamet Abdul Sjukur. Saya juga tertawa ngakak mendengar omongan tamunya Andy F Noya di Kick Andy meskipun mereka sama sekali tidak bermaksud melucu.

Tapi saya sangat memahami posisi penulis ulasan standup comedy di Kompas Minggu yang makan setengah halaman itu. Bagaimanapun juga dia harus menulis yang bagus-bagus, citra positif, agar warga ramai-ramai nonton standup comedy di Kompas TV.

Lantas, apa bedanya wartawan atau kolumnis dengan pemandu sorak bayaran alias alay di studio TV?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Tragedi Hilangnya Fakultas Pertanian

Beritanya kecil saja di koran minggu lalu. Tapi bikin ngenes. Khususnya bagi orang kampung yang biasa mengenal sawah, ladang, hutan, aneka tanaman. Berita itu intinya: fakultas dan jurusan pertanian tak diminati.

Dalam 20 tahun terakhir kampus-kampus yang punya jurusan atau fakultas pertanian terpaksa menyesuaikan diri. Ada yang tutup sama sekali. Ada yang bikin mereka baru: agrobisnis!

Yah, pasar pendidikan memang punya logika dan selera sendiri. Kalau memang tidak diminati, tak ada mahasiswanya, buat apa dipertahankan. Bikinlah kampus yang laku di pasar!

Yah, hari gini siapa sih anak muda yang mau jadi petani? Bergelut dengan keringat di sawah? Dengan hasil yang tidak pasti. Dengan kehidupan yang sederhana, bahkan mendekati primitif?

Orang muda Indonesia, di negara yang katanya agraris ini, lebih suka jadi artis. Selebriti. Pesohor macam Mulan Kwok alias Mulan Jameela yang sekali nyanyi nilainya melebihi penghasilan petani dua tiga tahun. Atau jadi penari latar oplosan yang selalu tampil cantik dan wangi.
Isu kolapsnya fakultas pertanian atau di masa lalu SPMA (sekolah pertanian menengah atas) bukan barang baru. Tapi perlu diangkat terus agar pemerintah atau pengambil keputusan negeri ini tidak terlena.

Silakan engkau pergi ke pasar buah. Lihatlah buah-buahan bagus pasti dari luar negeri, khususnya Thailand dan Tiongkok. Apel malang sudah lama tergusur karena kecut dan tidak ada pengembangan. Duren yang di pinggir jalan itu tidak bisa dinikmati. Beda dengan duren bangkok yang... wuih, bikin ngiler.

Minggu lalu juga ada diskusi soal konversi lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo. Daerah ini paling berkembang dibandingkan kota lain di Jawa Timur karena letaknya berbatasan dengan Surabaya. Penduduknya sudah 2,5 juta jiwa.

Maka, lahan pertanian dan tambak pun hilang secara signifikan. Dibikin perumahan, kantor, gudang, ruko, dan sebagainya. Anda yang 10 tahun tidak ke Sidoarjo pasti pangling melihat sawah-sawah di Kwangsan hingga Prasung sudah jadi kota baru dengan perumahan dan pergudangan yang luas.

Di Prambon yang dulu dipenuhi tebu di pinggir jalan pun kini diganti hutan perumahan, toko, dan sebagainya. Makin sulit kita menemukan orang yang asyik bekerja di sawah seperti zaman dulu.

Seorang teman saya dapat warisan sawah yang luas di kawasan Sekardangan, lingkar timur Sidoarjo. Dulu dia biasa mengajak kami dari Surabaya ramai-ramai panen semangka dan garbis di kebunnya. Makan sampai kenyang, lalu membawa pulang berapa pun yang diinginkan.

Belum lama ini saya melintas di sana. Mana sawah yang luas itu? 

Yah, sudah berubah 360 derajat. Sawah tak ada lagi jejaknya. Lahan subur itu sudah jadi perumahan yang padat. Hampir tak ada ruang (space) untuk menikmati keindahan alam.

Sang teman rupanya sudah bosan jadi petani sambil membaca buku setelah membina rumah tangga. Juga bosan jadi tuan tanah. Tanah warisan leluhur itu dijual dan beliau rupanya lebih senang jadi karyawan biasa.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

15 February 2014

Dilema Bu Risma

Bu Risma rupanya kurang happy dengan Wisnu SB, wakil wali kota Surabaya. Dan itu cerita lama. Itu juga yang membuat Risma, wali kota Surabaya, tidak datang saat pelantikan Wisnu.

Alasan resminya: sakit! Tapi siapa pun tahu psikologi bu wali kota Tri Rismaharini itu. Lalu muncul rumor bahwa Risma mau mundur. Wow, wanita yang disebut-sebut wali kota terbaik ini mundur?

Sudah lama memang terjadi masalah antara kepala daerah dan wakilnya. Di Surabaya malah sudah muncul sebelum Wisnu dilantik. Sebab Risma merasa tidak sreg. Ingin orang lain.

