22 January 2014

Terlalu Banyak Politisi, Sulit Maju

Indonesia sulit maju karena terlalu banyak politisi. Khususnya setelah reformasi, 1998. Politisi kerjanya bicara, bicara, bicara, meskipun banyak omong kosongnya. Dan itu tak akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Ini pula yang menyebabkan puluhan juta orang Indonesia terpaksa mencari kerja di Malaysia, Hongkong, atau Arab Saudi. Tiga negara itu maju pesat karena rakyatnya tidak suka jadi politisi. Politisi Malaysia dari dulu, ya, itu-itu saja. Hongkong dan Arab Saudi juga sama.

Orang Tionghoa di mana-mana maju pesat, punya perusahaan besar, bisa mempekerjakan ribuan orang, karena sangat fokus di bisnis. Jauh dari politik meski sering ditipu politisi (dan juga sering menipu politisi). Saking alerginya sama politik, orang Tionghoa paling malas kalau diajak bicara politik.

Anehnya, akhir-akhir ini mulai banyak pengusaha Tionghoa yang tergoda politik. Taipan Hary Tanoe bahkan jadi calon wakil presiden dari Partai Hanura. Hary Tanoe sangat getol politik. Sampai-sampai televisi-televisinya yang full sinetron itu kini dimanfaatkan untuk kampanye Hanura serta Wiranto-HT.

Aneh, karena Hary Tanoe baru belajar politik di Partai Nasdem seumur jagung. Cabut dari Nasdem, diiming-imingi posisi tinggi di Nasdem, senang jadi bakal wapres. Aneh, hasil pemilu legislatif belum ada kok sudah mencalonkan diri jadi presiden-wakil presiden. Memangnya Hanura bisa menang besar?

Rupanya Hary Tanoe kena ajian kesirep politik dari Hanura! Ah, andai saja Hary Tanoe bikin 10 pabrik di NTT atau Sulawesi! Betapa banyaknya warga yang bisa bekerja di situ. Tidak perlu jauh-jauh cari kerja di Malaysia.

Yang baru saya baca ini Rusdi Kirana, pengusaha Tionghoa pemilik Lion Air. Rusdi juga kena ajian politik dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Begitu masuk PKB langsung diangkat jadi wakil ketua umum. Rupanya Rusdi Kirana senang banget dengan posisi politik yang karbitan itu.

Saya selalu ingat kata-kata Ir Ciputra. Kalau mau maju, bisa bersaing dengan negara lain, khususnya Malaysia, kita harus menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur (pengusaha). Bukan politisi. Saat ini Indonesia sangat kekurangan pengusaha.

Tanpa pengusaha, maka tak akan ada pabrik. Tak akan ada perusahaan. Tak akan ada lapangan kerja. Tak ada pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Ciputra getol mendirikan sekolah-sekolah dan universitas untuk menciptakan pengusaha-pengusaha muda yang akan memajukan Indonesia tercinta ini.

Kata-kata Pak Ciputra yang selalu diulang di banyak kesempatan itu selalu saya ingat. Karena itu, saya sangat sedih melihat pengusaha-pengusaha Tionghoa di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Lembata dan Flores Timur, banyak yang jadi caleg.

Lha, kalau pengusaha-pengusaha jadi caleg, siapa yang menciptakan lapangan kerja di NTT? Akhirnya, semua orang yang berpendidikan berlomba-lomba menjadi pegawai negeri sipil (PNS) karena itulah lapangan kerja yang paling mapan.

Sayang sekali. Sebab, menciptakan entrepreneur itu jauh lebih sulit daripada menciptakan politisi.

1 comment:

  1. Terlalu Banyak Politisi, Sulit Maju .
    Saya terkejut membaca sebuah Artikel : RI Terendah di PISA,
    Elizabeth Pisani : Indonesian Kids Don't Know How Stupid They Are !
    Bagaimana hal tersebut bisa terjadi ? Padahal saya pernah membaca, bahwa di-perguruan2 tinggi terkenal Amerika, jurusan
    exakta dan tehnik 70% mahasiswanya adalah murid2 dari benua Asia atau orang keturunan Asia.
    Semoga lebih banyak politisi Indonesia, yang pendidikannya berlantar-belakang insinyur, mathematik dan ekonomi, bukannya seperti sekarang kebanyakan artis sinetron, dangdut atau pelawak. Dibenak-saya masih melekat sistem pendidikan zaman kuno; SMA jurusan A , B , C .
    B = calon insinyur dan dokter, C = calon pengacara hukum dan ekonomi, A = calon seniman, sastrawan dan jurnalis.
    Ternyata pandangan kolot itu salah besar.
    Seorang anak perempuan-saya, mulai SD sampai lulus SMA, angka2 di-raport, selalu mendapat angka 1. Ketika dia ingin mendaftar di Fakultas Ekonomi, saya bilang; koq tidak pilih jurusan technik, sayang otak-mathematik-lu yang cemerlang.
    Jawab anak-saya : Pa, lu jangan menghina jurusan ekonomi,
    80% kollega-gua, jatuh ujian test pertama, karena mereka kurang mahir dibidang mathematika.
    Oh, jadi manusia modern zaman sekarang, harus menguasai ilmu mathematika. Tidak heran jika Tiongkok menjadi maju, sebab pemimpinnya kebanyakan lulusan fakultas technik.
    Sayang sekali ilmu berhitung ( Mathematik ) di Indonesia didefinisikan secara sangat praktis ; Wani piro !
    Bukan hanya Achlak yang melorot kecelana, tetapi pendidikan juga merosot ketitik Nadir.

    ReplyDelete