23 January 2014

Kasus Erwiana dan Ekspor TKI

Kita prihatin dengan Erwiana Sulistyaningsih, tenaga kerja Indonesia (TKI) alias buruh migran yang dianiaya majikannya di Hongkong. Di sisi lain, kita pun salut pada polisi Hongkong yang turun langsung untuk menangani perkara pidana ini hingga ke Sragen, Jawa Tengah.

Kita boleh marah tapi harus tetap objektif. Mengapa? Apa yang dialami Erwiana ini kasuistis. Kebetulan gadis itu mendapat majikan yang sadis dan rada gila. Apes!

Kementerian Tenaga Kerja menyebutkan,  jumlah TKI yang bekerja di Hongkong per Juli 2013 150.236 orang. Paling banyak dibandingkan pekerja asing dari negara mana pun di dunia. Ini menunjukkan bahwa kasus Erwiana ini hanya satu dari 150 ribu TKI yang apes.

Jauh lebih banyak TKI yang asyik saja bekerja di Hongkong meski kita sering baca curhat mereka di blog yang rata-rata negatif. Tapi mau bagaimana lagi?

Menjadi pembantu rumah tangga itu ya tentu beda rasanya dengan jadi bos atau majikan. Pembantu di Indonesia bahkan lebih parah karena tidak ada kontrak tertulis macam di Hongkong. Bayaran di Hongkong pun jauh lebih bagus.

Karena itu, rasanya rada berlebihan kalau Presiden SBY sampai turun tangan langsung untuk mengurusi seorang Erwiana. Cukup KBRI di Hongkong mendesak kepolisian setempat memproses hukum sang majikan.

Liputan media yang setiap hari membahas Erwiana pun sudah kebanyakan. Bukankah di mana-mana selalu ada majikan yang jahat? Memangnya di Indonesia semua majikan lebih manusiawi ketimbang laopan di Hongkong?

Kita sering lupa bahwa Indonesia ini masih negara miskin meskipun penduduknya paling banyak main facebook, twitter, dan media sosial lainnya. Kita lupa negara ini belum mampu memberi makan kepada semua penduduknya.

Apa boleh buat, kita menjadi negara pengekspor pembantu terbesar di dunia. Mungkin semua rumah tangga di Hongkong punya pembantu asal Indonesia.

Maka, Presiden SBY dan presiden-presiden berikutnya perlu mencontoh Malaysia. Ciptakan sebanyak mungkin pekerjaan di dalam negeri dengan upah yang sangat layak. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk menghentikan ekspor pembantu ke luar negara.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Bung Hurek yang budiman, jika Ibu Pertiwi sudah terpaksa mengexport TKI/TKW, mengapa tidak mencoba untuk dikirim ke Eropa Barat, sebab negara2 Eropa sekarang kekurangan tenaga perawat untuk merawat penduduknya yang makin tua.
    Mungkin jika nasib yang baik, selama mereka bekerja, bisa menemukan pasangan yang cocok, baik dan kaya. Tetapi harus berdasarkan cinta sejati, suka sama suka.
    Saya sering mendengar kata-kata yang keluar dari mulut cewek2 Indonesia ; Oom, saya ingin menikah dengan cowok bule, demi memperbaiki keturunan. Masya Allah, pikir saya, apakah lu kira lelaki Indonesia seperti lutung. Karena saya cino, ya hanya bisa menggerutu dalam hati. Seandainya cewek cina yang berkata demikian didepan saya, pasti saya maki dia.

    ReplyDelete