16 January 2014

Hidup tanpa koran di pelosok NTT



Melihat mas itu membawa koran retur begitu banyak di Surabaya, karena tidak laku, saya langsung teringat Nusa Tenggara Timur (NTT). Khususnya daerah pedalaman macam Lembata yang jauh dari Kupang. Setiap pagi saya ingin baca surat kabar, tapi tak ada barangnya.

Saya cek ke tiga desa, ke orang yang punya reading habit. Termasuk caleg yang dulu berlangganan koran lokal. Hasilnya nihil. Tak ada koran. Saya kemudian menemukan koran bekas terbitan Sabah, Malaysia Timur, di rumah seorang kerabat jauh. Koran yang sudah berumur satu tahun lebih.

Mana koran mingguan Dian? Mana Hidup, majalah mingguan Katolik terbitan Jakarta, yang dulu jadi bacaan wajib kami di SD? Mana Suara Karya yang dulu menumpuk di rumah kepala desa dan bisa dibaca kapan saja?

Celakanya, bapak saya yang dulu berlangganan Dian, Hidup, dan beberapa majalah lain tak langganan lagi. Sebab Dian sempat mati cukup lama. Distribusi tidak jalan meski penerbit di Ende coba menerbitkan lagi.
Maka, tak ada lagi acara membaca bersama di rumah. Orang tua baca Dian dan Hidup, sementara anak-anak baca Kunang-Kunang, majalah anak terbitan Ende. Tak ada latihan menyanyi lagu baru yang dulu selalu dimuat majalah Hidup, Jakarta.

Acara rutin adalah menonton televisi. Ini perubahan habit yang luar biasa setelah parabola masuk desa. Kualitas gambar di kampung, Lembata, malah jauh lebih bagus ketimbang televisi biasa di Surabaya. Jelas banget gambarnya ala TV di hotel berbintang.

Sayang, acara yang ditonton di kampung saya bukan berita atau feature di TVOne, Metro TV, NHK, BBC, atau National Geographic. Yang ditonton ramai-ramai justru kuis yang dipandu Tukul Arwana serta sinetron.
Adik kandung saya benar-benar kecanduan sinetron. Ketika saya pindahkan channel, mereka semua akan marah. Saya pun mengalah. Lalu pergi ke bukit atau tepi pantai untuk mencari sinyal seluler. Agar bisa buka internet.

Yah, internet memang berkah luar biasa bagi manusia untuk mendapat informasi tentang apa saja. Informasi di internet jauh lebih cepat, aktual, bisa diakses kapan saja. Begitu banyak yang bisa kita baca di internet.
Tapi, dasar orang koran, yang pernah jadi pengantar koran Dian untuk para pelanggan di Desa Mawa, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, semasa SD di kampung, saya tetap merindukan surat kabar. Koran lokal, koran nasional, atau koran internasional, atau apa saja yang bisa dibaca.

Saya melihat ada kontradiksi luar biasa di Lembata. Dulu, ketika koran di NTT hanya DIAN (dua mingguan, kemudian jadi mingguan), gairah membaca sangat tinggi di kampung. Meskipun yang dibaca itu koran lama yang beritanya sudah basi. Satu koran atau majalah Kunang-Kunang dibaca banyak orang.

Sekarang di NTT sudah terbit begitu banyak koran. Ada Pos Kupang, Timor Express, Victory News, Warta Flobamora, Flores Pos, dan entah apa lagi. Tapi, anehnya, koran-koran itu tidak sampai di pelosok Lembata.

Tiba di Kupang baru saya baca koran setempat. Wow, Bupati Ngada jadi tersangka karena memerintahkan blokade bandara di kampungnya. Mantan wali kota Kupang ditahan karena korupsi. Ada kasus pembunuhan beraroma politik di Lembata. Flores Timur ternyata punya banyak masalah.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment