08 January 2014

Minum arak makin gila di NTT


Proses pembuatan arak di Lembata, NTT.


 Tiba di Surabaya, saya membaca berita menarik. 14 orang meninggal dunia di Mojokerto karena minum cukrik alias arak jawa. 

Wow, sebelumnya tiga manusia mati di Sidoarjo karena minuman keras itu. Sebelumnya lagi di Surabaya pun sudah banyak korban berjatuhan. Tapi cukrik alias arak ini masih tetap dicari orang.

Saat berlibur di NTT, khususnya Kabupaten Lembata, saya kaget melihat begitu banyak remaja di desa yang kecanduan arak. Nongkrong di pinggir jalan atau kumpul di tempat tertentu lalu BEHING (minum minuman keras) bersama-sama. Acara baru selesai ketika akal sehat mulai tidak jalan.

"Arak di sini paling laku saat Natal dan tahun baru. Setiap hari ada saja orang yang datang beli," kata saudari sepupu saya yang ternyata penjual arak kelas wahid di kampung.

Budaya minum tuak di NTT yang dulu sangat populer rupanya mengalami pergeseran. Tuak yang tak lain nira pohon siwalan dianggap minuman ringan sekelas teh atau kopi karena kadar alkoholnya rendah.

Fermentasi alkohol belum banyak karena diiris pagi diminum sore. Bahkan kalau benar-benar bersih, tuak menjadi sangat manis. Dipakai untuk membuat gula merah atau gula lempe, kata orang NTT.

Maka tuak putih itu harus dimasak dulu. Disuling untuk dimbil alkoholnya. Proses destilasi selama 4-5 jam ini menghasilkan arak dengan kadar alkohol sangat tinggi. Cairan yang keluar paling awal disebut arak kepala dengan kadar alkohol super tinggi.

Arak yang bagus, kata para peminum di NTT, adalah yang keras. Dibakar bisa menyala. "Minum tuak itu cocok untuk perempuan. Laki-laki harus yang keras," kata seorang mantan TKI yang hobi minum arak.

Gila!

Harga arak di Lembata sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per botol aqua tanggung ukuran 600 ml. Khusus arak koten alias arak kepala Rp 60 ribu per botol. Di kota kabupaten biasanya si penjual ambil untung Rp 5000.

Kebiasaan minum arak cenderung makin gila di NTT, khususnya di kalangan anak muda, karena gaya hidup yang berubah. Sebagian besar anak muda sekarang tidak mau lagi bekerja di kebun atau melakoni pekerjaan kasar seperti orang tua atau kakek neneknya dulu.

Waktu luang yang banyak itu diisi dengan kongko-kongko atau cangkrukan. Si arak jadi teman ngobrol ngalor ngidul tak karuan itu. Orang yang pendiam pun biasanya berubah jadi cerewet kayak politisi di Jakarta setelah menenggak arak asli buatan orang kampung.

Yang menarik, meski sejak dulu budaya minum arak ini sudah merajalela di NTT, saya tak pernah mendengar ada orang mati karena minum arak. Padahal arak yang diminum jauh lebih banyak daripada di Jawa Timur. Karena itu, polisi pun tidak pernah merazia arak di Lembata atau Flores Timur.

"Polisi-polisi di sini malah paling doyan minum arak. Mereka bilang arak di Lembata ini jauh lebih enak ketimbang di Jawa," kata seorang teman yang juga peminum berat.

Saya sendiri berhenti minum arak dan tuak sejak SD di kampung. Dulu, ketika masih bocah, saya diam-diam mencoba minum arak dari gelas kecil. Mata kunang-kunang, bumi bergoyang, dan saya langsung pingsan. Sejak itu saya trauma dengan semua jenis minuman keras mulai dari tuak, bir, arak, hingga miras buatan pabrik.

Saran saya: Sebaiknya kita hanya minum air putih, teh, atau kopi!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. setuju bang, masih mending arak/sopi di kampung daripada minuman keras di jawa..
    tapi lebih mending lagi kalo tidak minum arak/sopi, lebih sehat fisik dan psikis..

    ReplyDelete