17 January 2014

Nadya Permata pedangdut Sidoarjo



Sidoarjo memang gudangnya penyanyi dangdut di Jawa Timur. Orkes-orkes dangdut terkenal yang menasional pun banyak yang berasal dari kabupaten yang terkena lumpur Lapindo itu.

Tidak heran, sebagian besar acara di Surabaya selalu ada dangdutnya. Entah itu acara pemerintah, swasta, perkenalan produk, sosialisasi caleg, mantanen, hingga pesta sekolah.

Tinggal di Sidoarjo membuat saya cepat hafal beberapa lagu dangdut populer. Lagunya juga itu-itu saja. Beda dengan lagu pop yang sangat cepat berubah dengan begitu banyak lagu baru.

Pagi tadi, saya ngobrol agak lama dengan Nadya Permata di Puri Indah, Desa Sidodadi, Kecamatan Candi. Artis dangdut asal Kalitengah, Tanggulangin, ini mengisi acara lomba kebersihan tingkat kabupaten bertajuk Sidoarjo Bersih dan Hijau. Nadya memang paling sering ditanggap mengisi acara-acara keliling kampung di Sidoarjo dan Surabaya.

"Lebih enak ngisi acara kayak gini ketimbang ikut orkes," kata wanita 25 tahun yang sudah jadi istri orang itu. Enak itu maksudnya bayarannya lebih bagus, tidak dibagi-bagi banyak orang.

Sejak usia 14 tahun Nadya sudah aktif nyanyi, ngedangdut, karena itu tadi. Lingkungan tempat tinggalnya di Kalitengah, tak jauh dari lumpur Lapindo, memang sangat kondusif untuk dangdut ria.

Nadya suka musik apa saja, tapi dangdut paling favorit. Apalagi dia sudah tahu rasanya dapat duit dari dangdut. Akhirnya, keterusan menyanyi dari orkes ke orkes, kemudian memilih freelanche.

Dia juga ternyata kurang suka nyanyi di kafe atau pub karena lingkungannya gimana gitu lho. Rupanya Nadya masih selektif memilih tanggapan. Apalagi dia punya suami yang bukan musisi atau pengurus orkes yang senang dugem atau hiburan malam.

Asyik juga bicara dengan Nadya. Kelihatan angkuh di atas panggung, tapi ramah di belakang panggung.
Gantian dia bertanya tentang konsep lomba kebersihan, proses bikin koran, hingga diskusi tentang perkembangan dangdut di Jawa Timur.

Saya ingatkan bahwa konsumen-konsumen dangdut sekarang lebih suka penyanyi cewek yang bening, good looking, bodi proporsional, goyangan oke, dan tentu saja suara yang tidak mengecewakan. Umur 28 sudah sulit dijual.

Nadya ternyata sangat sadar soal ini. Namun dia tetap enjoy karena bisa menyalurkan hobi sambil bekerja. Hidup serasa indah, selalu gembira.

Obrolan pun terhenti karena Nadya segera naik panggung. "Masih mau goyang!!!" teriaknya.
Lalu meluncurlah lagu Kereta Malam.

"Pernah sekali aku pergi
Dari Jakarta ke Surabaya
Untuk menengok di sana
Mengendarai kereta malam


Cukicukicukicuk...
Kereta berangkat
Cukicukicukicuk...
Hatiku gembira...."


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

3 comments:

  1. Body dan wajah nonik Nadya sangat cocok dengan selera lelaki Jawa Timur. Semok ! Takutnya sepuluh tahun mendatang dari semok akan berubah menjadi lemu.
    Saya merantau kenegeri orang 47 tahun silam, seingat saya dulu
    body perempuan Indonesia sangat indah, langsing, semampai,
    gemulai dan singset. Kenapa sekarang kebanyakan perempuan Indonesia badannya berubah jadi gemuk, seperti gentong ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... gak wani komen. sekarang gizi di Indonesia makin bagus, olahraga jarang, jalan kaki gak ada, sehingga di mana2 orang makin gemuk. penyanyi dangdut yg terlalu kurus kayak model biasanya disuruh turun. matur suwun wis komen.

      Delete
  2. hah sidoarjo bergoyang?
    hati2 kena azab

    ReplyDelete