18 January 2014

Jakarta Banjir - Hikmahnya Banyak

Banjir di Jakarta menjadi pemandangan rutin setiap tahun. Banyak wacana dan sedikit action yang dilakukan, tapi banjirnya malah makin ganas. Salah siapa?

Jokowi? Daerah tetangga yang kirim banjir? Anomali iklim? Hilangnya area resapan air? Tiap tahun selalu kita dengar analisis macam ini. Tapi, yang pasti, korban banjir makin menderita karena rumahnya terendam.

Di televisi kita lihat banjir mencapai leher orang dewasa atau sekitar 1,5 meter. Sangat mengerikan!

Lantas, apa solusinya? Gubernur Jokowi dan wakilnya, Ahok, pasti lebih tahu. Bukankah Jakarta itu pusatnya orang pintar dan jenius? Kita yang di daerah, apalagi NTT, tak usahlah mengajari orang Jakarta yang hebat-hebat itu.

Tapi, setelah menyepi di sebuah situs kuno peninggalan Kerajaan Majapahit, saya iseng-iseng punya usulan yang agak ekstrem. Usulan yang sudah pasti tidak akan dibahas oleh Jokowi.

Apa itu? Transmigrasi! Penduduk Jakarta yang 10 juta (atau 15 juta?) itu harus dikurangi setengahnya alias 50 persen. Jika bisa dilaksanakan Jakarta akan lebih manusiawi, macet berkurang, penataan sungai dan infrastruktur lain lebih mudah.

Transmigrasi di sini bukan transmigrasi yang lazim ke Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi karena orang Jakarta tidak mungkin jadi petani. Tapi transmigrasi di kota-kota kecil di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun kota-kota di Sumatera atau. Kalimantan.

Selain Kota Jakarta menjadi gembos, karena penduduknya turun banyak sekali, kota-kota lain di Indonesia akan lebih cepat maju. Berkat kedatangan orang Jakarta yang pintar-pintar itu.

Jakarta menjadi macet, sesak, nyaris tak ada space, antara lain karena penyakit centermania yang dikembangkan sejak Orde Baru. Indonesia hanya punya satu center pertumbuhan, yakni Jakarta. Uang beredar hanya menumpuk di Jakarta.

Maka, Surabaya bukan lagi kota nomor dua di Indonesia, tapi nomor 10. Nomor 1 sampai 5 Jakarta: Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur. Nomor 6-9: Tangerang, Depok, Bekasi, Bogor. Surabaya nomor 10.

Jika tidak ada kebijakan yang ekstrem, maka 100 Jokowi pun tak akan bisa mengatasi banjir dan macet di Jakarta. Alam sudah memberikan sinyal yang kuat kepada kita melalui banjir yang dahsyat. Tapi kita biasanya lupa setelah banjir surut, dan melek lagi setelah banjir tahun depan.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

7 comments:

  1. Setuju, Bang. Pembangunan gedung2 terlalu cukup buat Jakarta. Herannya tetap saja di sana sini pembangunan gedung.

    ReplyDelete
  2. Kedatangan orang Jakarta yang pintar2 menuai berkah bagi daerah ???? Bung Hurek yang baik, selama saya hidup dipulau Bali, sampai tahun 1960, belum pernah saya melihat orang Bali Asli yang membangun rumah mereka dipinggir kali atau ditepi pantai. Jarak antara pantai dengan perkampungan minimum 3
    kilometer dan jarak kesungai minimum 1 Km. Dimusim hujan
    air sungai memang sering meluap, namun tidak ada istilah kebanjiran.
    Sejak orang2 pintar dari Jakarta dan Surabaya ber-bondong2 datang menbangun ke Bali, maka sungai2 tempat saya mandi,
    berenang dan mancing, sekarang berubah menjadi got dan gorong2.
    Tiga tahun silam saya datang berkunjung ke Banjar Balun Denpasar, tempat kelahiran saya. Bertemu dengan seorang teman lama yang pensiunan Mobrig berpangkat AKP. Saya mohon kepadanya untuk menunjukkan tempat kita bermain tempo doeloe. Saya kaget melihat Tukad Banjar-Ubung, sungai
    tempat kita doeloe mandi dan mancing, berubah menjadi got yang dangkal dan dipenuhi dengan bangunan perumahan.
    Saya bilang koq bisa jadi sedemikian ? Jawab si-polisi ; ya inilah
    akibat ulah orang2 Jakarta dan Surabaya.

    ReplyDelete
  3. banjir dari dulu sampai sekarang ijin menyimak salam kenal dan semoga sukses sobat

    ReplyDelete
  4. kebijakan ekstrim itu akan dpt diambil jika Jokowi menjadi presiden karena dia pasti akan mende-sentralisasi pembangunan dari Jakarta.....

    ReplyDelete
  5. 10.2.2015 Jakarta dikepung banjir. Ahok menyalahkan PLN karena mematikan aliran listrik, sehingga pompa pembuangan air tak berfungsi. Selalu orang lain yang disalahkan. Emangnye listrik harus dijalankan terus, walaupun banjir, biarlah orang2 Jakarte mati tersengat listrik ? Mengapa tidak pasang motor diesel untuk menggerakkan pompa, supaya autark ? Apakah jiwa orang Indonesia lebih murah daripada sebuah mesin diesel ? Logikanya tak benar.
    Memang pangkal masalahnya bukan di Ahok, melainkan bobroknya infra-struktur.
    Seandainya Ahok sewaktu kampanye Pilgub tidak takabur, sesumbar, bisa menyelesaikan masalah banjir dan macet di Jakarta, tak akan ada orang yang mengkritik dia. Mangkanya jadi manusia jangan sombong.
    Sejak tahun 1960 Presiden Soekarno telah memahami ketidakberesan infra-struktur di Jakarta, namun beliau sejak Kemerdekaan, memiliki prioritas lainnya,
    penumpasan pemberontakan2 dan pembebasan Irian Barat.
    Lupakan kota Jakarta, siapapun gubernurnya, seratus tahun kemudianpun, tidak akan beres, malah tambah parah. Mengapa ? Jawabannya, Fauzi Bowo juga sudah tahu, hanya saja beliau tak berdaya, seperti dokter harus mengobati
    seorang pasien yang penyakit kanker-nya telah menjalar keseluruh tubuh.
    Anehnya kok politisi berebut ingin jadi gubernur DKI, walaupun mereka sadar,
    tak akan mampu menyelesaikan masalah di Jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget Xiangshen. "Lupakan kota Jakarta, siapapun gubernurnya, seratus tahun kemudianpun, tidak akan beres, malah tambah parah. Mengapa ? Jawabannya, Fauzi Bowo juga sudah tahu, hanya saja beliau tak berdaya, seperti dokter harus mengobati
      seorang pasien yang penyakit kanker-nya telah menjalar keseluruh tubuh."

      Menghilangkan banjir di Jakarta itu (pinjam istilah Srimulat) adalah HIL YANG MUSTAHAL.

      Delete
  6. Biasanya cuma ramai di televisi saat banjir hebat, kemudian dilupakan lagi oleh isu2 kacangan kayak KPK vs Polri dan sejenisnya. Pemerintah dan rakyatnya lupa. Kemudian ingat lagi tahun depan ketika banjir lagi. Akar permasalahan tidak pernah diatasi. Itulah Indonesia.

    ReplyDelete