01 February 2014

RIP: Romo Berset CM Meninggal Dunia

Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, Romo Victor Germani Berset CM pada hari Kamis, 30 Januari 2014, Pkl 16.30 di Pastoran Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, Jl. Kepanjen 9, Surabaya.

Jenazah dimakamkan di Puhsarang, Kediri, pada Sabtu, 1 Februari 2014, berangkat dari Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya, pkl 08.00 WIB diawali dengan Misa Requiem yang diikuti para pastor CM yang ada di Keuskupan Surabaya.



Sekali Swiss tetap Swiss, tetapi saya cinta Indonesia," ujar Romo VICTOR GERMANI BERSET CM. Pastor 93 tahun ini berkebangsaan Swiss.

Sehari-hari dia lebih dikenal dengan nama panggilan ROMO BERSY. Terakhir dia bertugas di Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya. Sampai kini dia menghabiskan masa pensiun dan istirahat di Rumah CM, Jalan Kepanjen 9 Surabaya.

Menjadi romo memang cita-citanya sejak kecil. Ditahbiskan pada 29 Juni 1945 bersama 11 orang teman diakonnya dari Swiss, Prancis, dan Libanon. Tahun 1946 dia dkirim ke Tiongkok. Di sana Bersy sempat mengalami perlakuan yang kurang baik, bahkan dipenjara.

Tahun 1952 diusir dari Tiongkok dan pindah ke Vietnam sampai 1976. Selanjutnya pindah ke Swiss sampai 1977. Dari Swiss diutus ke Indonesia, tepatnya di Kalimantan dan Jawa.

Dalam perjalanan imamatnya, Romo Bersy juga pernah menikmati hadiah, berkeliling dunia Mei-Oktober 1970 ke Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, Meksiko, Hongkong kembali ke Vietnam. Tahun 1995 kembali melakukan perjalanan ke Eropa, tetapi hanya beberapa bulan.

ROMO BERSY lahir pada 21 Januari 1921. Dia sulung dari 12 bersaudara. Dari segi umur, Romo Bersy memang sudah tua, tapi daya pikir, daya ingat, dan semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Luar biasa! Apa resepnya?

Pertama, Romo Bersy mengaku tak pernah berhenti membaca, dengan bantuan kacamata dan kaca pembesar.

Kedua, tetap berkarya seturut kemampuan fisiknya.

Ketiga, hidup sehat, makanan.

Keempat, rajin mendengar siaran radio.

*******

Dua kali dia jatuh di gereja dan mengalami patah tulang pada 2000 dan 2004. Namun, hal ini tak menyurutkan semangatnya. Dengan kursi rodanya beliau masih bisa melayani umatnya.

Ayahnya meninggal dunia tahun 1954 dalam usia 64 tahun, sedang ibunya dalam usia 90 tahun. Beliau masih ingat dengan jelas di tahun 1989 menerima kunjungan keluarganya dari Swiss. Adiknya, keponakan, dan saudara ipar, semuanya berjumlah 12 orang. Hubungan kekeluargaan masih terjalin baik sampai sekarang.

Apakah Romo Bersy ingin kembali ke Swiss?

"Oh tidak, saya cinta Indonesia," katanya, mantap.

THERESIA, perawat yang energik, dengan setia merawat dan menemani Romo Bersy. Karena itulah, Romo Bersy masih aktif melayani umat yang datang konsultasi, minta motivasi, minta Sakramen Konsiliasi dan sebagainya. Sedang kegiatan sehari-hari yang rutin dan pasti adalah BERDOA dan MENDENGARKAN RADIO.

Di akhir percakapan, Romo Bersy berpesan:

"Kita harus taat dan setia pada Tuhan sampai akhir hidup."

2 comments:

  1. Untuk mendiang Romo Berset saya panjatkan :
    Requiem aeternam dona ei, Domine. Requiescat in Pace.

    Ternyata didalam Gereja Katholik sangat banyak Orden-nya, jika saya tidak salah hitung, mungkin ada 200 lebih.
    Dari sedemikian banyak Orden, saya pribadi cuma dekat dengan Orden SVD. Alasannya :
    Waktu saya mengajar keponakan2 membaca, ketika mereka masih sekolah di-SR. St. Gabriel dan St. Theresia, Paroki Kristus Raja, Surabaya, semua buku bacaannya diterbitkan di Ruteng / Flores, oleh Orden SVD.
    Ketika saya sekolah di Eropa, banyak mahasiswa Theologie, Seminaris Orden SVD, yang mencari hubungan dan perkawanan dengan para mahasiswa dari Indonesia, sebab mereka yakin, pada suatu ketika, mereka akan dikirim kepulau Flores.
    Setelah lulus dari Fakultas, dan sebelum ditahbiskan menjadi Pastor, mereka diumbar, boleh berbuat sesukanya selama enam bulan. Setelah itu baru ditanyai terachir kalinya, apakah masih ingin, atau sudah sreg untuk menjadi Pastor dengan segala konsekuensinya, termasuk zolibat.
    Jadi para calon Pastor itu selalu hadir jika mahasiswa Indonesia mengadakan acara pesta dansa-dansi, Twist, shake . Mereka styl-nya ya seperti anak muda biasa, pakai celana Jeans, berlenso sambil pelukan mesra dengan lawan jenisnya.
    Tidak semua achirnya ditahbiskan. Sebagian kecil gagal.
    Jika musim dingin di Eropa, seperti sekarang ini, kebanyakan orang merindukan daerah di ekuator.
    Pada suatu hari dibandara udara, saya kebetulan bertemu lagi dengan salah satu anak Seminari dahulu. Saya tanya, lu mau kemana ? Dia jawab; mau kembali ke Flores, barusan dapat cuti selama 1 bulan, setelah 6 tahun bekerja sebagai Pastor di
    Ruteng.
    Gua tanya lagi, kenapa lu koq datang kerumah waktu musim dingin, musim panas khan lebih nyaman. Dia bilang; kangen sama salju dan main ski, matahari dan panas khan sudah tiap hari mengalami di Flores. Beginilah jadi manusia, dapat panas minta dingin, dan sebaliknya.
    Jadi manusia tidak harus memiliki - melihat - merasakan - mendengarkan barang2 yang ada diatas bumi.

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun Xian Sheng sampun maosaken tulisan kula.

    Almarhum Romo Bersy CM ini salah satu misionaris kongregasi misi (CM) dari eropa yg tersisa di Jawa Timur. Sekarang tinggal sedikit karena gereja katolik di Indonesia sudah lama dianggap dewasa dan mandiri. Justru pastor2 Indonesia yg banyak bertugas di luar negeri.

    CM adalah ordo yg sejak dulu bertugas di wilayah Keuskupan Surabaya yg meliputi separuh Provinsi Jawa Timur. Separuh lagi ordo karmelit atau Ordo Carmel (O.Carm) yg bertugas di Malang.

    Karena dulu romo2 di Surabaya kurang, maka pada tahun 1970 (kalau gak salah) Uskup Surabaya waktu itu meminta bantuan ordo SVD di Flores untuk melayani umat di Paroki Wonokromo. Maka, sejak itu Surabaya punya dua ordo: CM dan SVD.

    Kongregasi SVD itu identik dengan Flores karena seminarinya di sana, pastornya paling banyak dari Flores, dan kental sekali nuansa Floresnya. Buku2 gerejawi yg lama di Indonesia juga diterbitkan oleh penerbit milik SVD di Ende. Jadi, bukan di Ruteng. Kira2 itu penjelasan singkatnya. Salam.

    ReplyDelete