30 January 2014

Selamat Tahun Baru Imlek 2565!



Kemarin sore saya mampir ke Kelenteng Tjong Hok Kiong, Sidoarjo. Bu Tatik bersama beberapa ibu lain sibuk menyiapkan tebu. Tebu yang panjang dipotong-potong, dibungkus kertas merah, untuk persembahan saat Sin Cia atau tahun baru Imlek.

Ada juga kue keranjang tradisional. "Ayo, saya antar ke dalam. Tapi saya jangan difoto lho," kata Bu Tatik.

Nah, di altar Dewan Kwan Kong itu sudah ada persembahan khas Imlek. Kue keranjang, tebu di piring, kembang dari kertas, dan beberapa lagi. Kata Bu Tatik, umat mengadakan sembahyang tengah malam untuk menyambut tahun baru sekaligus melepas tahun lama.

Tahun ular diganti tahun kuda. Kerja harus lebih keras, tahan banting, ngeyel, kuat... seperti kuda kalau ingin berhasil. "Yah, kita minta berkat dari Tuhan, dikasih rezeki, kesehatan, umur panjang," ujar Bu Tatik dengan bahasa campuran Indonesia, Jawa, plus sedikit bumbu Hokkian.

Okelah!

Selamat tahun baru Imlek untuk semua warga Tionghoa di Jawa Timur, Indonesia, dan di mana saja di planet bumi ini. Gong xi fa cai!

2 comments:

  1. Sin-cun kiong-hie, Bung Hurek, Semoga Anda dan Keluarga selalu sehat dan walafiat.
    Membaca cerita Anda tentang Cik Tatik, saya menjadi geli.
    Memang begitulah caranya orang Tionghoa Jawa Timur berkommunikasi. Bahasa mereka adalah bahasa gado-gado, jika Tionghoa Bali masih dicampur sedikit bahasa Bali.
    Hanya kita Tionghoa Jatim yang bisa mengerti.
    Ni ce-ko ngerti tah, wo ciang sen-mok ? Ojo hai-siu hai-siu-i wo opok oo ! Katanya ni teng-lang, lha kok pu-hui ciang cungkuok-hua ? Bung, mana ada ahli bahasa diseluruh dunia yang bisa menterjemahkan kalimat2 diatas. Inilah lingua franca kita di Sidoarjo sampai Banyuwangi.
    Teman saya, orang Pekalongan, melucon : Pamannya mau cerai dipengadilan. Pak Hakim bertanya : Mengapa anda ingin mencerai istri-anda ? Jawabnya: Pak Hakim, saya sudah tidak sambut dengan dia, hwana-phiak nya sudah tidak nguwati !
    Pak Hakim jadi bingung. Hadirin ngakak. Barulah si-paman sadar, bahwa dia keplincut ngomong.
    Saya sering pulang kampung ke Chuan-ciu, di Fujian. Para family disana selalu menyebut saya sebagai Hwa-na. Saya paham mereka sama sekali tidak bermaksud menghina saya.
    Orang Tiongkok memang menyebut manusia yang lahir diluar negeri, sebagai Hwa-na. So what !
    Demikian pula dengan kata Cina yang ditabukan di Indonesia,
    so what ! Der Ton macht die Musik ! Cara mengucapkan dan tekanannya yang menentukan arti.
    Dadi wong ojo gampang tersinggung, opo oo. Istilah cik Tatik.
    Mengenai pajangan batang tebu yang sering diikat dikusen pintu rumah warga Tionghoa Indonesia, pada waktu sembahyang Tuhan-Allah, hikayatnya adalah sbb.:
    Pada zaman wu-dai shi guo ( 五代十国 ) tahun 907 - 960, antara kerajaan Yue ( Kwangtong ) dan kerajaan Min ( Hok-kian ) terjadi perang besar, tentara Min kalah total, supaya tidak terbantai, mereka melarikan diri dan bersembunyi didalam perkebunan tebu. para keturunan serdadu yang selamat karena kebun tebu inilah yang sembahyang pakai tebu, jadi mereka adalah orang2 dari provinsi Hok-kian.
    Tanggal 26. Februar, saya sudah harus kembali ke Tiongkok, jadi disana sudah tidak bisa membaca blog anda lagi. Lihat Youtube pun tidak bisa. Salam !

    ReplyDelete
  2. Waduh. matur nuwun sanget sampun maosaken tulisan kulo.
    Kamsia sudah menulis komentar yg mencerahkan di blog saya. Semoga Xian Sheng diberi rezeki dan kesehatan di tahun kuda ini. Gongxi facai!

    Banyak cerita menarik dari Xian Sheng yg sangat memperkaya konten blog saya. Sayang, sebentar lagi Xian Sheng kembali ke Tiongkok sehingga tidak bisa lagi membaca blog karena memang diblokir oleh pemerintah RRT. Apa boleh buat. Tiap2 negara punya kebijakan masing2 demi kepentingan nasionalnya.

    Salam sin cia.

    ReplyDelete