Bukankah dulu Wisnu ikut dalam barisan yang ingin melengserkan Risma? Bagaimana bisa bekerja sama dengan politikus yang rekam jejaknya seperti itu?

Tapi Bu Risma pun semestinya sadar bahwa kursi wali kota itu jabatan politik. Risma jadi wali kota Surabaya karena diusung PDI Perjuangan. Dan Wisnu ketua PDIP Surabaya.

Bukan itu saja. Wisnu itu putra almarhum Sutjipto, tokoh yang berani melawan represi rezim Orde Baru terhadap PDI Pro Megawati pada pengujung 1990an. Tanpa dukungan PDIP, tak mungkinlah Risma jadi wali kota dan kemudian jadi pemimpin yang kualitasnya diakui di Indonesia.

Risma itu teknokrat, birokrat tulen. Tak pernah aktif di politik. Ketika menjadi wali kota, seharusnya dia sadar bahwa dunia politik itu ada logika sendiri. Logika yang berbeda dengan teknokrat yang semata-mata bekerja tanpa menimbang konstelasi politik.

Inilah contoh dilema seorang teknokrat yang menduduki jabatan politik. Kita membutuhkan Risma, karena itu, beliau jangan sampai mundur. Tapi di pihak lain Risma pun membutuhkan partai dan dukungan parlemen.
Akan lebih afdal bila partai-partai punya tokoh sehebat Risma sehingga tidak perlu mengusung orang luar sebagai kepala daerah.

Kasus Risma-Wisnu di Surabaya ini hendaknya bisa diambil hikmahnya oleh semua partai politik di Indonesia ketika menghadapi pemilukada.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Mati ketawa ala TV Indonesia

Tertawa itu sehat. Banyak tertawa itu baik, kata banyak riset. Tapi tertawa yang bagaimana dulu? Apakah tertawa renyah ala hiburan slapstick yang menjamur di televisi kita?

Saya tak tahu. Belum saya tanya ke pakar ketawa. Tapi, yang jelas, saya tidak bisa ikut ketawa ketika banyak orang terpingkal-pingkal setiap kali melihat acara si Raffi atau Olga atau Soimah di televisi.

Lucunya di mana? Sulit saya temukan meskipun si artis memang bertingkah konyol. Dan penonton di studio, yang memang dibayar untuk tertawa, ramai-ramai tertawa ngakak. Dan penonton di rumah pun ikut ketawa.

"Acaranya bagus banget," kata Mbak Sri, penjual nasi goreng di Puspa Agro Taman. "Buat hiburan, hilangkan stres."

Mbak asal Jogja tapi sudah lama tinggal di Sidoarjo ini sangat keberatan ketika saya minta dia (agak maksa) memindahkan channel ke televisi berita. Kebetulan ada bahasan bagus yang melibatkan tokoh penting.

"Gak usah ya, enakan lihat hiburan kayak gini," katanya.

Yo wis, aku gak iso opo-opo. Wong ikut tipine sampean. Saya hanya bisa mencari hiburan dengan masuk ke internet. Tapi tetap terganggu dengan lawakan tak bermutu, dangkal, menurut saya.

Kalau terlalu lama dengerin omongan Raffi + Olga, kita bisa gila kayak orang yang ngombe obat catinone. Oh, ya, bagaimana kelanjutan kasus Raffi? Sudah beres ya?

Syukulah, kita punya banyak pilihan di era internet ini. Saluran televisi pun sangat banyak (meskipun yang disukai mayoritas orang Indonesia adalah lawakan-lawakan slapstick yang gak ada habis-habisnya dan tidak baru).

Tapi itu berarti kita harus menarik diri, menjauh dari orang-orang macam Mbah Sri atau orang kampung di NTT yang ketagihan sinetron, infotainment, atau komedi slapstick.

Saya jadi ingat sebuah kartun di Kompas Minggu beberapa waktu lalu. Solusi terbaik adalah ini: matikan televisimu!
Berbahagialah orang yang hidup tanpa televisi!




Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Capgomeh Dihiasi Hujan Abu Kelud

Hujan abu Gunung Kelud memang luar biasa. Menyebar hingga ratusan kilometer dari lubang gunungnya di Kediri. Maka, 14 Februari 2014 menjadi hari yang malang justru bersamaan dengan perayaan Capgomeh dan Valentine's Day.

Saya mampir ke rumah Tante Tok di pecinan Sidoarjo. Wow, sore itu tante yang ramah ini lagi menyiapkan lontong capgomeh. Makanan khas perayaan hari ke-15 bulan pertama Imlek alias Capgomeh.

"Makan lontong capgomeh ya?" Tante Tok mengajak dengan keramahan khasnya.

Oh ya, tentu saya mau karena momen ini sangat langka. Setahun sekali. Kalau sekadar cari lontong capgomeh si banyak. Tapi lontong capgomeh khusus untuk perayaan hari besar Tionghoa yang ditandai pesta lampion jelas langka.

