12 January 2014

Reuni keluarga besar Adonara di Surabaya

VG Adonara mengisi perayaan Natal, Tahun Baru, Idul Fitri keluarga besar Adonara di Jawa Timur.


Warga Adonara sejak dulu paling kompak di rantau ketimbang etnis Lamaholot lain macam Lembata, Solor, atau Flores Timur. Mungkin karena homogenitas orang Adonara yang paling tinggi. Beda dengan Lembata, misalnya, yang bahasanya telalu banyak variasi.

Ini juga yang membuat saudara-saudari kita dari Adonara sangat sering bikin pertemuan keluarga besar Adonara. Sabtu malam, 12 Januari 2013, ratusan orang Adonara di Jawa Timur mengadakan perayaan Natal, Tahun Baru, dan Idul Fitri bersama di aula DPD Golkar Jatim, Jl Ahmad Yani Surabaya.

Idul Fitri memang sudah agak lama, tapi patut dirayakan. Apalagi warga muslim di Adonara sangat banyak. Kebersamaan sesama anak Adonara di perantauan harus terus dijaga. Begitu pesan Pak Hendrik Sabon, sesepuh Adonara di Surabaya.

Memasuki aula, suasana terasa macam di lewotanah alias kampung halaman. Lagu-lagu yang diputar berbahasa Lamaholot dengan gaya Adonara kental. Sebagian besar wanita pakai sarung khas Adonara.

"Louk lodoka!" kata saya kepada Pak Paulus Latera, guru SMA Petra 3 Surabaya yang duduk di samping saya.

Louk lodoka : air mata saya jatuh! Melihat para remaja Adonara pakai sarung, nyanyi vocal group, bahasa Lamaholot, dengan wajah dan potongan tubuh seperti ina ama kaka ari di kampung halaman.

Vokalis Gema Band, band anak muda Adonara, pun bagus sekali. Tak kalah dengan penyanyi-penyanyi profesional yang biasa muncul di televisi. Belum lagi tutu koda, saling cerita, antarkita dalam bahasa daerah: bahasa Lamaholot.

Baru kali inilah saya sadar bahwa warga Lamaholot di Jawa Timur cukup banyak dan sama-sama punya kebutuhan untuk saling sapa. Dahang wekike! Apa kabar ama? Apa kabar ina? Apa kabar ari? Apa kabar reu?

Makan malam sangat sederhana untuk ukuran sebuah perayaan Natal, tahun baru, Lebaran. Tapi rupanya yang masak mama-mama dari Adonara yang tahu betul bumbu asli dari kampung. Enak banget rasanya sayur rumpu-rampe itu!

Tite poro witi hala! Kita tidak potong kambing! Begitu jawaban seorang ama (bapak) ketika saya tanya mengapa tidak potong kambing saja. Waktunya mepet dan dana cekak.

Semula Gubernur NTT Frans Lebu Raya, yang juga asli Adonara, dijawalkan hadir. Sayang, Pak Gubernur tiba-tiba harus menyambut menteri di Kupang. Akhirnya, acara yang dikemas dalam reuni keluarga besar Adonara ini berlangsung tanpa pejabat.

Toh, rasanya tetap berkesan. Khususnya bagi saya, warga Lamaholot juga meskipun bukan Adonara. Mendengar nyanyian, musik, teater... yang bercerita tentang lewotanah, kampung halaman, kita diingatkan untuk tidak lupa asal-usul, leluhur, di NTT sana.

Bae sonde bae, Adonara lebeh bae!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment