17 January 2014

Tante Tok tidak bikin kue keranjang


Petang kemarin saya mampir di rumah Tante Tok Swie Giok di pecinan Sidoarjo, Jalan Raden Fatah. Pasti rumah tua warisan papanya dari Tiongkok itu penuh dengan bahan-bahan kue keranjang. Kan menjelang tahun baru Imlek 31 Januari 2014.

"Minum apa?" ucap wanita sepuh yang ramah itu.

"Biasa, zhongguo cha," kata saya merujuk teh dari Tiongkok. Tante Tok pun tertawa kecil lantas bikin teh tradisional leluhurnya.

Rasanya sepet kayak jamu. Orang Tionghoa memang punya tradisi minum teh tanpa gula. Kali ini tante menyuguhkan oolong cha, teh kelas satu khas Tiongkok. Kamsia! Terima kasih!

Akhirnya, sadarlah saya bahwa tahun ini Tok Swie Giok tidak bikin kue keranjang alias nian gao (baca: nien kao). Ternyata tante baru sembuh dari demam berdarah. Selama delapan bulan harus istirahat total dan masuk rumah sakit di tengah kota.

"Kalau dipaksakan bikin kue keranjang, kalau sakit bagaimana? Kasihan anak-anak dan cucu saya," ujar ibu yang juga aktif di komunitas liang liong Sidoarjo itu.

Tahun baru Imlek tanpa kue keranjang, bagi orang Tionghoa, ibarat sayur tanpa garam. Kue sederhana yang manis, legit, ini harus disajikan. Bagi yang masih punya tradisi kuat, ada sembahyang dengan sajian nian gao.

Sayang, di Sidoarjo tak ada lagi orang Tionghoa yang bikin sendiri kue keranjang di rumah. Cukup membeli saja di toko. Tidak capek dan simpel. Anak-anak Tok Swie Giok pun terlalu sibuk untuk membuat kue keranjang seperti yang ditekuni Tante Tok setiap menjelang Sincia.

"Doakan agar tahun depan saya bisa bikin lagi," kata tante yang sering jadi jujukan saya untuk tradisi dan bahasa Tionghoa itu.

Kue keranjang buatan Tok Swie Giok itu sederhana tapi khas. Dia bikin tepung sendiri dengan membeli ketan kualitas terbaik. Diayak beberapa kali sehingga kotorannya benar-benar hilang. Dia mencontoh mendiang ayahnya yang datang dari Tiongkok selatan.

"Saya juga tidak pernah pakai bahan pengawet dan zat pewarna. Saya mau yang asli saja kayak zaman dulu," tuturnya.

Nah, kue keranjang orisinal inilah yang dicari banyak pelanggannya setiap tahun. Dari Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Malang, Kalimantan, Bali, dan kota-kota lain. Order yang melimpah membuat Tante Tok harus bekerja keras selama satu bulan.

Sayang, tahun ini kesibukan yang menyenangkan itu tak lagi terasa di rumah Tante Tok. Saya hanya menyeruput teh tanpa ditemani kue keranjang khas Sidoarjo itu. Kebiasaan menonton hiburan tradisional dari CCTV, televisi Tiongkok, pun tak ada lagi.

"TV saya baru disambar petir," katanya.

Oh, semoga tahun kuda ini membawa keberuntungan bagi kita semua. Gong xi fa cai!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

2 comments:

  1. Selera manusia memang sangat individual. Bagi saya pribadi, kue atau jajan Tiongkok tidak selezat jajan Indonesia.
    Kue keranjang hanya saya mau makan, jika sesudah digoreng sampai kering. Banyak kue-kue di Indonesia yang asal muasalnya dari Fujian Selatan, misalnya : ronde, onde-onde, sekoteng dll., namun setelah di Indonesia resepnya dimodifikasi
    disesuaikan dengan selera orang Indonesia, ternyata rasanya lebih enak daripada yang asli.
    Sekoteng adalah bahasa Hok-kien, bahasa Mandarin-nya adalah
    si-guo-tang ( 四果汤 ), banyak dijual dipinggir jalan dikota Quanzhou pada waktu malam hari.
    Menurut hikayat, kue keranjang dipersembahkan kepada Dewa-Dapur pada tahun baru Sin-cia. Supaya sang Dewa ketika makan kue yang manis dan legit itu, mulutnya jadi lengket, sehingga tidak bisa mengadu ( wadhul ) tentang kejelekan2 rumah tangga yang bersangkutan kepada Dewa Agung ( Thian ).
    Ironie-nya sebagai warga Tionghoa, Dewa-pun kita sogok, apalagi para pejabat yang notabene seorang manusia.
    Sogok menyogok bukan hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga di Tiongkok.

    ReplyDelete
  2. Bung Hurek, tolong sampaikan salam saya kepada cik Swie Giok, semoga tacik selalu sehat dan walafiat.
    Saya membaca Artikel anda dari tanggal 16.Juni 2010, tentang cik Swie Giok membuat Bacang. Saya kaget betapa berubahnya penampilan tacik hanya dalam waktu 3,5 tahun. Entah bagaimana tampang-ku, 3,5 tahun mendatang. Jika saya melihat Pass-foto-saya 3 tahun yang silam dibandingkan dengan Pass-foto terbaru, bedanya seperti langit dan bumi. Tambah tuwek dan elek. Sekarang saya sadar, mengapa orang Bali paling takut kepada Betara Kala.
    Kecuali itu saya menjadi tertarik dengan She Tok, sebab dulu di-Indonesia saya sangat jarang mendengar ada orang cina yang She Tok. Ternyata diatas bumi ada puluhan juta manusia dari Marga Tok. Kalau saya tidak salah melafal, mungkin nama tacik, 杜瑞玉. Bilang salam dari Encek Lotek dari Tiongkok. Saya menulis ini sambil mendengarkan musik djadoel,
    Last Date dari Floyd Cramer.
    Bung Hurek, besok lusa saya sudah harus pelan2 mengemasi koper, sudah harus siap2 pulang ke-Tiongkok ( 26.Februari ). Sebelum berangkat harus keliling dulu, mem-besuch anak2 untuk berpamitan dan lihat cucu.
    Saya sudah seperti orang Lembata, nyerocos terus, logorrhoe.
    Sampai jumpa entah kapan, 祝你身体健康 !

    ReplyDelete