Wow, enak lontong + opor ayam masakan tante yang juga guru bahasa Tionghoa itu. Minumnya teh tawar khas Tiongkok. Lumayan bisa merasakan suasana Capgomeh di rumah orang Tionghoa Sidoarjo.

"Capgomeh itu acara keluarga yang sederhana. Kumpul bareng, makan bareng lontong capgomeh, cerita-cerita," katanya.

Yah, apa lagi kalau cerita soal Kelud yang meletus. Soal antisipasi yang kurang. Kita kelabakan karena tiba-tiba debu beterbangan, sementara kita tidak punya masker. Stok masker habis.

Mudah-mudahan erupsi Kelud cepat selesai. Kita yang di Surabaya dan Sidoarjo saja kelabakan dengan abu vulkanik. Saya tidak bisa membayangkan di Kediri dan tempat-tempat yang dekat dengan Gunung Kelud.

Salam Capgomeh!

Happy Valentine's Day!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

12 February 2014

Pesta Kacang di Lembata 2014

Salah satu rumah adat di kampung Napaulun, Kecamatan Ile Ape, Lembata, NTT.


Jarang sekali ada berita bagus, good news, tentang NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata, di media nasional. Setiap kali saya baca Kompas atau koran-koran Jakarta yang lain beritanya selalu kejahatan.

Terakhir kasus pembunuhan berencana terhadap seorang mantan kepala dinas di Lembata. Kasus ini jadi bahan pembicaraan luas di Lembata. Diduga kuat melibatan orang penting. Polisi pun gamang.

Maka, saya pun terkejut plus haru ketika Kompas edisi 1 Februari 2014 memuat dua tulisan panjang tentang Lembata. Tentang pesta kacang atau UTAN WERUN di Kecamatan Ile Ape, yang melibatkan 22 kampung. Upacara adat ini dipusatkan di Lamariang.

Wow, benar-benar kejutan! Kompas menyediakan satu halaman koran untuk membahas tradisi pesta kacang itu. Lengkap dengan kutipan mantra dalam bahasa Lamaholot.

Lera wulan tanah ekan
Beso tekan utan
Kaka ari edo bereo opulake
Beso tekan utan
Ipetai wewa wau
Beso teka utan
Nakam nebo
Beso tekan utan.

Oh, ternyata wartawan Kompas yang menulis dua naskah panjang ini Kornelis Kewa Ama, orang Adonara, sehingga pasti fasih bahasa Lamaholot. Kornelis bisa menceritakan dengan baik upacara sesajen di Nuba Nara untuk menghormati leluhur dan Sang Pencipta alam semesta.

Orang Lembata yang berada di luar daerah, merantau ke mana-mana, biasanya sangat merindukan pesta kacang ini. Pesta yang jadwalnya tidak jelas dan tidak selalu ada setiap tahun. Terserah kepala adat yang punya mekanisme konsultasi sendiri dengan roh-roh di alam sana.

Di saat utan werun itulah nama-nama semua orang kampung yang masih hidup, baik yang tinggal di kampung, di luar NTT, bahkan luar negeri, akan disebut di rumah adat. Akan jadi masalah besar jika ada nama yang tercecer.

Believe it or not, tanpa justifikasi adat seperti itu, orang Lembata, khususnya Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur, bisa hidup dengan tenang. Ada saja halangan dari yang ringan sampai berat. Mengabaikan tradisi lama bisa berakibat fatal.

Pulau Lembata bagian utara, yakni kampung-kampung di seputar Gunung Ile Ape, agak terlambat jadi Katolik. Sebab, misi penginjilan SVD yang dirintis Pater Bode dimulai dari selatan. Yakni Lamalera, kampung pemburu ikan paus yang juga penghasil pastor, suster, bruder terbanyak di Indonesia.

Karena itu, tempo doeloe (yang belum terlalu lama) penduduk Ile Ape tidak kenal perayaan ekaristi atau misa atau ibadat sabda. Yang ada hanya upacara di altar tradisi yang disebut Nuba Nara itulah. Banyak sesajen yang disediakan macam ayam, hasil panen, aneka masakan, hingga tuak dan arak.

Ketika seluruh Pulau Lembata sudah dikatolikkan, tradisi lama masih jalan meskipun tak sehebat zaman dulu. Pesta kacang diberi muatan kristiani sebagai perayaan syukur atas panen petani. Sekaligus memohon perlindungan dari Sang Pencipta.

Cukup lama upacara adat ini meredup sebelum pemerintah kabupaten mencoba mengangkat sebagai salah satu objek wisata. Maka jalan kecil menuju ke rumah adat di kampung lama dilebarkan agar bisa dilewati mobil. Pestanya pun dikemas lebih meriah dan modern.

Sayang, rumah-rumah adat di kampung adat saya, Napaulun, yang dulu sering dikunjungi turis Eropa, tidak terawat setelah pesta usai. Dibiarkan ambruk. Baru diperbaiki kalau ada pesta kacang lagi. Itu yang di Kecamatan Ile Ape.

Saya bersyukur di Kecamatan Ile Ape, seperti diberitakan Kompas, kondisinya lebih terawat. Semoga Pemkab Lembata bisa lebih serius melestarikan kearifan lokal di Lewotanah ini.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Masalah Bahasa Inggris di Sidoarjo

Miss Nina bersama murid-muridnya di Sidoarjo.

Miss Nina baru saja menyelesaikan program Fulbright English Teaching Assistant di Sidoarjo. Nona asal Amerika Serikat ini, meski hanya sembilan bulan menjadi guru bahasa Inggris salah satu SMA negeri favorit, sangat terkesan dengan Indonesia. Nasi pecel, jus alpukat, srikaya, dan murid-muridnya yang antusias.

Lantas, bagaimana dengan bahasa Inggris pelajar Sidoarjo? Ehm... Miss Nina menulis jawaban dengan jujur. Begini pendapatnya:

"Well, my students were nowhere near fluent and I would describe their English ability as average. With adults, I almost always spoke Bahasa... even the English teachers."

Begitulah. Kemampuan berbahasa Inggris pelajar kita masih sedang-sedang saja alias average. Bahkan, guru bahasa Inggris sekalipun belum bisa dikatakan lancar. Apalagi selancar Nona Nina, native speaker, yang sejak bayi sudah bicara bahasa Inggris dengan lancar tanpa berpikir dulu.

Sekali lagi, Miss Nina mengajar di salah satu SMA negeri di Sidoarjo yang standarnya cukup tinggi untuk tingkat Jawa Timur. Gedung sekolah dan perlengkapannya sangat bagus. siswa yang masuk ke situ pun sudah disaring dengan seleksi yang ketat.

Lha, SMA negeri di dekat Kota Surabaya saja seperti itu. Bagaimana pula dengan sekolah-sekolah swasta yang fasilitasnya pas-pasan? Dan pelajarnya pun kemampuan akademisnya dari sananya memang rendah? Bagaimana pula dengan sekolah-sekolah di luar Jawa?

Syukurlah, Sidoarjo mendapat jatah guru bahasa Inggris native speaker sekelas Miss Nina, yang sekarang berkerja di Washington DC. Peserta didik bisa berlatih praktik bicara bahasa Inggris dengan penutur asli. Bisa dikoreksi langsung oleh orang Amerika yang sejak bayi cas-cis-cus American English. Sekolah-sekolah lain, daerah lain, belum tentu dapat jatah Fulbright ETA yang memang sangat terbatas.

Speaking & listening memang sangat parah di Indonesia. Sebab, dua unsur paling penting itu dalam berbahasa itu nyaris diabaikan dalam pendidikan bahasa Inggris kita sejak SMP, SMA, hingga universitas. Oh, ya, saya sendiri memang baru mendapat pelajaran bahasa Inggris mulai SMP. Di sekolah dasar belum ada. Syukurlah, sekarang anak-anak SD, bahkan TK, sudah diperkenakan bahasa Inggris.

Kita hanya diajari tata bahasa (grammar), menghafalkan tenses, banyak rules of languages, kemudian reading. Menulis dalam bahasa Inggris, writing, hampir tidak ada. Karena itu, saya termasuk yang tidak bisa berbicara dengan lancar dalam bahasa Inggris meskipun nilai bahasa Inggris saya sejak SMP, SMA, hingga universitas selalu A, bahkan A+.

Minggu lalu saya seperti dipermalukan oleh dua bocah balita di kawasan Sedati, dekat Bandara Juanda. Kedua cucu Tuan Fu, pengusaha Tionghoa Sidoarjo, itu bicara begitu cepat dalam bahasa Inggris sehingga sulit ditangkap maksudnya. Lebih cepat ketimbang di film.

"Kita harus belajar bahasa Inggris sama balita," kata Tuan Fu seraya tertawa kecil.

Yah, maklumlah, itu tadi, sejak bayi kedua bocah itu tinggal di Canada. Setiap hari mereka listening, repeating, kemudian speaking dalam bahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau bahasa ibu (mother tongue). Bahasa Indonesia tidak diajarkan karena orang tua kedua bocah itu memang sudah menjadi penduduk tetap Canada. Mereka ke Sidoarjo hanya karena cuti.

Makanya, harus ada action nyata dari pemerintah untuk merombak total kurikulum Indonesia yang lebih menekankan hafalan, kurang praktik, kurang listening + speaking. Bagaimana bisa listening + speaking kalau tidak ada native speaker?

Miss Nina menulis:

"I teach about 300 students each week, or all ten sections of 10th grade at my school. I am able to meet with each section once a week to work on conversational English. 

