11 January 2014

Mampir di GKJW Mlirip Mojokerto



Baru saja saya mampir di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlirip. Lokasinya di dekat sungai yang membagi Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto. Gereja ini masuk Desa Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Pak Supardi sedang sibuk membersihkan gereja tua itu. Ruangan dalam bersih dan terawat. Ada kandang Natal layaknya Gereja Katolik. Aksesorisnya pun tak jauh berbeda. Bedanya hanya tak ada Corpus Cristi atau sosok Yesus Kristus di salib.

Saya mengucapkan Sugeng Natal + Enggal Warsa kepada Pak Supardi. Dan obrolan pun langsung hangat layaknya kenalan lama. "Saya pernah ke Larantuka," kata pensiunan karyawan perusahaan bumbu masak terkenal itu.

Wow, Larantuka. Ibukota Kabupaten Flores Timur itu boleh dikata kampung halaman saya. Tempat sekolah saya usai tamat SD di Lembata. Saya pun kaget karena Pak Pardi ternyata tahu banyak tentang Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya. "Mas ikut paroki apa?" tanyanya.

Wow, rupanya dia langsung memastikan bahwa saya Katolik dengan menggunakan istilah khas Katolik: paroki. Ya, orang Flores atau NTT bagian utara memang sering dianggap Katolik semua meskipun faktanya tidak demikian. Umat Islam cukup banyak. Tapi umat Kristen Protestan memang tidak ada. sebaliknya, di NTT bagian selatan (dulu) hampir tidak ada orang Katolik. Yang ada cuma umat Kristen Protestan jemaat Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) yang satu aliran dengan GKJW atau GPIB di Jawa Timur.

Benar dugaan saya bahwa GKJW Mlirip dibangun pada zaman Belanda. Model aslinya dibuatkan miniatur untuk tempat menyimpan uang kolekte. Gereja yang sekarang sudah renovasi beberapa kali, tapi bentuknya tidak berubah. GKJW Mlirip ini juga menjadi bukti keberadaan umat kristiani di kawasan Jetis, Tarik, Balongbendo, dan sekitarnya sejak dulu.

Pak Pardi bercerita, dulu gereja ini pernah dirampas Jepang. Dijadikan gudang senjata dan peluru. Setelah Jepang kalah, bahkan sempat dikuasai kelompok revolusioner yang antigereja. Tapi, syukurlah, GKJW Mlirip akhirnya kembali ke pangkuan umat Kristen Protestan. Khususnya denominasi GKJW, cikal bakal gereja pribumi di tanah Jawa Timur.

"Dulu banyak karyawan Tjiwi Kimia yang kebaktian di sini. Sekarang agak jarang. Jemaat kami mayoritas dari Jetis, Tarik, dan sekitarnya," ujar bapak yang sangat peduli gereja tanpa bayaran itu.

"Alkitab mengatakan upahmu besar di surga!" Saya mencandai koster sukarelawan ini. Pak Pardi tertawa kecil. "Yah, ketimbang nanggur di rumah, ya, mending bersihkan gereja. Untuk kebaktian besok," ucapnya.

Dipimpin Pendeta Digdo Tjahjanto, GKJW Mlirip mengadakan satu kali kebaktian hari Minggu pukul 06.30. Wilayah GKJW Sukorame ini terdiri dari jemaat Mlirip, Sukorame, Glagahan, Sidorejo, dan Kesamben. Kebaktian dalam bahasa Jawa halus alias krama inggil.

Seperti GKJW-GKJW di tempat lain, menurut Pak Pardi yang asli keturunan umat Kristen di Mojowarno, GKJW Mlirip tak bisa lepas dari budaya Jawa yang kental. Sopan santun ala Jawa tempo doeloe sangat terasa. Karena itu, mereka mudah bersahabat dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang baru dikenal.

Matur nuwun Pak Pardi!

6 comments:

  1. Bung Hurek yang budiman, Syukur Alhamdulillah, masih ada sopan santun ala Jawa tempo doeloe.
    Anak2 saya ada 4 jumlahnya, mereka lahir dan besar di Eropa, bahkan sekarang sudah beranak.
    Dua puluh tahun silam kami sekeluarga mengunjungi mama-saya yang tinggal di-Surabaya, rumahnya dikampung dalam Gang, yang penduduknya mayoritas pribumi, hanya ada tiga keluarga Tionghoa, termasuk mama.
    Anak2-saya selalu menyalami anak2 kampung, tetangga, jika bersua, dengan hormat, mengucapkan Selamat pagi, dengan bahasa Indonesia. Namun anak2 pribumi hanya diam, tidak membalas sapaan. Kejadian ini berulang kali. Anak-saya yang ketiga achirnya bertanya kepada saya; Pa, mengapa anak2 tetangga tidak membalas salaman-ku ? Mengapa mereka acuh tak acuh disalami orang secara baik2 ? Bagaimanakah saya harus menjawab pertanyaan ini ? Bagaimana saya harus menerangkan kepada anak kecil asal luar negeri, tentang bathin masyarakat kita yang sedang sakit ini.
    Dari Surabaya kami pergi ke Yogyakarta, ketika akan masuk kedaerah Keraton, disamping gapura duduk seorang bapak tua,
    saya katakan sambil membungkukkan badan: Permisi Pak, kulo nuwun sewu. Si Bapak berdiri terperangah, memandang saya dengan wajah yang penuh keheranan. Beliau tidak menjawab,
    hanya berguman perlahan-lahan; Kamu sangat sopan, kamu sangat sopan.
    Mungkinkah fenomena diatas, disebabkan karena warga Tionghoa yang rumahnya gedongan dan tinggal didaerah elit, memandang sebelah mata kepada rakyat jelata, jika mereka berjalan masuk kampung didalam gang ?
    Mungkinkah disebabkan karena para touris Tionghoa, baik dari dalam- maupun luar-negeri, selalu mengabaikan seorang tua penjaga pintu yang berpakaian lusuh ?
    Semoga kondisi yang menegangkan ini, bisa ber-angsur2 membaik. Semoga Yuk A-Hok tetap bercokol di Jakarta dan di Belitung saja. Ojo teko nyang Suroboyo, mergone wong Jowo Timur ora kenekan. Sing kenek getahe engkok wong liane.

    ReplyDelete
  2. sekedar info mas . bapak pdt digdo sudah pindah ke suabaya mulyosari,, dan sekarang pepantan glagahan sudah berdiri menjadi jemaat sendiri

    ReplyDelete
  3. gereja desa yg menarik.

    ReplyDelete
  4. Sekedar info mas, anak pak digdo namanya dhito dan dheta....

    ReplyDelete
  5. sekedar koreksi mas... nama orang yg diajak bicara mas bro bpk. suryadi bukan bpk. supardi

    ReplyDelete
  6. yg diajak bicara pak suryadi bukan pak supardi mas bro...

    ReplyDelete