25 January 2014

Ratatex Balongbendo Riwayatmu Dulu



Siang tadi saya cangkrukan di dekat jembatan yang baru direnovasi di Balongbendo, Sidoarjo. Warga setempat menyebut Jembatan Ratatex. Sebab, dulu di dekat situ ada pabrik tekstil besar bernama Ratatex.

Perusahaan Ratatex yang membuat jembatan itu. Maka, warga Balongbendo, Krian, Taman, Sidoarjo, hingga Surabaya tempo dulu pasti hafal Ratatex. Pabrik besar yang selalu ramai karyawan. Begitu banyak warga setempat bekerja di Ratatex.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat ini Ratatex di Balongbendo yang diresmikan pada 1957 itu tinggal kenangan. Tak ada lagi jejak kejayaan sebagai pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, jembatannya pun sudah dibongkar, diganti yang baru karena memang sudah rapuh.

Oh, Ratatex riwayatmu dulu. Konon Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta datang ke Sidoarjo untuk meresmikan pabrik tekstil itu. Maklum, sang pemilik, Rahman Tamin, pengusaha kaya yang dekat dengan para pejuang kemerdekaan. Sebelum Indonesia mereka pun almarhum Rahman Tamin sudah kaya raya.

Nah, Ratatex ini singkatan dari Rahman Tamin Textile. Pabrik-pabrik yang ada akhiran tex biasanya milik konglomerat kaya. Sebut saja Pardedetex di Sumatera Utara atau Sritex di Jawa Tengah.

Sayang, kehebatan almarhum Rahman Tamin tidak bisa berumur panjang. Ratatex bahkan sudah goyang sebelum generasi kedua. Anak-anak Rahman tak banyak terlibat di pabrik ini. Yang bermain justru keluarga besar taipan berdarah Sumatera Barat itu.

Maka Ratatex pun menggelepar bak ikan di kolam yang mengering. Kemudian menghilang dari peredaran. Sofjan Tamin, putra Rahman Tamin, malah membuka bisnis baru di Jakarta. Bisnis yang jauh dari urusan tekstil atau pakaian. Sejak awal Sofjan memang sengaja menjauh dari Ratatex karena terjadi rebutan aset di antara keluarga besar ayahnya.

Ratatex dan sejumlah pabrik besar di Kabupaten Sidoarjo bernasib sangat tragis. Usianya tak sampai 50 tahun. Padahal, biasanya perusahaan baru mulai meredup ketika dipegang generasi ketiga. Ratatex ternyata mati lebih cepat karena mismanajemen serta kegagalan beradaptasi dengan zaman yang berubah.

"Waktu saya kecil Ratatex itu sangat luar biasa. Semua orang Jawa Timur saya yakin tahu Ratatex. Paling tidak pernah memakai pakaian yang kainnya diproduksi Ratatex," kata Choirul, warga Balongbendo yang berusia 60an tahun.

Asal tahu saja, zaman dulu sangat jarang orang membeli pakaian jadi. Harus membeli kain, dibawa ke penjahit (tailor), ukur badan, kemudian dijahit. Kualitas kain-kain buatan Ratatex pun dianggap terbaik di tanah air.

Ah, itu semua cerita masa lalu. Saat ini, pertengahan Januari 2014, kawasan di sekitar eks pabrik Ratatex begitu lengang. Tak ada kegiatan ekonomi yang menonjol. Anak-anak muda kelahiran 1990an ke atas bahkan tak tahu bahwa Ratatex itu nama sebuah pabrik tekstil terkenal di Balongbendo.
Dus, bukan sekadar nama jembatan.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

12 comments:

  1. Seragam sekolah saya dulu selalu dibuat dari kain katun Ratatex. Walaupun sangat awet, sayang kain katun gampang lungset, sehingga waktu mencuci harus dikasih lem kanji, sedikit cukak dan blau. Waktu menyenerika harus disemprot dengan air.
    Kalau sudah mangkak harus direndam dengan cairan kaporit.
    Achirnya kain katun terdesak oleh kain Synthetik, Nylon, Tetoron dari Jepang.. Produkt2 Jepang membanjiri Indonesia, berkat Lobby yang lihay dari Sari Dewi Soekarno.
    Sebelum era Sari Dewi, semua mobil dan sepeda-motor yang ada di Indonesia adalah buatan Eropa dan Amerika. Misalnya Sepeda-motor : Zuendapp, Ducati, NSU, DKW, MV Agusta, Vespa, Kreidler, BSA, Norton, Jawa, HMW, Puch, bahkan buatan Rusia Minsk. dll. Mobil: DeSoto, Austin, Dodge, Ford, Chevrolet, Fiat, Sunbeam, Borgward, VW, Mercedes, Tatra, Praga, GAZ, Puch Haflinger, dll. Entah mengapa jaman dulu yang pakai mobil Peugeot kebanyakan anggota ALRI .Ada juga yang disebut Vespa Kongo, sebab dibawa oleh TNI Kontingent
    Garuda yang bertugas di Kongo.
    Ratatex bangkrut karena tidak menyesuaikan diri dengan kemajuan technik dan selera pembeli. Management-nya tidak flexible, merasa kuat karena didukung oleh kebijaksanaan pemerintah tempo doeloe. Pemerintah gonta-ganti, akibatnya peraturannya juga gonta-ganti.
    Semua pabrik mobil di Eropa Timur dan Rusia juga bangkrut, atau sahamnya sudah dibeli oleh pabrik2 mobil Barat, Jepang atau China.
    Contohlah Management PT. Wings Group , yang selalu menyesuaikan diri dengan kemajuan dan technologi yang modern dan tercanggih, Wings Group tidak mau berurusan dengan proyek pemerintah, sehingga bisa tidur ayem. Para Boss-nya Wings juga sangat sederhana, tidak sudi jadi selebriti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia untuk Xian Sheng yang selalu baca kita punya blog en kasih pencerahan begitu banyak tentang cerita2 tempo doeloe yang selalu menarik. Ini bekin kita lebih tahu latar belakang daripada begitu banyak hal yang ada di Surabaya, Sidoarjo, dan Indonesia pada umumnya.