The curriculum is very rote-based and does not emphasize speaking. I've enjoyed trying activities that encourage students to be creative and critical with their thinking."

Mau tidak mau, penutur asli macam Miss Nina ini perlu ada di semua sekolah kalau kita ingin pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak gagap Inggris. Kalaupun tidak ada native speaker, karena mahal, dan program Fulbright tidak selalu ada, guru-guru bahasa Inggris harus punya kemampuan mendekati native speaker.

Syukur-syukur ada orang Indonesia yang tinggal lama di Amerika atau Inggris mau pulang ke tanah air untuk menjadi guru bahasa Inggris, khusus untuk speaking + listening. Kurikulum lawas yang pernah saya alami, yang penuh dengan grammar, dan ternyata membuat saya tak bisa speak fluently harus dirombak total.

Buat apa pintar grammar, nilai bahasa Inggris A, tapi tidak bisa bicara?

Saat ini saya lihat di Sidoarjo hanya ada satu sekolah yang punya native speaker dalam jumlah cukup banyak. Yakni Singapore National Academy, sekolah tiga bahasa (Inggris, Indonesia, Mandarin) milik Maspion Group di Pepelegi, Kecamatan Waru. Bule-bulenya banyak. Dan sekolah ini mewajibkan siswanya berbahasa Inggris dan Mandarin di lingkungan sekolah mulai TK sampai SMA. Bahasa Indonesia harus seminimal mungkin.

Model pembelajaran bahasa asing (Inggris dan Mandarin) di SNA ini terkesan ekstrem untuk orang Indonesia. Tapi itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar para siswa bisa speak speak speak speak... English.

Kalau tidak, ya, pelajaran bahasa Inggris tak beda dengan fisika, kimia, sejarah, atau geografi. Dihafalkan sebentar, hasil ujian bagus, kemudian dilupakan untuk selamanya.  Seperti saya!

09 February 2014

Pakde Yoeswadi Sketser Sidoarjo



Sepeninggal M Thalib Prasodjo dan Hardono, dunia seni rupa di Kabupaten Sidoarjo, cenderung meredup. Syukurlah, kini ada Yoeswadi Wibowo yang makin intens membuat sketsa berbagai tempat eksotik di Sidoarjo.

Seperti Eyang Thalib, Yoeswadi Wibowo suka blusukan ke mana-mana. Karena itu, pria 40 tahun ini sulit ditemui di sanggar atau lokasi yang tetap. Dulu Yoes, sapaan akrabnya, sering mangkal di Padepokan Akar Rumput milik Eyang Thalib di pinggir Kali Pucang.

"Sekarang saya banyak ke lapangan untuk nyeket (membuat sketsa)," katanya.

Begitu muncul inspirasi, Yoes pun langsung blusukan sambil membawa kertas dan peralatan gambar. Hunting di tempat alias on the spot. Dia bukan tipe pelukis studio yang menggarap lukisan di sanggar tertentu.

Sudah puluhan lukisan sketsa dibuat pria berambut ikal panjang ini. Yoes paling suka membuat sketsa Sidoarjo tempo doeloe, bangunan cagar budaya, kota lama, atau upacara tradisional. Beberapa objek yang sudah disket Yoes antara lain Pasar Jetis, toko tua di Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, yang masih bertahan, kelenteng, pasar ikan, stasiun kereta api, dan kawasan pecinan.

"Saya ingin generasi muda Sidoarjo punya gambaran tentang Sidoarjo di masa lalu dan masa kini," ujarnya.

Jikapun suatu ketika bangunan-bangunan lama terpaksa dibongkar, paling tidak kita masih punya dokumentasi dalam bentuk sketsa. "Kita perlu merawat bangunan-bangunan lama yang punya kaitan erat dengan keberadaan Sidoarjo," katanya.

Sketsa sangat mendukung pekerjaan ayah Lintang, Langit, Sekar, dan Jagad itu sebagai desainer furniture. Dengan sketsa, kita lebih memahami anatomi dan perspektif ruang. Bikin sketsa juga memaksa dirinya untuk bekerja cepat dan eifisen.

"Nah, ketika ditunggu orang, maka dibutuhkan kemampuan nyeket cepat. Tidak bisa kerja santai," ucap Yoes.

Pria yang akrab disapa Pakde Yoes ini menambahkan, kegemarannya nyeket menjadi sarana refreshing, mengasah kemampuan, sketsa menggali ide. Ia merasa seru saat berburu gedung-gedung tua untuk disketsa.

"Banyak gedung tua yang bisa digali untuk ornamen desain, misal dari profil lisplang (bilah papan pada tembok bangunan) yang bisa diaplikasikan ke furnitur. Kebetulan di tempat saya desain mebelnya berbasis kolonial, sehingga sangat bermanfaat bagi saya," tutur pria kelahiran Oktober 1974 itu.

Saking banyak sketsanya tentang Sidoarjo dan Surabaya tempo doeloe, Pakde Yoes sering diajak mengikuti kegiatan komunitas tempo doeloe di kedua kota itu. Sketsa-sketsanya pun sering 'dimanfaatkan' untuk mengisi laman komunitas jadul di internet.

08 February 2014

Ki Anom Suroto ndalang di Sidoarjo



Saat ini, Sabtu dini hari (8/2/2014),  saya lagi cangrukan di pendapa Kabupaten Sidoarjo. Ramai sekali. Rupanya peminat wayang kulit di kota petis ini masih banyak sekali.

Semar Mbangun Kayangan! Begitu lakon yang dimainkan Ki Anom Suroto, dalang paling top di Indonesia asal Solo. Setiap tahun Pemkab Sidoarjo selalu nanggap dalang kondang untuk pesta rakyat hari jadi Kabupaten Sidoarjo.

Kali ini hari jadi ke-155. Bupati Saiful Ilah masih merawat tradisi wayangan yang sudah berlangsung sejak zaman dulu di Sidoarjo. Apalagi pendapa di dekat alun-alun juga punya perangkat gamelan yang lengkap.

"Kami satu rombongan dari Sukodono ke sini karena ada Ki Anom Suroto. Gayanya ndalang memang paling menarik," kata bapak yang pakai blankon ini.

Tak hanya dari Sukodono, penggemar kesenian tradisional ini juga datang dari kecamatan yang jauh macam Krian, Tarik, Balongbendo, Taman, Jabon. Ada juga rombongan bapak-bapak dari Surabaya, Kejapanan, Pandaan, Malang. Luar biasa!

"Saya sudah empat kali berturut-turut ditanggap sama Pak Bupati," ujar Ki Anom Suroto. Pak dalang juga memuji 32 prestasi yang dicapai Bupati Saiful + Wabup Hadi Sutjipto dalam tiga tahun ini.

Dua minggu lalu Sidoarjo baru saja meraih Investmen Award, empat kali berturut-turut. Artinya, semburan lumpur lapindo tidak mengurangi minat investor untuk menanam modal di Sidoarjo.

Ki Anom punya daftar panjang prestasi Sidoarjo. 32 macam! Dengan gaya yang kocak + bahasa pejabat, Ki Anom berkali-kali mengapresiasi pencapaian Sidoarjo.

Bagaimana dengan permainan atau sabetan Ki Anom! Wow, masih ciamik soro. Kualitas vokalnya tetap bulat. Suaranya besar, tegas, mantap.

Melihat antusiasme penonton, meskipun masih kalah dengan tiga empat tahun lalu, kita layak bersyukur. Bahwa kesenian lawas yang namanya wayang kulit masih punya penggemar di Sidoarjo.

Oh ya, malam ini juga di kawasan Sedati ada pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Syukuran PT Angkasa Pura I, pengelola Bandara Juanda.

Matur sembah nuwun!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

04 February 2014

Mahasiswa IAIN Surabaya Pantau Misa Natal



Perayaan Natal 2013 sudah lama berlalu. Tapi ada cerita menarik yang saya dapat dari Ibu Elyana dari Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) alias Gereja Kepanjen. Ini Gereja Katolik paling tua di Surabaya yang bangunannya sangat bagus. Saya terharu mendengar dan membaca catatan ringan ibu Tionghoa yang tinggal di kawasan pecinan Kembang Jepun itu.

Ceritanya begini. Pada malam Natal itu, 24 Desember 2013, sebanyak 51 mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya datang ke gereja. Mereka didampingi seorang dosen pembimbing. Tujuannya untuk studi banding dan tugas kuliah ilmu perbandingan agama. Mereka ingin tahu misa malam Natal itu kayak apa sih.

Karena itu, anak-anak muda calon intelektual muslim masa depan ini mau tidak mau harus ikut melihat jalannya perayaan ekaristi atau misa malam Natal. Wow, luar biasa! Tak pernah saya bayangkan sebelumnya ada keterbukaan yang tulus seperti adik-adik dari IAIN.

Sebelum misa, Djue Djue, koordinator liturgi Paroki Kepanjen, memperkenalkan para mahasiswa IAIN itu kepada umat Katolik yang akan segera mengikuti misa malam Natal pada pukul 18.00. Umat pun bertepuk tangan meriah menyambut para tamu istimewa itu.

"Luar biasa, karena kami tidak pernah menduga ada kunjungan mahasiswa IAIN. Ini membuat suasana Natal semakin damai," kata Bu Elyana.

Selesai meliput dan menyaksikan langsung perayaan skaristi ala Katolik, yang berlangsung dua jam lebih (pasti sangat lama untuk orang Islam), para mahasiswa IAIN Sunan Ampel ini bersalaman sambil mengucapkan selamat Natal kepada umat Katolik yang baru saja ikut misa. Mereka kemudian berdialog di aula dengan Pastor Paroki Kepanjen Romo F. Hersemedi CM dan para pengurus dewan paroki serta panitia Natal 2013.

Bagi umat Katolik di Paroki Kepanjen, dan umat kristiani umumnya, peristiwa kecil di Surabaya ini punya makna yang luar biasa. Di tengah fatwa ulama, khususnya MUI (Majelis Ulama Indonesia), yang melarang orang Islam mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen, kita seakan berada di oase yang segar. Bahwa masih ada, bahkan mungkin jauh lebih banyak, teman-teman kita yang muslim yang open minded, toleran, mau menyapa kita secara istimewa di malam Natal.

Intelektual-intelektual muslim produk IAIN Sunan Ampel dan kampus-kampus muslim lain sangat menentukan wajah Indonesia ke depan. Melihat kedatangan mereka yang tulus di Gereja Katolik Kepanjen, justru di acara liturgi, yang sangat dilarang fatwa MUI, kita layak berbahagia.

Istilah Katoliknya: Kita masih punya GAUDEUM et SPES! Kegembiraan dan harapan!

02 February 2014

Nona Rumahan vs Budaya Merantau NTT



Nona asal Surabaya, Elvira Devinamira, 20, baru terpilih sebagai Putri Indonesia 2014. (Bahasa Indonesia yang benar itu PUTRI bukan PUTERI.) Ketika ditanya wartawan, Elvira selalu bilang kangen rumah.

"Dua minggu gak pulang, homesick. Aku kangen kamar," ujar nona yang mahasiswi Unair itu.

Kata-kata macam ini sering saya dengar dari mulut wong Jowo. Khususnya pesohor atau artis atau calon artis macam Elvira. Mereka tidak bisa lama-lama berada jauh dari rumah orang tuanya. Karantina dua minggu saja sudah dirasa berat banget bagi Elvira dkk.

Orang NTT, khususnya Flores, khususnya Lembata, pasti terheran-heran mendengar pernyataan Elvira. Sudah 20 tahun, mahasiswi, kok ingin kumpul terus di rumah orang tua? Jangan-jangan nanti sudah menikah pun tak bisa keluar rumah sehingga memaksa suami tinggal di rumahnya. Pondok mertua nan indah.

Ada kenalan saya, wartawan senior televisi, yang stres karena istrinya tidak mau diajak tinggal di rumah kontrakan. Dia memaksa si teman menikmati pondok mertua. Maka, pernikahan mereka pun buyar dalam waktu singkat.

Orang yang tak punya budaya merantau memang punya penyakit homesick yang luar biasa. Beda dengan daerah-daerah yang kurang maju seperti NTT, yang mau tak mau, harus merantau untuk bekerja atau sekolah.

Orang kampung di pelosok Lembata setelah tamat SD hanya punya tiga pilihan. Satu, melanjutkan sekolah ke kota (bisa dekat bisa jauh). Dua, mengikuti jejak om-om di Malaysia Timur sebagai TKI. Tiga, bertahan di kampung.

Paling banyak memilih opsi kedua: jadi TKI. Kemudian memilih ke kota dan hanya sedikit bertahan di kampung. Yang terakhir ini biasanya para wanita.

Maka, boleh dikata sejak usia 12-14 tahun, anak-anak desa di NTT sudah meninggalkan orang tuanya. Merantau! Orang tua pun bahkan cenderung membiarkan anaknya jalan sendiri di tanah orang. Ini juga membuat orang-orang NTT di perantauan cenderung tidak suka pulang kampung.

Sudah biasa kalau perantau NTT di Malaysia itu 10 tahun tak pernah balik. Ada yang 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun. Bahkan, banyak pula yang meninggal di Malaysia tanpa pernah kembali ke kampung halaman.

Apa boleh buat, budaya merantau yang akut di NTT di satu sisi membuat orang-orang NTT sangat mandiri, tak pernah tergantung pada orang tua. Apalagi si ortu memang miskin, tak punya apa-apa. Tapi di sisi lain, budaya merantau sejak belasan tahun ini membuat hubungan keluarga jadi renggang.

Sebaliknya, orang kota besar macam Elvira yang tak punya budaya merantau tidak akan bisa belajar mandiri. Selalu berada dalam zona nyaman bersama orang tua di rumah sejak lahir sampai tua. Tak ada kesempatan untuk merasakan tantangan hidup jauh dari rumah orang tua.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Orang Finlandia Monitor Radio AM Surabaya



Hello Hurek. I am just reading about your story of RPW and what type program they are transmitting on AM band, exactly on 1449 kHz and why they wanted to stay there, not moving to FM. My hobby is dx-listening and during the last three years I have been very lucky with hearing Surabayan radio station on AM band here in Finland.

Those three stations are Radio Yasmara on 1152 kHz, Radio Sangkakala on  1062 kHz and yesterday evening I understood that I have heard also Radio Pertanian Wonocolo on 1449 kHz 31st of December 2013.

