09 January 2014

Petani Lembata makin kecanduan "racun"

Lahan di Ile Ape, Lembata yang dipenuhi alang-alang.
 
Mulanya saya bingung mendengar kata "racun" saat ngobrol dengan masyarakat di Kabupaten Lembata, NTT. Setiap kali ada pertemuan dengan bapak-bapak, termasuk usai misa Natal di Gereja Atawatung, obrolan soal racun sangat heboh.

Racun apa? Akhirnya, saya tahu bahwa yang dimaksud adalah herbisida atau bahan kimia pembasmi rumput (gulma) di kebun. Orang kampung di Lembata memakai istilah khas: RACUN. Saat ini racun tak bisa dipisahkan dari kegiatan bercocok tanam di Lembata.

Jelas budaya racun rumput ini belum lama dilakoni petani-petani di Lembata. Namun, dalam tempo yang sangat singkat, hampir semua petani bergantung pada racun alias herbisida ini. Banyak petani yang tidak mau berkebun kalau dilarang pakai racun. Contohnya seorang ibu di Desa Bungamuda yang baru kembali dari Malaysia.

"Tak ada racun, mana kuat kita?" katanya. Maklum, pemilik lahannya seorang aktivis pertanian organik yang sangat anti segala bentuk bahan-bahan kimia. Apalagi racun pembunuh rumput yang sangat keras itu.

Dari mana petani-petani Lembata belajar memakai racun dan kemudian kecanduan? Jawabnya: Malaysia! Orang-orang kampung yang pulang merantau ternyata menyebarluaskan ilmu racun itu dengan menerapkannya di kebun-kebun. Khususnya kawasan Parek dan Walang yang alang-alangnya sangat bandel.

Begitu disemprot si racun, alang-alang sakti itu layu dan mati. Hanya butuh dua jam saja. Setelah empat jam, dengan syarat tidak hujan, alang-alang akan habis sama sekali. Kebun luas di kawasan Parek itu pun menjadi bersih. Siap ditanami jagung dan tanaman-tanaman lain.

Dengan racun, maka pola penyiapan lahan pertanian menjadi sangat berbeda. Tidak lagi butuh banyak tenaga. Tidak capek. Hasilnya pun efektif. Jagung yang dihasilnya? "Bagus dan besar-besar," kata warga kompak.

Tidak ada seorang pun petani di desa yang bilang racun atau herbisida itu jelek. Semuanya senang. Mereka melihat racun ini sebagai jawaban atas persoalan alang-alang di Kabupaten Lembata, khususnya Kecamatan Ileape dan Ileape Timur.

Hanya dosen-dosen dan pengamat di Kupang yang bilang racun itu sangat buruk. Bisa merusak lahan dalam jangka panjang. Dan sulit dipulihkan karena tanah telanjur rusak. "Racun itu sangat meracuni kehidupan petani kita. Hasil pertanian yang kita konsumsi pun pasti mengandung residu herbisida itu," kata seorang pengamat asal Ileape yang tinggal di Kupang, ibukota Provinsi NTT.

Sayang, pakar-pakar itu cuma omong doang. Teori thok! Tidak memberikan bukti dengan misalnya membuat kebun organik percontohan yang benar-benar bebas dari racun dan aneka pupuk kimia. Karena itu, petani-petani di kampung tetap asyik menggunakan racun untuk membasmi rumput liar di kebun. Pakar-pakar itu malah jadi bahan tertawaan petani di desa.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Lembata pun tak punya sikap yang jelas dalam menghadapi budaya racun di Lembata. Diam saja melihat petani-petani di desa keranjingan racun. Belum ada pengarahan tentang untung rugi obat-obatan pertanian itu. Bahkan, saya dengar banyak pegawai negeri pemkab yang menjadi agen dan pedagang racun.

"Sangat sulit menghentikan racun ini," kata seorang caleg yang tinggal di sentra pertanian Waikomo, Lewoleba, kepada saya.

Di Jawa Timur, setahu saya, para petani menyiapkan lahan dengan membajak pakai traktor atau secara tradisional dengan kerbau. Penggunaan herbisida sangat minimal di Jawa. Bahkan pertanian organik makin ngetren karena komoditas organik makin disukai masyarakat kelas tengah atas yang sangat sadar kesehatan.
Pemkab Lembata plus DPRD Lembata perlu serius mengkaji budaya semprot racun di Lembata.

Kita khawatir hanya meninggalkan warisan berupa lahan pertanian tanpa hara kepada generasi mendatang.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment