20 January 2014

Makin sulit bersyukur dan berterima kasih

Di masa lalu, di pelosok NTT, orang kampung begitu terpesona dengan hadiah kecil. Dikasih permen, wow, senangnya minta ampun. Dikasih es lilin pun demikian. Apalagi dikasih hadiah pakaian atau buku tulis.

Tapi zaman sudah berubah. Virus konsumerisme yang disebarkan televisi, gaya hidup yang berubah, konsumsi gadget yang sampai ke desa, membuat orang-orang desa makin sulit bersyukur. Bilang terima kasih atas sesuatu pemberian saja susah.

Padahal, gift saat ini bukan lagi permen, es, atau kaos yang murah harganya. Ini juga yang membuat warga NTT di rantau, khususnya yang pernah mengalami masa anak-anak di kampung yang belum ada listrik, belum ada televisi, sangat prihatin.

"Saya kirim HP yang lumayan mahal, Rp 400 ribuan, bukannya bilang terima kasih, tapi malah protes. Kok yang dikirim HP yang ketinggalan zaman? Kameranya kok jelek," ujar teman asal Flores Timur menceritakan pengalamannya.

Mengirim laptop, yang harganya jelas jauh lebih mahal dari pisang goreng atau permen, pun belum tentu bikin senang. Ini karena orang desa sudah punya ilmu komparasi. Mereka membandingkan laptop yang dikirim dari Jawa itu dengan laptop dari Malaysia yang memang speknya beda.

"Masa, laptop dari Jawa kalah sama Malaysia?" ujar teman lain menirukan protes keponakannya di kampung.

Hehehe... Jelas beda karena teman itu mengirim netbook, bukan laptop. Pasti berbeda jauh spesifikasi dan harganya. Teman itu sedih karena sudah keluar uang banyak untuk beli hadiah netbook, tapi malah diprotes. Bukannya terima kasih yang dia dapat.

Yah, rupanya telah terjadi perubahan mentalitas yang luar biasa di pelosok negeri ini. Kata terima kasih makin sulit kita temukan ketika membaca SMS atau telepon dari jauh. Sebagian besar SMS yang masuk dari orang kampung berisi permintaan.

Minta tambahan kiriman lagi karena uang yang dikirim kurang. Minta HP baru karena HP yang ada ketinggalan zaman. Minta ini karena sebentar lagi ada itu. Mereka rupanya tidak tahu, dan tidak tahu, beratnya orang NTT hidup di rantau.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

2 comments:

  1. Sifat materialistis orang2 Asia achir2 ini , memang sangat memprihatinkan. Kata Terima Kasih yang tulus sangat susah keluar dari mulut seseorang..
    Jika saya berkunjung ke Indonesia, selalu saya ucapkan Terima Kasih kepada sopir atau pembantu, untuk jasa yang dilimpahkan kepada saya. Saya amati para PRT Indonesia ter-sipu2, jika ada saudara dari majikan yang mengucapkan terima kasih. Saya merasa senang melihat PRT membalas dengan senyuman manis.
    Di Tiongkok saya selalu memberhentikan mobil-saya didepan Zebra-Cross, jika melihat ada orang yang mau menyeberang jalan. Tetapi anehnya penyeberang jalan, biasanya anak2 muda, tidak ada yang berani menyeberang. Mereka menatap muka-saya terlebih dahulu sambil geleng2 kepala, dia pikir apakah sopir ini sudah gila. Sopir-saya, Cina tulen, tidak pernah mau mengalah terhadap pejalan-kaki atau terhadap pengguna jalan yang lainnya. Kalau saya tegur, malah ngelamak.
    Orang2 tua di Tiongkok lain lagi ulahnya, nyeberang jalan sesuka udelnya, seperti ayam atau babi.
    Jika Bung Hurek kebetulan kenegeri Cina, amatilah sifat brengsek orang Cina mengendarai mobil. Tidak ada yang mau mengalah, semuanya merasa jalanan adalah milik neneknya.
    Generasi muda akan meniru sifat2 generasi tua. Benua Asia masa datang akan mengalahkan benua2 lainnya dalam hal kekayaan material, namun dalam hal perilaku dan kesopanan, orang2 Asia akan tambah mundur.

    ReplyDelete
  2. Membaca blog" anda, membuat saya membuka mata lebar", mengubah pandangan saya menjadi lebih luas,
    terima kasih anda sudah begitu rajin menulis membagikan apa yang anda tahu untuk pembaca lainnya.
    untuk artikel " Makin sulit bersyukur dan berterima kasih " saya pribadi setuju bgt saya pun penah berada di posisi senyesek itu haha :D ketika kita memberi sejujurnya kita tidak mengharapkan pujian tapi setidaknya sebagai sesorang yang tau etika ada lah sepenggal kata " terima kasih" bukan malah menuntut yang lebih dan lebih.

    ReplyDelete