Listening of those stations has been highlight of my hobby. Some years ago I was keeping that impossible, but when I heard Radio Sangkakala and Radio Yasmara the same evening 9th of October 2011, I started to believe that some other station could be possible. Recent years Indonesia was full of private and pirate radio stations on AM band, now it seems that only few are left and some new pirate stations has appeared.

On attached MP3 files you can hear what they sound here in Finland, more than 10000 km distance from Surabaya. Radio Sangkakala is having 10 kW transmitter and you can hear them very clearly. Radio Yasmara is having morning pray and RPW was sending live or recorded puppet theater with Gamelan music.  RPW is having the weakest signal, it is better to use headphones when listening these MP3 audio files.

I hope that you have some contacts to these three stations, at least to RPW. I have tried to reach them by email, twitter or Facebook without any good result. If you could help me with proper email to the right person working on this station I would like ask them to verify reception here in Finland.

I am not anymore collecting so much these verification as a young boy, but Indonesian AM stations on the AM band are like gems and will be the nicest memories of this long lasting hobby. I started already 1969 and still spend some periods with this hobby. It is good counterweight to my work as a sales director.

I noticed that your blog is having many visitors, now you have one reader also from Finland.


Martti Karimies
Finland

01 February 2014

RIP: Romo Berset CM Meninggal Dunia

Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, Romo Victor Germani Berset CM pada hari Kamis, 30 Januari 2014, Pkl 16.30 di Pastoran Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, Jl. Kepanjen 9, Surabaya.

Jenazah dimakamkan di Puhsarang, Kediri, pada Sabtu, 1 Februari 2014, berangkat dari Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya, pkl 08.00 WIB diawali dengan Misa Requiem yang diikuti para pastor CM yang ada di Keuskupan Surabaya.



Sekali Swiss tetap Swiss, tetapi saya cinta Indonesia," ujar Romo VICTOR GERMANI BERSET CM. Pastor 93 tahun ini berkebangsaan Swiss.

Sehari-hari dia lebih dikenal dengan nama panggilan ROMO BERSY. Terakhir dia bertugas di Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya. Sampai kini dia menghabiskan masa pensiun dan istirahat di Rumah CM, Jalan Kepanjen 9 Surabaya.

Menjadi romo memang cita-citanya sejak kecil. Ditahbiskan pada 29 Juni 1945 bersama 11 orang teman diakonnya dari Swiss, Prancis, dan Libanon. Tahun 1946 dia dkirim ke Tiongkok. Di sana Bersy sempat mengalami perlakuan yang kurang baik, bahkan dipenjara.

Tahun 1952 diusir dari Tiongkok dan pindah ke Vietnam sampai 1976. Selanjutnya pindah ke Swiss sampai 1977. Dari Swiss diutus ke Indonesia, tepatnya di Kalimantan dan Jawa.

Dalam perjalanan imamatnya, Romo Bersy juga pernah menikmati hadiah, berkeliling dunia Mei-Oktober 1970 ke Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, Meksiko, Hongkong kembali ke Vietnam. Tahun 1995 kembali melakukan perjalanan ke Eropa, tetapi hanya beberapa bulan.

ROMO BERSY lahir pada 21 Januari 1921. Dia sulung dari 12 bersaudara. Dari segi umur, Romo Bersy memang sudah tua, tapi daya pikir, daya ingat, dan semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Luar biasa! Apa resepnya?

Pertama, Romo Bersy mengaku tak pernah berhenti membaca, dengan bantuan kacamata dan kaca pembesar.

Kedua, tetap berkarya seturut kemampuan fisiknya.

Ketiga, hidup sehat, makanan.

Keempat, rajin mendengar siaran radio.

*******

Dua kali dia jatuh di gereja dan mengalami patah tulang pada 2000 dan 2004. Namun, hal ini tak menyurutkan semangatnya. Dengan kursi rodanya beliau masih bisa melayani umatnya.

Ayahnya meninggal dunia tahun 1954 dalam usia 64 tahun, sedang ibunya dalam usia 90 tahun. Beliau masih ingat dengan jelas di tahun 1989 menerima kunjungan keluarganya dari Swiss. Adiknya, keponakan, dan saudara ipar, semuanya berjumlah 12 orang. Hubungan kekeluargaan masih terjalin baik sampai sekarang.

Apakah Romo Bersy ingin kembali ke Swiss?

"Oh tidak, saya cinta Indonesia," katanya, mantap.

THERESIA, perawat yang energik, dengan setia merawat dan menemani Romo Bersy. Karena itulah, Romo Bersy masih aktif melayani umat yang datang konsultasi, minta motivasi, minta Sakramen Konsiliasi dan sebagainya. Sedang kegiatan sehari-hari yang rutin dan pasti adalah BERDOA dan MENDENGARKAN RADIO.

Di akhir percakapan, Romo Bersy berpesan:

"Kita harus taat dan setia pada Tuhan sampai akhir hidup."