      Kita berdoa semoga Xian Sheng selalu sehat lahir batin dan dikasih sehat oleh Sang Pencipta. Terima kasih paling banyak.

      Delete
  2. setuju banget... ratatex ini memang terlalu bergantung pada bekingan pemerintah sehingga kurang efisien. pabrik2 seperti ini tidak akan bertahan lama.

    ReplyDelete
  3. PT Ratatex dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

    Putusan pailit Nomor: 59/Pailit/2009/PN. Niaga.Jkt.Pst tanggal 19 Nopember 2009.

    ReplyDelete
  4. Masa kecil mulai 1964-70 orang tua dan anak-anaknya tinggal di kompleks Ratatex (Rahman Tamin Textil) di daerah Balongbendo, Sidoarjo. Setelah pabrik pailit sekarang tidak lagi di sana.

    Yang menjadi kenangan indah si empunya yang juga tokoh islam jawa timur (muhammadiyah) dan konon penggantinya sempat belajar di Al-Azar, Mesir punya banyak pegawai yang sebagian bisa tinggal di perumahan yang disediakan perusahaan itu. Dari berbagai agama lagi. Jadi kalau sabtu sore or minggu siang dan malam warga yang kristen dan katolik biasa mengadakan misa or kebaktian di rumah mereka. Kita-kita yang masih sangat kecil
    mendengar istilah kebaktian or misa dengan istilah "Sendasul".

    Sekitar tahun 80-90an (lupa), Bos Ratatex (Muchtar Tamin, alm) menghibahkan tanah ke warga sekitar Ratatex yang sudah menempati tanah Ratatex. Pokoknya sangat luas, karena wilayah pabrik masuk di dua desa.

    wahjoe dwiprijono

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Wahyu, yang anda ingat sebagai "sendasul" sbg anak kecil itu tidak lain ialah "Sunday School" alias sekolah minggu, yang wajib diikuti oleh anak-anak Kristen Protestan atau Katolik pada saat orangtua mereka mengikuti kebaktian atau misa.

      Delete
    2. Betul banget. SENDASUL itu tidak lain Zondags School atau Sunday School alias Sekolah Minggu yang biasa diadakan orang Kristen di rumah2 untuk katekese atau pembelajaran agama kepada anak-anak dan remaja.

      ZONDAGSSCHOOL itu kalau diucapkan dengan cepat kedengaran kayak SENDASUL. Tapi Sekolah Minggu bukan kebaktian atau misa. Orang Katolik di Balongbendo, Krian, dan sekitarnya sejak dulu misa hari Minggu di Krian yang umat Katoliknya cukup banyak. Karena dekat Mojokerto, kawasan Ratatex dan sekitarnya masuk Paroki Mojokerto. Tidak mungkin umat Katolik setiap minggu bikin misa di kompleks Ratatex Balongbendo. Yang sangat mungkin adalah Sekolah Minggu atau Sendasul tadi.

      Terima kasih sudah memperkaya informasi tentang seluk-beluk Ratatex.

      Delete
  5. sangat menarik cerita tentang kejayaan pabrik tekstil terbesar RATATEX kemudian bangkrut tanpa sisa sama sekali. jadi pelajaran hidup bagi kita semua. ambil hikmahnya!!!!

    ReplyDelete
  6. Saat ini warga yg tinggal d perum ratatex sedang di intimidasi oleh pihak luar yg tidak jelas..

    ReplyDelete
  7. banyak bangt kenangan di sini. opa saya dulu kerja di ratatex, dan oma saya tinggal di sana sampai 3 bulan lalu, karena perumahan itu akan digusur oleh pemilik barunya. seluruh anak" oma saya lahir di situ, termasuk ibu saya. waktu lebaran, keluarga pada berkumpul di sana, dan saya paling menantikan waktu itu.tapi, toh semua tinggal kenangan sekarang...

    ReplyDelete
  8. mau dijadikan apa tanah 12 hektar itu? kayaknya dijual ke pabrik lain ya? tanah eks ratatex itu sudah terlalu lama mangkrak, eman2 rek....

    ReplyDelete
  9. Skrng sudah rata dengan tanah.... tinggal cerobong eee. Huuuu kerennn sejarahmu.. .

    ReplyDelete