06 January 2014

Quo vadis NTT? Gubernur Frans Lebu Raya dikritik

Meski hanya semalam di Kupang, saya menangkap banyak keluhan masyarakat tentang petinggi provinsi. Kebetulan Gubernur Frans Lebu Raya tengah melantik anggota kabinetnya usai terpilih untuk masa jabatan kedua.

Gubernur Frans, seperti juga gubernur-gubernur sebelumnya, dinilai hanya memilih orang-orangnya saja. Sementara pejabat-pejabat cerdas, yang bukan orangnya, disingkirkan. Jadi staf ahli atau nonjob. Karena Frans berasal dari Flores Timur, kata seorang pengamat, banyak orang Flores Timur yang dipasang.

"Sekarang ini Adonara lagi naik daun. Dulu, waktu gubernurnya Piet Tallo, orang Timor yang naik daun," kata pengamat itu seraya tertawa kecil.

Obrolan santai sembari menikmati sei alias daging asap khas Kupang ini beroleh pembenaran esok harinya. Tiga koran lokal yang saya baca (Pos Kupang, Timor Express, Victory News) juga membuat liputan mendalam tentang mutasi pejabat eselon. Kata-kata yang dipakai bahkan terasa keras dan kasar.

Gubernur Frans dikritik sangat tajam. Tapi apalah artinya kritik kalau pejabat-pejabat itu sudah dilantik? Di NTT, ungkapan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu rupanya masih berlaku. Pejabat-pejabat baik di provinsi maupun kabupaten memang punya budaya politik seperti itu.

Prinsip manajemen the right man on the right place belum dikenal di NTT. Asas kekeluargaan yang berlaku. Tak peduli kualitas dan kompetensi, asalkan keluarga, kerabat, konco si pejabat akan dapat posisi. Dan itu terus berulang dari waktu ke waktu.

Karena itu, bisa dimengerti mengapa NTT sangat sulit maju. Pertimbangan-perimbangan rasional dan meritokrasi, seperti dibahas pengamat di Pos Kupang, sangat sulit diterapkan di bumi Flobamora itu.

Ya... Quo vadis NTT? Mau dibawa ke mana provinsi yang biasa dipelesetkan sebagai Nusa Terus Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu ini?

Kita hanya berdoa agar Nanti Tuhan Tolong!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Kenyataan miris yg harus diterima. Jangankan di NTT, di seluruh indonesia pun, kedekatan ideologi, partai, dll masih kalah jauh dibandingkan dengan kedekatan keluarga dll....

    ReplyDelete