14 January 2014

PKL bunga di Kalibokor digusur habis

Pagi tadi saya hendak mampir untuk ngopi + baca koran di warkop langganan saya di Kalibokor, Surabaya. Wow, rupanya telah terjadi sesuatu yang luar biasa. Tak ada lagi satu pun warkop yang tersisa.
Stan-stan bunga milik para tukang taman itu sudah rata dengan tanah. Bahkan pohon-pohon besar yang rimbun dan menciptakan hutan kota itu sudah tak ada lagi. Rupanya sekitar 40 pedagang dan tukang taman itu baru saja digusur menjelang atau sesudah tahun baru 2014.

Saya jadi ingat seorang ibu pemilik warkop, suaminya tukang taman terkenal, yang menyediakan warungnya untuk cangkrukan. Diskusi informal tentang politik, sepakbola, marketing, hingga tanaman. Kini tak ada jejaknya sama sekali.

Ke mana ibu muda yang putrinya sangat cantik itu? Ke mana pula ibu sepuh yang pisang gorengnya enak dan murah? Ke mana pula ibu asal Madura yang langganan koran dan bisa dibaca siapa saja itu?

Kalau dianalisis, puluhan pedagang bunga, tanah, pupuk, dan aneka perlengkapan taman ini jelas salah. Mereka buka stan di stren kali. Tanah itu juga jelas bukan milik mereka - meskipun katanya mereka sudah bayar upeti rutin kepada oknum tertentu.

Mereka juga salah karena membuat hunian semipermanen. Tapi mengapa baru sekarang dibersihkan? Mengapa tidak dari dulu ketika komunitas pedagang bunga ini jadi begitu ramai?

Inilah penyakit yang selalu berulang di Surabaya dan Sidoarjo. Selalu membiarkan bara kecil menjadi api yang besar, kemudian susah payah memadamkannya.

Mudah-mudahan kasus penggusuran pedagang bunga di Kalibokor Selatan ini menjadi pelajaran bagi pemerintah kota. Carikan solusi untuk pedagang-pedagang itu untuk mencari nafkah!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment