30 January 2014

Selamat Tahun Baru Imlek 2565!



Kemarin sore saya mampir ke Kelenteng Tjong Hok Kiong, Sidoarjo. Bu Tatik bersama beberapa ibu lain sibuk menyiapkan tebu. Tebu yang panjang dipotong-potong, dibungkus kertas merah, untuk persembahan saat Sin Cia atau tahun baru Imlek.

Ada juga kue keranjang tradisional. "Ayo, saya antar ke dalam. Tapi saya jangan difoto lho," kata Bu Tatik.

Nah, di altar Dewan Kwan Kong itu sudah ada persembahan khas Imlek. Kue keranjang, tebu di piring, kembang dari kertas, dan beberapa lagi. Kata Bu Tatik, umat mengadakan sembahyang tengah malam untuk menyambut tahun baru sekaligus melepas tahun lama.

Tahun ular diganti tahun kuda. Kerja harus lebih keras, tahan banting, ngeyel, kuat... seperti kuda kalau ingin berhasil. "Yah, kita minta berkat dari Tuhan, dikasih rezeki, kesehatan, umur panjang," ujar Bu Tatik dengan bahasa campuran Indonesia, Jawa, plus sedikit bumbu Hokkian.

Okelah!

Selamat tahun baru Imlek untuk semua warga Tionghoa di Jawa Timur, Indonesia, dan di mana saja di planet bumi ini. Gong xi fa cai!

28 January 2014

Gitar Porong Dipamerkan di Amerika



Tanpa banyak gembar-gembor, Julius Salaka mengikuti pameran gitar internasional di California, Amerika Serikat. Pria yang tinggal di Porong, Sidoarjo, tak jauh dari pasar lama ini, sejak 1997 dikenal luas sebagai pembuat gitar alias luthier ternama.

Dia bikin gitar untuk sejumlah gitaris top macam I Wayan Balawan, Tohpati, dan Dewa Budjana. Nah, di Amerika Serikat, Joel Salaka memamerkan gitar buatannya kepada sejumlah gitaris kawakan di sana.

"Puji Tuhan, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran di Anaheim Convention Center, USA. Ini kempatan yang benar-benar langka," ucap Joel kemarin.

Selama tiga hari Joel bertemu dengan gitaris Amerika yang langsung mencoba gitar buatan Porong dan Kejapanan. Ada musisi Ola Strandberg, Ivan L Pierce, dan Marlon Carbone. Joel menyebut Ola Strandberg sebagai seorang pemusik jenius. "Saya makin bangga karena Ola juga senang menggunakan gitar buatan saya," kata pria kelahiran 23 Juli 1968 itu.

Joel mulai menekuni usaha kerajinan gitar di Porong dan Kejapanan pada awal reformasi, 1997. Krisis moneter membuat lulusan Poltek Universitas Brawijaya, Malang, ini mencoba sesuatu yang baru. Karena dia kehilangan pekerjaan di Surabaya. Iseng-iseng dia bikin gitar listrik... dan ternyata disukai teman-temannya yang musisi.

Tiga tahun membuat gitar pesanan, Joel pada memutuskan untuk membuat merek sendiri. Tak mau lagi menjiplak model gitar orang lain karena terkait hak cipta. Maka, pada tahun 2000 Joel memperkenalkan gitar bermerek Stephallen ke publik, khususnya kalangan gitaris profesional. Desain hingga finishing dikerjakan sendiri oleh Joel.

"Stephallen itu saya ambil dari nama anak pertama saya, Stephen Chandra Satyanugraha yang digabung dengan nama tengah anak kedua saya," ujar suami Sylvia Puspa Dewi yang dinikahinya pada 1997 itu.

Stephallen makin kondang setelah gitaris I Wayan Balawan, yang kondang dengan teknik eight finger tapping, memakai Stephallen pada 2005. Sejak itu pesanan gitar terus mengalir dari dalam dan luar negeri. Dalam setahun dia melayani sekitar 80-90 pesanan atau sekitar tujuh gitar per bulan.

"Tidak bisa bikin banyak karena bukan gitar massal untuk pasaran biasa. Ini gitar khusus yang memerlukan treatment khusus pula," katanya.

25 January 2014

Ratatex Balongbendo Riwayatmu Dulu



Siang tadi saya cangkrukan di dekat jembatan yang baru direnovasi di Balongbendo, Sidoarjo. Warga setempat menyebut Jembatan Ratatex. Sebab, dulu di dekat situ ada pabrik tekstil besar bernama Ratatex.

Perusahaan Ratatex yang membuat jembatan itu. Maka, warga Balongbendo, Krian, Taman, Sidoarjo, hingga Surabaya tempo dulu pasti hafal Ratatex. Pabrik besar yang selalu ramai karyawan. Begitu banyak warga setempat bekerja di Ratatex.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat ini Ratatex di Balongbendo yang diresmikan pada 1957 itu tinggal kenangan. Tak ada lagi jejak kejayaan sebagai pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, jembatannya pun sudah dibongkar, diganti yang baru karena memang sudah rapuh.

Oh, Ratatex riwayatmu dulu. Konon Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta datang ke Sidoarjo untuk meresmikan pabrik tekstil itu. Maklum, sang pemilik, Rahman Tamin, pengusaha kaya yang dekat dengan para pejuang kemerdekaan. Sebelum Indonesia mereka pun almarhum Rahman Tamin sudah kaya raya.

Nah, Ratatex ini singkatan dari Rahman Tamin Textile. Pabrik-pabrik yang ada akhiran tex biasanya milik konglomerat kaya. Sebut saja Pardedetex di Sumatera Utara atau Sritex di Jawa Tengah.

Sayang, kehebatan almarhum Rahman Tamin tidak bisa berumur panjang. Ratatex bahkan sudah goyang sebelum generasi kedua. Anak-anak Rahman tak banyak terlibat di pabrik ini. Yang bermain justru keluarga besar taipan berdarah Sumatera Barat itu.

Maka Ratatex pun menggelepar bak ikan di kolam yang mengering. Kemudian menghilang dari peredaran. Sofjan Tamin, putra Rahman Tamin, malah membuka bisnis baru di Jakarta. Bisnis yang jauh dari urusan tekstil atau pakaian. Sejak awal Sofjan memang sengaja menjauh dari Ratatex karena terjadi rebutan aset di antara keluarga besar ayahnya.

Ratatex dan sejumlah pabrik besar di Kabupaten Sidoarjo bernasib sangat tragis. Usianya tak sampai 50 tahun. Padahal, biasanya perusahaan baru mulai meredup ketika dipegang generasi ketiga. Ratatex ternyata mati lebih cepat karena mismanajemen serta kegagalan beradaptasi dengan zaman yang berubah.

"Waktu saya kecil Ratatex itu sangat luar biasa. Semua orang Jawa Timur saya yakin tahu Ratatex. Paling tidak pernah memakai pakaian yang kainnya diproduksi Ratatex," kata Choirul, warga Balongbendo yang berusia 60an tahun.

Asal tahu saja, zaman dulu sangat jarang orang membeli pakaian jadi. Harus membeli kain, dibawa ke penjahit (tailor), ukur badan, kemudian dijahit. Kualitas kain-kain buatan Ratatex pun dianggap terbaik di tanah air.

Ah, itu semua cerita masa lalu. Saat ini, pertengahan Januari 2014, kawasan di sekitar eks pabrik Ratatex begitu lengang. Tak ada kegiatan ekonomi yang menonjol. Anak-anak muda kelahiran 1990an ke atas bahkan tak tahu bahwa Ratatex itu nama sebuah pabrik tekstil terkenal di Balongbendo.
Dus, bukan sekadar nama jembatan.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

24 January 2014

Pemilu Serentak Bukan Obat Mujarab

Kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lamban, tidak tegas, sulit bikin keputusan memang tidak lepas dari politik dagang sapi. SBY merasa berutang budi pada partai-partai yang mencalonkannya saat pemilihan presiden.

Maka, Presiden SBY tak akan berani memecat menteri-menteri dari PKS meskipun tidak cakap atau bermasalah. PKS dibiarkan saja di koalisi meskipun sering bersikap oposan. Lebih oposisi dari PDIP yang memang berada di luar kabinet.

Inilah hasil dagang sapi pilpres ala Indonesia. Dagang sapi terjadi karena pilpresnya diadakan setelah pemilu legislatif. Partai-partai yang suaranya sedikit diajak atau merapat sendiri ke partai besar yang suaranya cukup untuk mengusung capres.

Dengan putusan Mahkamah Konstitusi, maka pilpres diadakan serentak dengan pileg pada 2019. Semua partai peserta pemilu berhak mengajukan calon presiden. Karena peserta pemilu 12 partai, capresnya juga bisa 12 orang. Banyak banget!

Kalau ini yang terjadi, dan skenarionya pasti begitu, akan ada pilpres dua putaran. Di sinilah dagang sapi terjadi. Dua pasangan capres-cawapres dengan suara terbanyak akan merangkul partai-partai yang calonnya kalah pada putaran pertama.

Koalisi ala Indonesia ini untuk mengamankan kebijakan pemerintah di Senayan alias parlemen. Tentu tidak gratis. Maka koalisi dagang sapi tetap terjadi seperti sekarang. Dan itu tidak akan mengubah keadaan.

Pemilu serentak seperti yang diperjuangkan Effendi Gazali dkk, yang diperkuat putusan MK, hanya akan bermanfaat jika pilpres hanya satu putaran. Sekali coblosan langsung menang. Tapi, dengan 12 atau 15 partai, manalah mungkin seorang capres bisa menang satu putaran dengan ketentun yang berlaku sekarang.

Maka, penggiat demokrasi macam Effendi Gazali dkk harus menemukan lagi cara terbaik agar kita tidak terjebak politik dagang sapi seperti sekarang. Kalau tidak, eksperimen pilpres yang kita adakan selama belasan tahun ini hanya akan membawa mudarat bagi bangsa ini.

Kelihat demokrasi, hiruk-pikuk, banyak bicara... tapi puluhan juta rakyat Indonesia tetap mengais rezeki di Malaysia, Taiwan, Hongkong, atau Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga.

Pilih yang mana: Tidak ada demokrasi seperti Singapura dan Malaysia tapi makmur, atau demokrasi liberal ala Indonesia tapi rakyatnya jadi pekerja kasar di negara lain?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

23 January 2014

Kasus Erwiana dan Ekspor TKI

Kita prihatin dengan Erwiana Sulistyaningsih, tenaga kerja Indonesia (TKI) alias buruh migran yang dianiaya majikannya di Hongkong. Di sisi lain, kita pun salut pada polisi Hongkong yang turun langsung untuk menangani perkara pidana ini hingga ke Sragen, Jawa Tengah.

Kita boleh marah tapi harus tetap objektif. Mengapa? Apa yang dialami Erwiana ini kasuistis. Kebetulan gadis itu mendapat majikan yang sadis dan rada gila. Apes!

Kementerian Tenaga Kerja menyebutkan,  jumlah TKI yang bekerja di Hongkong per Juli 2013 150.236 orang. Paling banyak dibandingkan pekerja asing dari negara mana pun di dunia. Ini menunjukkan bahwa kasus Erwiana ini hanya satu dari 150 ribu TKI yang apes.

Jauh lebih banyak TKI yang asyik saja bekerja di Hongkong meski kita sering baca curhat mereka di blog yang rata-rata negatif. Tapi mau bagaimana lagi?

Menjadi pembantu rumah tangga itu ya tentu beda rasanya dengan jadi bos atau majikan. Pembantu di Indonesia bahkan lebih parah karena tidak ada kontrak tertulis macam di Hongkong. Bayaran di Hongkong pun jauh lebih bagus.

Karena itu, rasanya rada berlebihan kalau Presiden SBY sampai turun tangan langsung untuk mengurusi seorang Erwiana. Cukup KBRI di Hongkong mendesak kepolisian setempat memproses hukum sang majikan.

Liputan media yang setiap hari membahas Erwiana pun sudah kebanyakan. Bukankah di mana-mana selalu ada majikan yang jahat? Memangnya di Indonesia semua majikan lebih manusiawi ketimbang laopan di Hongkong?

Kita sering lupa bahwa Indonesia ini masih negara miskin meskipun penduduknya paling banyak main facebook, twitter, dan media sosial lainnya. Kita lupa negara ini belum mampu memberi makan kepada semua penduduknya.

Apa boleh buat, kita menjadi negara pengekspor pembantu terbesar di dunia. Mungkin semua rumah tangga di Hongkong punya pembantu asal Indonesia.

Maka, Presiden SBY dan presiden-presiden berikutnya perlu mencontoh Malaysia. Ciptakan sebanyak mungkin pekerjaan di dalam negeri dengan upah yang sangat layak. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk menghentikan ekspor pembantu ke luar negara.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

22 January 2014

Terlalu Banyak Politisi, Sulit Maju

Indonesia sulit maju karena terlalu banyak politisi. Khususnya setelah reformasi, 1998. Politisi kerjanya bicara, bicara, bicara, meskipun banyak omong kosongnya. Dan itu tak akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Ini pula yang menyebabkan puluhan juta orang Indonesia terpaksa mencari kerja di Malaysia, Hongkong, atau Arab Saudi. Tiga negara itu maju pesat karena rakyatnya tidak suka jadi politisi. Politisi Malaysia dari dulu, ya, itu-itu saja. Hongkong dan Arab Saudi juga sama.

Orang Tionghoa di mana-mana maju pesat, punya perusahaan besar, bisa mempekerjakan ribuan orang, karena sangat fokus di bisnis. Jauh dari politik meski sering ditipu politisi (dan juga sering menipu politisi). Saking alerginya sama politik, orang Tionghoa paling malas kalau diajak bicara politik.

Anehnya, akhir-akhir ini mulai banyak pengusaha Tionghoa yang tergoda politik. Taipan Hary Tanoe bahkan jadi calon wakil presiden dari Partai Hanura. Hary Tanoe sangat getol politik. Sampai-sampai televisi-televisinya yang full sinetron itu kini dimanfaatkan untuk kampanye Hanura serta Wiranto-HT.

Aneh, karena Hary Tanoe baru belajar politik di Partai Nasdem seumur jagung. Cabut dari Nasdem, diiming-imingi posisi tinggi di Nasdem, senang jadi bakal wapres. Aneh, hasil pemilu legislatif belum ada kok sudah mencalonkan diri jadi presiden-wakil presiden. Memangnya Hanura bisa menang besar?

Rupanya Hary Tanoe kena ajian kesirep politik dari Hanura! Ah, andai saja Hary Tanoe bikin 10 pabrik di NTT atau Sulawesi! Betapa banyaknya warga yang bisa bekerja di situ. Tidak perlu jauh-jauh cari kerja di Malaysia.

Yang baru saya baca ini Rusdi Kirana, pengusaha Tionghoa pemilik Lion Air. Rusdi juga kena ajian politik dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Begitu masuk PKB langsung diangkat jadi wakil ketua umum. Rupanya Rusdi Kirana senang banget dengan posisi politik yang karbitan itu.

Saya selalu ingat kata-kata Ir Ciputra. Kalau mau maju, bisa bersaing dengan negara lain, khususnya Malaysia, kita harus menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur (pengusaha). Bukan politisi. Saat ini Indonesia sangat kekurangan pengusaha.

Tanpa pengusaha, maka tak akan ada pabrik. Tak akan ada perusahaan. Tak akan ada lapangan kerja. Tak ada pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Ciputra getol mendirikan sekolah-sekolah dan universitas untuk menciptakan pengusaha-pengusaha muda yang akan memajukan Indonesia tercinta ini.

Kata-kata Pak Ciputra yang selalu diulang di banyak kesempatan itu selalu saya ingat. Karena itu, saya sangat sedih melihat pengusaha-pengusaha Tionghoa di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Lembata dan Flores Timur, banyak yang jadi caleg.

Lha, kalau pengusaha-pengusaha jadi caleg, siapa yang menciptakan lapangan kerja di NTT? Akhirnya, semua orang yang berpendidikan berlomba-lomba menjadi pegawai negeri sipil (PNS) karena itulah lapangan kerja yang paling mapan.

Sayang sekali. Sebab, menciptakan entrepreneur itu jauh lebih sulit daripada menciptakan politisi.

Maryono, Kades Yang Ikut Membesarkan Inul

Di antara 353 kepala desa dan lurah di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Maryono punya latar belakang yang unik. Dulunya Maryono dikenal sebagai pimpinan Orkes Melayu Mayora, salah satu orkes dangdut ternama di Kota Delta.

Sebelum orkes-orkes dangdut menjamur, menurut dia, dulu tak banyak OM yang eksis di Sidoarjo maupun Jatim. Selain OM Mayora, ada dua orkes melayu (OM) lama yakni OM Bujangga dan OM Rolista. "Sekarang di mana-mana ada orkes," kenang pria yang kini menjabat kepala desa Rangka Kidul, Kecamatan Sidoarjo Kota.

Maryono gandrung musik sejak masih remaja. Karena itu, dia sangat enjoy mengurus OM Mayora yang pernah sangat terkenal di Jatim. Orkes ini menjadi salah satu ajang pembibitan artis-artis dangdut ternama. Di antaranya Inul Daratista dan Uut Permatasari.

"Waktu Inul belum terkenal, dia ikut orkes saya. Anaknya memang punya gaya panggung yang atraktif sejak dulu. Termasuk goyang ngebornya," tutur Maryono.

Ketika Inul Daratista makin dikenal luas di kalangan penggemar dangdut, Maryono pun legawa. Dia justru mendorong penyanyi asal Kejapanan itu untuk meraih karier yang lebih baik di tingkat nasional. "Alhamdulillah, Inul akhirnya sukses di Jakarta," katanya.

Meski sudah lama cabut dari OM Mayora, Maryono mengaku masih sering melakukan komunikasi dengan Inul Daratista. Istri Adam Suseno itu dinilai sebagai selebriti yang tidak lupa asal usulnya. "Sekarang saya tidak lagi mengurus orkes karena mengurusi kepentingan warga desa saya. Jadi kepala desa itu berarti harus melayani warga 24 jam," katanya.

Sebagai pentolan orkes dangdut, Maryono mengaku kerap melakukan pendekatan ala seniman kepada warganya. Jika ada acara-acara besar, dia sering melibatkan orkes dangdut. Warga yang memang sebagian besar penggemar dangdut pun bisa menikmati hiburan gratis. Di sisi lain pesan-pesan pembangunan, kebersihan, penghijauan, kesehatan, dan sebagainya bisa disampaikan dengan mudah.

"Di situlah seninya menjadi kepala desa," kata pria yang aktif di pemerintahan desa sejak 1988 itu.

Sejak dulu Sidoarjo dikenal sebagai gudangnya orkes dangdut. Begitu banyak orkes dan penyanyi asal Sidoarjo dan sekitarnya yang sukses di pentas nasional. Karena itu, kades yang satu ini sangat yakin artis-artis baru akan bermunculan di Sidoarjo.

20 January 2014

Makin sulit bersyukur dan berterima kasih

Di masa lalu, di pelosok NTT, orang kampung begitu terpesona dengan hadiah kecil. Dikasih permen, wow, senangnya minta ampun. Dikasih es lilin pun demikian. Apalagi dikasih hadiah pakaian atau buku tulis.

Tapi zaman sudah berubah. Virus konsumerisme yang disebarkan televisi, gaya hidup yang berubah, konsumsi gadget yang sampai ke desa, membuat orang-orang desa makin sulit bersyukur. Bilang terima kasih atas sesuatu pemberian saja susah.

Padahal, gift saat ini bukan lagi permen, es, atau kaos yang murah harganya. Ini juga yang membuat warga NTT di rantau, khususnya yang pernah mengalami masa anak-anak di kampung yang belum ada listrik, belum ada televisi, sangat prihatin.

"Saya kirim HP yang lumayan mahal, Rp 400 ribuan, bukannya bilang terima kasih, tapi malah protes. Kok yang dikirim HP yang ketinggalan zaman? Kameranya kok jelek," ujar teman asal Flores Timur menceritakan pengalamannya.

Mengirim laptop, yang harganya jelas jauh lebih mahal dari pisang goreng atau permen, pun belum tentu bikin senang. Ini karena orang desa sudah punya ilmu komparasi. Mereka membandingkan laptop yang dikirim dari Jawa itu dengan laptop dari Malaysia yang memang speknya beda.

"Masa, laptop dari Jawa kalah sama Malaysia?" ujar teman lain menirukan protes keponakannya di kampung.

Hehehe... Jelas beda karena teman itu mengirim netbook, bukan laptop. Pasti berbeda jauh spesifikasi dan harganya. Teman itu sedih karena sudah keluar uang banyak untuk beli hadiah netbook, tapi malah diprotes. Bukannya terima kasih yang dia dapat.

Yah, rupanya telah terjadi perubahan mentalitas yang luar biasa di pelosok negeri ini. Kata terima kasih makin sulit kita temukan ketika membaca SMS atau telepon dari jauh. Sebagian besar SMS yang masuk dari orang kampung berisi permintaan.

Minta tambahan kiriman lagi karena uang yang dikirim kurang. Minta HP baru karena HP yang ada ketinggalan zaman. Minta ini karena sebentar lagi ada itu. Mereka rupanya tidak tahu, dan tidak tahu, beratnya orang NTT hidup di rantau.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

18 January 2014

Jakarta Banjir - Hikmahnya Banyak

Banjir di Jakarta menjadi pemandangan rutin setiap tahun. Banyak wacana dan sedikit action yang dilakukan, tapi banjirnya malah makin ganas. Salah siapa?

Jokowi? Daerah tetangga yang kirim banjir? Anomali iklim? Hilangnya area resapan air? Tiap tahun selalu kita dengar analisis macam ini. Tapi, yang pasti, korban banjir makin menderita karena rumahnya terendam.

Di televisi kita lihat banjir mencapai leher orang dewasa atau sekitar 1,5 meter. Sangat mengerikan!

Lantas, apa solusinya? Gubernur Jokowi dan wakilnya, Ahok, pasti lebih tahu. Bukankah Jakarta itu pusatnya orang pintar dan jenius? Kita yang di daerah, apalagi NTT, tak usahlah mengajari orang Jakarta yang hebat-hebat itu.

Tapi, setelah menyepi di sebuah situs kuno peninggalan Kerajaan Majapahit, saya iseng-iseng punya usulan yang agak ekstrem. Usulan yang sudah pasti tidak akan dibahas oleh Jokowi.

Apa itu? Transmigrasi! Penduduk Jakarta yang 10 juta (atau 15 juta?) itu harus dikurangi setengahnya alias 50 persen. Jika bisa dilaksanakan Jakarta akan lebih manusiawi, macet berkurang, penataan sungai dan infrastruktur lain lebih mudah.

Transmigrasi di sini bukan transmigrasi yang lazim ke Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi karena orang Jakarta tidak mungkin jadi petani. Tapi transmigrasi di kota-kota kecil di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun kota-kota di Sumatera atau. Kalimantan.

Selain Kota Jakarta menjadi gembos, karena penduduknya turun banyak sekali, kota-kota lain di Indonesia akan lebih cepat maju. Berkat kedatangan orang Jakarta yang pintar-pintar itu.

Jakarta menjadi macet, sesak, nyaris tak ada space, antara lain karena penyakit centermania yang dikembangkan sejak Orde Baru. Indonesia hanya punya satu center pertumbuhan, yakni Jakarta. Uang beredar hanya menumpuk di Jakarta.

Maka, Surabaya bukan lagi kota nomor dua di Indonesia, tapi nomor 10. Nomor 1 sampai 5 Jakarta: Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur. Nomor 6-9: Tangerang, Depok, Bekasi, Bogor. Surabaya nomor 10.

Jika tidak ada kebijakan yang ekstrem, maka 100 Jokowi pun tak akan bisa mengatasi banjir dan macet di Jakarta. Alam sudah memberikan sinyal yang kuat kepada kita melalui banjir yang dahsyat. Tapi kita biasanya lupa setelah banjir surut, dan melek lagi setelah banjir tahun depan.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

17 January 2014

Nadya Permata pedangdut Sidoarjo



Sidoarjo memang gudangnya penyanyi dangdut di Jawa Timur. Orkes-orkes dangdut terkenal yang menasional pun banyak yang berasal dari kabupaten yang terkena lumpur Lapindo itu.

Tidak heran, sebagian besar acara di Surabaya selalu ada dangdutnya. Entah itu acara pemerintah, swasta, perkenalan produk, sosialisasi caleg, mantanen, hingga pesta sekolah.

Tinggal di Sidoarjo membuat saya cepat hafal beberapa lagu dangdut populer. Lagunya juga itu-itu saja. Beda dengan lagu pop yang sangat cepat berubah dengan begitu banyak lagu baru.

Pagi tadi, saya ngobrol agak lama dengan Nadya Permata di Puri Indah, Desa Sidodadi, Kecamatan Candi. Artis dangdut asal Kalitengah, Tanggulangin, ini mengisi acara lomba kebersihan tingkat kabupaten bertajuk Sidoarjo Bersih dan Hijau. Nadya memang paling sering ditanggap mengisi acara-acara keliling kampung di Sidoarjo dan Surabaya.

"Lebih enak ngisi acara kayak gini ketimbang ikut orkes," kata wanita 25 tahun yang sudah jadi istri orang itu. Enak itu maksudnya bayarannya lebih bagus, tidak dibagi-bagi banyak orang.

Sejak usia 14 tahun Nadya sudah aktif nyanyi, ngedangdut, karena itu tadi. Lingkungan tempat tinggalnya di Kalitengah, tak jauh dari lumpur Lapindo, memang sangat kondusif untuk dangdut ria.

Nadya suka musik apa saja, tapi dangdut paling favorit. Apalagi dia sudah tahu rasanya dapat duit dari dangdut. Akhirnya, keterusan menyanyi dari orkes ke orkes, kemudian memilih freelanche.

Dia juga ternyata kurang suka nyanyi di kafe atau pub karena lingkungannya gimana gitu lho. Rupanya Nadya masih selektif memilih tanggapan. Apalagi dia punya suami yang bukan musisi atau pengurus orkes yang senang dugem atau hiburan malam.

Asyik juga bicara dengan Nadya. Kelihatan angkuh di atas panggung, tapi ramah di belakang panggung.
Gantian dia bertanya tentang konsep lomba kebersihan, proses bikin koran, hingga diskusi tentang perkembangan dangdut di Jawa Timur.

Saya ingatkan bahwa konsumen-konsumen dangdut sekarang lebih suka penyanyi cewek yang bening, good looking, bodi proporsional, goyangan oke, dan tentu saja suara yang tidak mengecewakan. Umur 28 sudah sulit dijual.

Nadya ternyata sangat sadar soal ini. Namun dia tetap enjoy karena bisa menyalurkan hobi sambil bekerja. Hidup serasa indah, selalu gembira.

Obrolan pun terhenti karena Nadya segera naik panggung. "Masih mau goyang!!!" teriaknya.
Lalu meluncurlah lagu Kereta Malam.

"Pernah sekali aku pergi
Dari Jakarta ke Surabaya
Untuk menengok di sana
Mengendarai kereta malam


Cukicukicukicuk...
Kereta berangkat
Cukicukicukicuk...
Hatiku gembira...."


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Tante Tok tidak bikin kue keranjang


Petang kemarin saya mampir di rumah Tante Tok Swie Giok di pecinan Sidoarjo, Jalan Raden Fatah. Pasti rumah tua warisan papanya dari Tiongkok itu penuh dengan bahan-bahan kue keranjang. Kan menjelang tahun baru Imlek 31 Januari 2014.

"Minum apa?" ucap wanita sepuh yang ramah itu.

"Biasa, zhongguo cha," kata saya merujuk teh dari Tiongkok. Tante Tok pun tertawa kecil lantas bikin teh tradisional leluhurnya.

Rasanya sepet kayak jamu. Orang Tionghoa memang punya tradisi minum teh tanpa gula. Kali ini tante menyuguhkan oolong cha, teh kelas satu khas Tiongkok. Kamsia! Terima kasih!

Akhirnya, sadarlah saya bahwa tahun ini Tok Swie Giok tidak bikin kue keranjang alias nian gao (baca: nien kao). Ternyata tante baru sembuh dari demam berdarah. Selama delapan bulan harus istirahat total dan masuk rumah sakit di tengah kota.

"Kalau dipaksakan bikin kue keranjang, kalau sakit bagaimana? Kasihan anak-anak dan cucu saya," ujar ibu yang juga aktif di komunitas liang liong Sidoarjo itu.

Tahun baru Imlek tanpa kue keranjang, bagi orang Tionghoa, ibarat sayur tanpa garam. Kue sederhana yang manis, legit, ini harus disajikan. Bagi yang masih punya tradisi kuat, ada sembahyang dengan sajian nian gao.

Sayang, di Sidoarjo tak ada lagi orang Tionghoa yang bikin sendiri kue keranjang di rumah. Cukup membeli saja di toko. Tidak capek dan simpel. Anak-anak Tok Swie Giok pun terlalu sibuk untuk membuat kue keranjang seperti yang ditekuni Tante Tok setiap menjelang Sincia.

"Doakan agar tahun depan saya bisa bikin lagi," kata tante yang sering jadi jujukan saya untuk tradisi dan bahasa Tionghoa itu.

Kue keranjang buatan Tok Swie Giok itu sederhana tapi khas. Dia bikin tepung sendiri dengan membeli ketan kualitas terbaik. Diayak beberapa kali sehingga kotorannya benar-benar hilang. Dia mencontoh mendiang ayahnya yang datang dari Tiongkok selatan.

"Saya juga tidak pernah pakai bahan pengawet dan zat pewarna. Saya mau yang asli saja kayak zaman dulu," tuturnya.

Nah, kue keranjang orisinal inilah yang dicari banyak pelanggannya setiap tahun. Dari Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Malang, Kalimantan, Bali, dan kota-kota lain. Order yang melimpah membuat Tante Tok harus bekerja keras selama satu bulan.

Sayang, tahun ini kesibukan yang menyenangkan itu tak lagi terasa di rumah Tante Tok. Saya hanya menyeruput teh tanpa ditemani kue keranjang khas Sidoarjo itu. Kebiasaan menonton hiburan tradisional dari CCTV, televisi Tiongkok, pun tak ada lagi.

"TV saya baru disambar petir," katanya.

Oh, semoga tahun kuda ini membawa keberuntungan bagi kita semua. Gong xi fa cai!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

16 January 2014

Hidup tanpa koran di pelosok NTT



Melihat mas itu membawa koran retur begitu banyak di Surabaya, karena tidak laku, saya langsung teringat Nusa Tenggara Timur (NTT). Khususnya daerah pedalaman macam Lembata yang jauh dari Kupang. Setiap pagi saya ingin baca surat kabar, tapi tak ada barangnya.

Saya cek ke tiga desa, ke orang yang punya reading habit. Termasuk caleg yang dulu berlangganan koran lokal. Hasilnya nihil. Tak ada koran. Saya kemudian menemukan koran bekas terbitan Sabah, Malaysia Timur, di rumah seorang kerabat jauh. Koran yang sudah berumur satu tahun lebih.

Mana koran mingguan Dian? Mana Hidup, majalah mingguan Katolik terbitan Jakarta, yang dulu jadi bacaan wajib kami di SD? Mana Suara Karya yang dulu menumpuk di rumah kepala desa dan bisa dibaca kapan saja?

Celakanya, bapak saya yang dulu berlangganan Dian, Hidup, dan beberapa majalah lain tak langganan lagi. Sebab Dian sempat mati cukup lama. Distribusi tidak jalan meski penerbit di Ende coba menerbitkan lagi.
Maka, tak ada lagi acara membaca bersama di rumah. Orang tua baca Dian dan Hidup, sementara anak-anak baca Kunang-Kunang, majalah anak terbitan Ende. Tak ada latihan menyanyi lagu baru yang dulu selalu dimuat majalah Hidup, Jakarta.

Acara rutin adalah menonton televisi. Ini perubahan habit yang luar biasa setelah parabola masuk desa. Kualitas gambar di kampung, Lembata, malah jauh lebih bagus ketimbang televisi biasa di Surabaya. Jelas banget gambarnya ala TV di hotel berbintang.

Sayang, acara yang ditonton di kampung saya bukan berita atau feature di TVOne, Metro TV, NHK, BBC, atau National Geographic. Yang ditonton ramai-ramai justru kuis yang dipandu Tukul Arwana serta sinetron.
Adik kandung saya benar-benar kecanduan sinetron. Ketika saya pindahkan channel, mereka semua akan marah. Saya pun mengalah. Lalu pergi ke bukit atau tepi pantai untuk mencari sinyal seluler. Agar bisa buka internet.

Yah, internet memang berkah luar biasa bagi manusia untuk mendapat informasi tentang apa saja. Informasi di internet jauh lebih cepat, aktual, bisa diakses kapan saja. Begitu banyak yang bisa kita baca di internet.
Tapi, dasar orang koran, yang pernah jadi pengantar koran Dian untuk para pelanggan di Desa Mawa, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, semasa SD di kampung, saya tetap merindukan surat kabar. Koran lokal, koran nasional, atau koran internasional, atau apa saja yang bisa dibaca.

Saya melihat ada kontradiksi luar biasa di Lembata. Dulu, ketika koran di NTT hanya DIAN (dua mingguan, kemudian jadi mingguan), gairah membaca sangat tinggi di kampung. Meskipun yang dibaca itu koran lama yang beritanya sudah basi. Satu koran atau majalah Kunang-Kunang dibaca banyak orang.

Sekarang di NTT sudah terbit begitu banyak koran. Ada Pos Kupang, Timor Express, Victory News, Warta Flobamora, Flores Pos, dan entah apa lagi. Tapi, anehnya, koran-koran itu tidak sampai di pelosok Lembata.

Tiba di Kupang baru saya baca koran setempat. Wow, Bupati Ngada jadi tersangka karena memerintahkan blokade bandara di kampungnya. Mantan wali kota Kupang ditahan karena korupsi. Ada kasus pembunuhan beraroma politik di Lembata. Flores Timur ternyata punya banyak masalah.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

15 January 2014

Vietnam Tourism Cari Turis Jawa Timur



Sejumlah pengusaha perjalanan wisata di Surabaya dan Sidoarjo, Selasa (14/1/2014),  membahas kerja sama pariwisata dengan Vietnam. Pemerintah Vietnam sengaja mengutus tim khusus untuk mempromosikan potensi wisatanya ke Jawa Timur.

"Negara kami terbuka bagi siapa pun di dunia. Kami punya banyak destinasi wisata yang sangat menarik," ujar Nguyen Luong Hai, director of sales Vietnam Tourism, di Everbright Hotel Surabaya.

Didampingi rekannya, Tan My Hanh, Nguyen mengaku sudah sering menjumpai rombongan wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke negara Vietnam. Menurut dia, wisatawan asal Indonesia suka berbelanja (shopping) dan menikmati berbagai objek wisata yang ditawarkan.

"Saya mengundang warga Jawa Timur untuk mengunjungi Vietnam. Kalian bisa berbelanja apa saja karena barang-barang di tempat kami relatif murah, kecuali mobil. Harga mobil di Vietnam tiga kali lebih mahal daripada di Indonesia," ujar Nguyen lantas tertawa kecil.

Nguyen dan Tan kemudian secara bergantian mempresentasikan berbagai objek wisata utama di negara yang pernah bergejolak akibat perang saudara itu. Selain destinasi alam seperti pantai, laut, dan gunung, Vietnam ternyata memiliki bangunan-bangunan kolonial peninggalan Prancis yang masih dirawat dengan baik. Juga pagoda berusia ratusan tahun.

Soepomo, ketua Asosiasi Pengusaha Perjalanan Wisata Sidoarjo (APPWS), menyambut baik tawaran kerja sama dengan biro perjalanan wisata Vietnam. Dia juga memuji keseriusan Vietnam dalam menggarap sektor pariwisata.

"Ini membuktikan bahwa sektor pariwisata tidak bisa dipandang sebelah mata. Sekarang ini semua negara berlomba-lomba untuk mempromosikan tempat wisatanya," kata Soepomo.

Karena itu, dia meminta pemerintah daerah, baik Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk membenahi berbagai objek pariwisata di daerah. Infrastuktur dan berbagai fasilitas penunjang harus dilengkapi.

"Kalau tempat wisata kita tidak dibenahi, dibiarkan begitu saja, susah bagi pengusaha pariwisata untuk menjual. Padahal, kalau mau jujur, Sidoarjo ini punya banyak sekali tempat wisata yang bagus," ucapnya. (rek)

Arak Atawatung terbaik di Lembata



Belum ada survei resmi tentang arak atau sopi terbaik di Lembata dan Flores Timur, NTT. Tapi, belasan penggemar miras yang saya tanyai, menyebut arak buatan Kecamatan Ileape dan Ileape Timur. Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata.

Saya tanya lagi. Arak Ileape mana yang paling bagus? Sebagian besar menyebut Atawatung alias Lamagute. Desa di atas bukit terjal berbatu-batu ini (makanya disebut Ata Watung; WATO artinya batu) sejak dulu punya home industry pembuatan arak. Banyak nama-nama almarhum yang jago bikin arak kelas atas.

Namanya memang home industry, industri rumahan. Tapi yang kerja sebetulnya satu orang saja. Tidak bisa ramai-ramai macam bikin kerupuk atau kue rambut misalnya. Semua proses mulai penyiapan bahan baku nira siwalan (tuak) sampai destilasi dibuat sendiri. Penjualannya baru dilakukan istri atau keluarga dekat.

Saya pun meminta diantar ke home industry arak di Atawatung. Hehehe.... Ternyata usaha ini dikendalikan Yakobus Mado Watun yang punya hubungan rapat dengan keluarga saya. Istri Mado tak lain saudari sepupu saya. Hehehe....

Mado membuat dapur pembuatan arak jauh di atas bukit. Cukup melelahkan bagi kita yang tidak biasa mendaki dengan kemiringan seperti itu. Jauh di luar permukiman penduduk. Di tempat ini sinyal seluler dari Simpati penuh. Sementara di dalam kampung sinyal seluler benar-benar kosong. Ponsel, laptop, dan sebagainya tak ada gunanya di Atawatung.

Proses membuat arak atawatung ini sebetulnya sangat sederhana. Tapi butuh ketelatenan karena cukup lama. Kerja keras sejak subuh hingga petang. Orang malas tidak akan mungkin mau membuat arak seperti itu. Bikin arak juga membuat Mado tidak bisa melakukan pekerjaan lain atau bersantai dengan warga desa.

Ketika hari masih gelap, Mado sudah memanjat pohon siwalan alias lontar. Mengambil nira yang sudah penuh cairan putih hasil deresan, kemudian harus menyadap tetesan nira yang baru. Ada teknik khusus agar tuak yang ditampung lebih banyak. Juga ada kulit pohon kering (bahasa daerahnya RAHA) untuk menjaga kualitas tuak.

Dalam sehari Mado menyadar 10 sampai 13 pohon. "Kalau 15 pohon tidak mungkin karena tenaga sudah habis. Tiga belas pohon saja capek setengah mata," tutur Mado yang pernah merantau di Malaysia ini.

Asal tahu saja, pohon-pohon lontar ini berada di tempat yang berjauhan. Para pembuat arak di kampung sudah punya klaim atas siwalan-siwalan itu. Dus, tidak boleh sembarang menyadap tuak orang lain.
Hasil sadapan nira siwalan atau tuak ini kemudian dimasukkan ke periuk belanga. Sedikit tuak disisakan untuk minum bersama teman-teman yang biasa mampir ke pabrik arak.

Lalu proses penulingan (destilasi) dimulai. Intinya, mengambil alkohol atau etanol yang terkandung dalam tuak itu. Sebab, nira yang aslinya sangat manis itu (bahan gula merah) sudah mengalami fermentasi menjadi alkohol dan asam. Nah, kadar asam ditekan dengan si RAHA tadi, sekaligus mempercepat fermentasi. Istilah kimianya: katalisator.

Setelah dimasukkan di periuk, ditempatkan di atas tungku. Mulut periuk dipasangi bambu yang dibuat huruf L. Bambunya cukup panjang, sekitar dua meter, untuk menyalurkan tetesan arak: air + alkohol + unsur lain-lain. Makin panjang instalasi bambu makin baik kualitas araknya. Sebab, tetesan di beberapa ruas bambu di ujung sudah mendingin.

Tetesan pertama yang keluar disebut arak kepala. Arak terbaik, mahal, tapi sangat sedikit. Satu periuk hanya menghasilkan kira-kira 100 ml arak kepala. Karena itu, harganya pun dua tiga kali lipat arak biasa.

Selanjutnya, Mado tinggal menjaga api tetap membara. Harus pakai kayu terpilih agar panasnya dari bara, bukan jilatan api. Lama pemasakan sekitar tiga sampai empat jam. Lalu arak yang sudah dipanen disimpan di tempat khusus.
Selesai!

Produksi arak sangat tergantung pada produksi nira atau tuak. Di musim hujan tuak tidak ada sehingga pembuat arak harus istirahat 3-4 bulan. Tapi musim hujan yang basah juga sangat penting agar pohon lontar menghasilkan nira berlimpah untuk disadap pada saatnya.

Tak ada rahasia khusus dari pembuat arak di Desa Atawatung ini. Semua orang kampung tahu caranya. Tapi semua orang kampung juga tahu bahwa tidak semua arak itu istimewa rasanya seperti buatan Mado.
Sama dengan makanan di warung atau restoranlah. Semua orang bisa memasak makanan apa saja, tapi makanan yang benar-benar enak itu tidak pernah banyak. Sayang, saya sendiri tidak pernah tahu rasanya arak atawatung karena sejak dulu takut miras.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

14 January 2014

PKL bunga di Kalibokor digusur habis

Pagi tadi saya hendak mampir untuk ngopi + baca koran di warkop langganan saya di Kalibokor, Surabaya. Wow, rupanya telah terjadi sesuatu yang luar biasa. Tak ada lagi satu pun warkop yang tersisa.
Stan-stan bunga milik para tukang taman itu sudah rata dengan tanah. Bahkan pohon-pohon besar yang rimbun dan menciptakan hutan kota itu sudah tak ada lagi. Rupanya sekitar 40 pedagang dan tukang taman itu baru saja digusur menjelang atau sesudah tahun baru 2014.

Saya jadi ingat seorang ibu pemilik warkop, suaminya tukang taman terkenal, yang menyediakan warungnya untuk cangkrukan. Diskusi informal tentang politik, sepakbola, marketing, hingga tanaman. Kini tak ada jejaknya sama sekali.

Ke mana ibu muda yang putrinya sangat cantik itu? Ke mana pula ibu sepuh yang pisang gorengnya enak dan murah? Ke mana pula ibu asal Madura yang langganan koran dan bisa dibaca siapa saja itu?

Kalau dianalisis, puluhan pedagang bunga, tanah, pupuk, dan aneka perlengkapan taman ini jelas salah. Mereka buka stan di stren kali. Tanah itu juga jelas bukan milik mereka - meskipun katanya mereka sudah bayar upeti rutin kepada oknum tertentu.

Mereka juga salah karena membuat hunian semipermanen. Tapi mengapa baru sekarang dibersihkan? Mengapa tidak dari dulu ketika komunitas pedagang bunga ini jadi begitu ramai?

Inilah penyakit yang selalu berulang di Surabaya dan Sidoarjo. Selalu membiarkan bara kecil menjadi api yang besar, kemudian susah payah memadamkannya.

Mudah-mudahan kasus penggusuran pedagang bunga di Kalibokor Selatan ini menjadi pelajaran bagi pemerintah kota. Carikan solusi untuk pedagang-pedagang itu untuk mencari nafkah!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

13 January 2014

Frans Hurek TKI yang Sukses di Malaysia

Frans Hurek dan istri. Boleh juga orang kampung ini. 

Kita sudah bosan mendengar cerita tentang TKI, tenaga kerja Indonesia, yang dianiaya majikan di Malaysia. Disetrika. Dideportasi. Terlibat kasus kejahatan. TKI yang dilecehkan sebagai Indon yang bodoh di Malaysia.

Syukurlah, saat berlibur ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya Kabupaten Lembata, saya mendengar versi yang lain tentang TKI. Bukan sekadar cerita, tapi bukti nyata. Bahwa TKI kita pun ada yang sukses di Malaysia. Dan yang bercerita itu Frans Asan Hurek.

Begitu antusiasnya Frans bercerita dilengkapi foto-foto dari perangkat gadget-nya, Samsung versi baru. "Di Malaysia sedang tren," kata teman yang jago bicara itu.

Bertahun-tahun si Frans ini sempat hilang dari peredaran bagaikan ditelan bumi. Dan, seperti biasa, banyak tuturan yang tidak jelas yang dikembangkan orang di Ileape, Lembata. Ceritanya seram-seram meski sumbernya tidak jelas.

Hingga suatu ketika Frans 'yang hilang' di Sabah, Malaysia, itu pulang berlibur di kampung. Bawa istri yang cantik, yang gayanya khas wanita kota di Lahad Datu, Malaysia Timur, plus anak yang gizinya bagus. Berbeda dengan TKI-TKI lain yang naik kapal laut, Frans selalu pakai pesawat.

Tinggal sebulan di kampung halaman, Desa Napasabok, Kecamatan Ileape, Lembata, NTT, bertemu ibunda yang sudah tua, Frans juga melakukan survei. Bikin desain rumah yang megah layaknya orang kaya di kota. Kembali ke Kota Lahad Datu, Frans secara teratur mengirim material dan uang yang diperlukan untuk bikin rumah mewahnya.
Sekarang rumah itu sudah jadi. Bentuknya rada nyeleneh, eksperimental, layaknya seniman yang kelebihan uang. Yah, Frans Hurek ini memang lagi mandi ringgit berkat usaha konstruksi kelapa sawit.

Dia dapat banyak job membuat pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit di Lahad Datu dan beberapa kawasan di negara bagian Sabah. Juga bikin instalasi air bersih untuk pekerja di kebun-kebun sawit. Dengan bangga Frans menunjukkan kepada saya mesin-mesin pengolah sawit yang rumit.

"Saya ini orang konstruksyen. Setiap hari saya keliling untuk melihat saya punya proyek di mana-mana tempat lah," ujar Frans dalam logat campuran Lembata + Malaysia Timur.

Malaysia Timur sejak dulu dikenal sebagai wilayah yang berjaya berkat kelapa sawit, karet, dan komoditas perkebunan. Maka, saya bisa membayangkan betapa banyaknya konstruksyen (konstruksi) yang harus digarap pengusaha TKI macam si Frans ini. Sungai Ringgit tentu mengalir deras ke kantongnya.

Karena itu, saya akhirnya percaya dengan begitu banyak cerita petulangannya ke tempat wisata yang mahal. Sekali makan bersama istri dan anak bisa habis Rp 2 juta. Ongkos perahu motor ke Pulau Komodo yang jutaan rupiah pun dianggap uang recehan saja.

Wow, Frans Asan Hurek, TKI yang unik! Malam itu mata saya sudah berat. Tapi presentasi Frans dan cerita suksesnya membuat saya terbelalak Saya biarkan dia cerita sepuas hati. Apalagi sudah beberapa tahun teman, sesama marga Hurek, ini tak pernah. berjumpa.

Frans punya kebanggaan sendiri karena sekarang dia sudah punya semacam monumen di kampung halaman. Yakni sebuah rumah bergaya kelas atas, mewah untuk ukuran Flores, yang bisa dilihat setiap waktu. Itu menjadi bukti bahwa TKI di Malaysia pun ternyata bisa berhasil.

Bukan TKI ala Flores Timur dan Lembata yang pulang sekejap, ringgit habis sebulan, kemudian balik lagi ke Malaysia Timur. Dan tak pernah kembali lagi ke kampung. Hingga akhirnya kita dapat kabar bahwa si X sudah meninggal dunia.

Frans malah secara tegas mengecam TKI-TKI yang lupa kampung halamannya. Jumlahnya cukup banyak. Mereka malah kerap lupa bahasa daerah. Bergaya layaknya orang Malaysia. "Saya paling jengkel dengan orang seperti itu," ujar Frans seraya menyebut beberapa nama teman SD di kampung dulu.

Lantas, bagaimana Frans bisa mandi ringgit, sementara TKI-TKI lain biasa-biasa saja, bahkan terpuruk? 

Jawabnya: kerja keras, kerja cerdas, dan nasib baik.

Frans beruntung dapat jodoh seorang wanita cantik, pengusaha, warga negara Malaysia. Bisnis sudah menjadi darah daging istrinya. Beristrikan wanita tempatan berarti sama dengan dapat lisensi untuk buka usaha apa saja. Samalah dengan warga negara Malaysia.

Selama belasan tahun Frans menjadi pekerja pabrik kelapa sawit. Bekal ilmu dari SMK terkenal di Flores Timur membuat dia sangat menguasai cara kerja mesin-mesin pengolahan minyak kelapa sawit. Teknik pasang instalasi, filter, dan sebagainya dia kuasai secara sempurna.

"Tapi saya ditipu si tauke. Gaji saya tidak dibayar," tuturnya.

Kecewa berat, Frans kemudian belajar membuka usaha konstruksi pabrik sawit dari nol. Fotonya diperlihatkan kepada saya. Awalnya sih susah mencari order. Tapi perlahan-lahan orang Malaysia Timur mulai menggunakan jasanya. Bahkan dia sempat diajak mengerjakan pabrik di Kalimantan Utara, Indonesia.

"Ini fotonya. Kalau tidak ada foto, engkau tidak akan percaya," kata Frans seraya tersenyum.

Begitulah. Singkat cerita, Frans pun berubah menjadi tauke baru, pengusaha konstruksi di Kota Lahad Datu, Malaysia Timur. Selain tambah makmur, mandi ringgit, tubuhnya makin gemuk dengan perut yang buncit.

Sebagai bos yang berlibur Natal dan tahun baru di kampung, Frans tak lupa membawa seperangkat kembang api yang megah ala show-show besar di kota. Pada malam tahun baru kembang api itu dinyalakan dan menjadi tontonan orang kampung.

"Saya kembali ke Malaysia, tapi saya sudah komitmen untuk pulang kampung dua tahun sekali," ujar Frans ketika berpamitan dengan saya.

Mengapa tidak tiap tahun saja pulang? Ringgit kan banyak?
"Wah, saya harus gantian dengan yang lain. Sebab, proyek konstruksyen di Lahad Datu harus jalan terus," katanya.


Proyek pengolahan kelapa sawit di Malaysia Timur. 

12 January 2014

Reuni keluarga besar Adonara di Surabaya

VG Adonara mengisi perayaan Natal, Tahun Baru, Idul Fitri keluarga besar Adonara di Jawa Timur.


Warga Adonara sejak dulu paling kompak di rantau ketimbang etnis Lamaholot lain macam Lembata, Solor, atau Flores Timur. Mungkin karena homogenitas orang Adonara yang paling tinggi. Beda dengan Lembata, misalnya, yang bahasanya telalu banyak variasi.

Ini juga yang membuat saudara-saudari kita dari Adonara sangat sering bikin pertemuan keluarga besar Adonara. Sabtu malam, 12 Januari 2013, ratusan orang Adonara di Jawa Timur mengadakan perayaan Natal, Tahun Baru, dan Idul Fitri bersama di aula DPD Golkar Jatim, Jl Ahmad Yani Surabaya.

Idul Fitri memang sudah agak lama, tapi patut dirayakan. Apalagi warga muslim di Adonara sangat banyak. Kebersamaan sesama anak Adonara di perantauan harus terus dijaga. Begitu pesan Pak Hendrik Sabon, sesepuh Adonara di Surabaya.

Memasuki aula, suasana terasa macam di lewotanah alias kampung halaman. Lagu-lagu yang diputar berbahasa Lamaholot dengan gaya Adonara kental. Sebagian besar wanita pakai sarung khas Adonara.

"Louk lodoka!" kata saya kepada Pak Paulus Latera, guru SMA Petra 3 Surabaya yang duduk di samping saya.

Louk lodoka : air mata saya jatuh! Melihat para remaja Adonara pakai sarung, nyanyi vocal group, bahasa Lamaholot, dengan wajah dan potongan tubuh seperti ina ama kaka ari di kampung halaman.

Vokalis Gema Band, band anak muda Adonara, pun bagus sekali. Tak kalah dengan penyanyi-penyanyi profesional yang biasa muncul di televisi. Belum lagi tutu koda, saling cerita, antarkita dalam bahasa daerah: bahasa Lamaholot.

Baru kali inilah saya sadar bahwa warga Lamaholot di Jawa Timur cukup banyak dan sama-sama punya kebutuhan untuk saling sapa. Dahang wekike! Apa kabar ama? Apa kabar ina? Apa kabar ari? Apa kabar reu?

Makan malam sangat sederhana untuk ukuran sebuah perayaan Natal, tahun baru, Lebaran. Tapi rupanya yang masak mama-mama dari Adonara yang tahu betul bumbu asli dari kampung. Enak banget rasanya sayur rumpu-rampe itu!

Tite poro witi hala! Kita tidak potong kambing! Begitu jawaban seorang ama (bapak) ketika saya tanya mengapa tidak potong kambing saja. Waktunya mepet dan dana cekak.

Semula Gubernur NTT Frans Lebu Raya, yang juga asli Adonara, dijawalkan hadir. Sayang, Pak Gubernur tiba-tiba harus menyambut menteri di Kupang. Akhirnya, acara yang dikemas dalam reuni keluarga besar Adonara ini berlangsung tanpa pejabat.

Toh, rasanya tetap berkesan. Khususnya bagi saya, warga Lamaholot juga meskipun bukan Adonara. Mendengar nyanyian, musik, teater... yang bercerita tentang lewotanah, kampung halaman, kita diingatkan untuk tidak lupa asal-usul, leluhur, di NTT sana.

Bae sonde bae, Adonara lebeh bae!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

11 January 2014

Mampir di GKJW Mlirip Mojokerto



Baru saja saya mampir di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlirip. Lokasinya di dekat sungai yang membagi Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto. Gereja ini masuk Desa Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Pak Supardi sedang sibuk membersihkan gereja tua itu. Ruangan dalam bersih dan terawat. Ada kandang Natal layaknya Gereja Katolik. Aksesorisnya pun tak jauh berbeda. Bedanya hanya tak ada Corpus Cristi atau sosok Yesus Kristus di salib.

Saya mengucapkan Sugeng Natal + Enggal Warsa kepada Pak Supardi. Dan obrolan pun langsung hangat layaknya kenalan lama. "Saya pernah ke Larantuka," kata pensiunan karyawan perusahaan bumbu masak terkenal itu.

Wow, Larantuka. Ibukota Kabupaten Flores Timur itu boleh dikata kampung halaman saya. Tempat sekolah saya usai tamat SD di Lembata. Saya pun kaget karena Pak Pardi ternyata tahu banyak tentang Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya. "Mas ikut paroki apa?" tanyanya.

Wow, rupanya dia langsung memastikan bahwa saya Katolik dengan menggunakan istilah khas Katolik: paroki. Ya, orang Flores atau NTT bagian utara memang sering dianggap Katolik semua meskipun faktanya tidak demikian. Umat Islam cukup banyak. Tapi umat Kristen Protestan memang tidak ada. sebaliknya, di NTT bagian selatan (dulu) hampir tidak ada orang Katolik. Yang ada cuma umat Kristen Protestan jemaat Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) yang satu aliran dengan GKJW atau GPIB di Jawa Timur.

Benar dugaan saya bahwa GKJW Mlirip dibangun pada zaman Belanda. Model aslinya dibuatkan miniatur untuk tempat menyimpan uang kolekte. Gereja yang sekarang sudah renovasi beberapa kali, tapi bentuknya tidak berubah. GKJW Mlirip ini juga menjadi bukti keberadaan umat kristiani di kawasan Jetis, Tarik, Balongbendo, dan sekitarnya sejak dulu.

Pak Pardi bercerita, dulu gereja ini pernah dirampas Jepang. Dijadikan gudang senjata dan peluru. Setelah Jepang kalah, bahkan sempat dikuasai kelompok revolusioner yang antigereja. Tapi, syukurlah, GKJW Mlirip akhirnya kembali ke pangkuan umat Kristen Protestan. Khususnya denominasi GKJW, cikal bakal gereja pribumi di tanah Jawa Timur.

"Dulu banyak karyawan Tjiwi Kimia yang kebaktian di sini. Sekarang agak jarang. Jemaat kami mayoritas dari Jetis, Tarik, dan sekitarnya," ujar bapak yang sangat peduli gereja tanpa bayaran itu.

"Alkitab mengatakan upahmu besar di surga!" Saya mencandai koster sukarelawan ini. Pak Pardi tertawa kecil. "Yah, ketimbang nanggur di rumah, ya, mending bersihkan gereja. Untuk kebaktian besok," ucapnya.

Dipimpin Pendeta Digdo Tjahjanto, GKJW Mlirip mengadakan satu kali kebaktian hari Minggu pukul 06.30. Wilayah GKJW Sukorame ini terdiri dari jemaat Mlirip, Sukorame, Glagahan, Sidorejo, dan Kesamben. Kebaktian dalam bahasa Jawa halus alias krama inggil.

Seperti GKJW-GKJW di tempat lain, menurut Pak Pardi yang asli keturunan umat Kristen di Mojowarno, GKJW Mlirip tak bisa lepas dari budaya Jawa yang kental. Sopan santun ala Jawa tempo doeloe sangat terasa. Karena itu, mereka mudah bersahabat dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang baru dikenal.

Matur nuwun Pak Pardi!

09 January 2014

Petani Lembata makin kecanduan "racun"

Lahan di Ile Ape, Lembata yang dipenuhi alang-alang.
 
Mulanya saya bingung mendengar kata "racun" saat ngobrol dengan masyarakat di Kabupaten Lembata, NTT. Setiap kali ada pertemuan dengan bapak-bapak, termasuk usai misa Natal di Gereja Atawatung, obrolan soal racun sangat heboh.

Racun apa? Akhirnya, saya tahu bahwa yang dimaksud adalah herbisida atau bahan kimia pembasmi rumput (gulma) di kebun. Orang kampung di Lembata memakai istilah khas: RACUN. Saat ini racun tak bisa dipisahkan dari kegiatan bercocok tanam di Lembata.

Jelas budaya racun rumput ini belum lama dilakoni petani-petani di Lembata. Namun, dalam tempo yang sangat singkat, hampir semua petani bergantung pada racun alias herbisida ini. Banyak petani yang tidak mau berkebun kalau dilarang pakai racun. Contohnya seorang ibu di Desa Bungamuda yang baru kembali dari Malaysia.

"Tak ada racun, mana kuat kita?" katanya. Maklum, pemilik lahannya seorang aktivis pertanian organik yang sangat anti segala bentuk bahan-bahan kimia. Apalagi racun pembunuh rumput yang sangat keras itu.

Dari mana petani-petani Lembata belajar memakai racun dan kemudian kecanduan? Jawabnya: Malaysia! Orang-orang kampung yang pulang merantau ternyata menyebarluaskan ilmu racun itu dengan menerapkannya di kebun-kebun. Khususnya kawasan Parek dan Walang yang alang-alangnya sangat bandel.

Begitu disemprot si racun, alang-alang sakti itu layu dan mati. Hanya butuh dua jam saja. Setelah empat jam, dengan syarat tidak hujan, alang-alang akan habis sama sekali. Kebun luas di kawasan Parek itu pun menjadi bersih. Siap ditanami jagung dan tanaman-tanaman lain.

Dengan racun, maka pola penyiapan lahan pertanian menjadi sangat berbeda. Tidak lagi butuh banyak tenaga. Tidak capek. Hasilnya pun efektif. Jagung yang dihasilnya? "Bagus dan besar-besar," kata warga kompak.

Tidak ada seorang pun petani di desa yang bilang racun atau herbisida itu jelek. Semuanya senang. Mereka melihat racun ini sebagai jawaban atas persoalan alang-alang di Kabupaten Lembata, khususnya Kecamatan Ileape dan Ileape Timur.

Hanya dosen-dosen dan pengamat di Kupang yang bilang racun itu sangat buruk. Bisa merusak lahan dalam jangka panjang. Dan sulit dipulihkan karena tanah telanjur rusak. "Racun itu sangat meracuni kehidupan petani kita. Hasil pertanian yang kita konsumsi pun pasti mengandung residu herbisida itu," kata seorang pengamat asal Ileape yang tinggal di Kupang, ibukota Provinsi NTT.

Sayang, pakar-pakar itu cuma omong doang. Teori thok! Tidak memberikan bukti dengan misalnya membuat kebun organik percontohan yang benar-benar bebas dari racun dan aneka pupuk kimia. Karena itu, petani-petani di kampung tetap asyik menggunakan racun untuk membasmi rumput liar di kebun. Pakar-pakar itu malah jadi bahan tertawaan petani di desa.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Lembata pun tak punya sikap yang jelas dalam menghadapi budaya racun di Lembata. Diam saja melihat petani-petani di desa keranjingan racun. Belum ada pengarahan tentang untung rugi obat-obatan pertanian itu. Bahkan, saya dengar banyak pegawai negeri pemkab yang menjadi agen dan pedagang racun.

"Sangat sulit menghentikan racun ini," kata seorang caleg yang tinggal di sentra pertanian Waikomo, Lewoleba, kepada saya.

Di Jawa Timur, setahu saya, para petani menyiapkan lahan dengan membajak pakai traktor atau secara tradisional dengan kerbau. Penggunaan herbisida sangat minimal di Jawa. Bahkan pertanian organik makin ngetren karena komoditas organik makin disukai masyarakat kelas tengah atas yang sangat sadar kesehatan.
Pemkab Lembata plus DPRD Lembata perlu serius mengkaji budaya semprot racun di Lembata.

Kita khawatir hanya meninggalkan warisan berupa lahan pertanian tanpa hara kepada generasi mendatang.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Jelang Imlek, Wayang Potehi Laris Manis



Menjelang tahun baru Imlek ini, Ki Subur panen tanggapan. Satu-satunya dalang potehi dari Sidoarjo ini kemarin sibuk menyiapkan berbagai propertinya untuk dibawa ke Jakarta.

"Tahun ini saya mengisi acara di Jakarta dan Tangerang. Pertunjukan diadakan di mal dan kelenteng," tutur Ki Subur saat ditemui di kawasan Buduran kemarin.

Didampingi dua putranya, Alfian dan Ringgo, yang juga asistennya, Subur tampak sibuk membersihkan berbagai perlengakapan wayang potehi. Mulai dari boneka-boneka kain khas Tionghoa hingga aksesoris panggung. Meski pihak panitia sudah menyiapkan properti panggung, Subur dan kedua anaknya mengusung sendiri properti potehi dari Sidoarjo ke Jakarta.

"Persiapan fisik dan mental juga perlu karena pertunjukan di Jakarta dan Tangerang ini memakan waktu cukup panjang," ujar pria yang biasa mengisi pertunjukan potehi di Kelenteng Tjong Hok Kiong, Sidoarjo, itu.

Subur kemudian membeberkan jadwal manggungnya di Tangerang dan Jakarta. Mula-mula dia diminta memeriahkan festival kebudayaan di Summarecon Mall, Tangerang, 12 Januari 2014. Pertunjukan hanya berlangsung sehari dengan lakon bebas.

Istirahat dua hari, Subur ditanggap ke Kelenteng Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada 15-16 Januari. Dalam beberapa tahun terakhir, Subur memang kerap mendapat job main di kelenteng terkenal tersebut. "Tanggal 19 Januari saya main lagi di Tangerang," katanya.

Selanjutnya, menyambut kedatangan tahun kuda, pria bernama asli Sugiyo Waluyo ini diminta tampil di Mall Ciputra, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, pertunjukan wayang potehi ini berlangsung selama 19 hari.

"Jadi, jadwal manggung saya sebelum dan sesudah tahun baru Imlek ini sangat padat. Jauh-jauh hari saya sudah mendapat job manggung di Jakarta dan Tangerang. Alhamdulilah, kesempatan seperti ini datangnya cuma satu tahun sekali," katanya.

Selain kedua putranya, yang sudah lama dikader sebagai seniman potehi, Subur didukung dua pemusik lain, yakni Candra (asal Surabaya) dan Bambang (asisten dalang). Dalam sebuah pertunjukan potehi, menurut dia, sang dalang cukup dibantu lima hingga tujuh pemusik merangkap asisten. "Tidak perlu banyak kru seperti wayang kulit," katanya seraya tersenyum.

Ditanya soal lakon yang akan dimainkan, Subur mengaku tak diminta secara khusus oleh panitia. Karena itu, dia menyatakan siap menampilkan cerita apa saja sesuai tema perayaan tahun kuda ini. Khusus di Mall Ciputra, dia menyiapkan lakon Sun Go Kong.

"Cerita Sun Go Kong ini sangat menarik dn sesuai dengan tema bunga lotus yang ditawarkan panitia," ucapnya.

Selama 19 hari itu, Subur berusaha menyajikan kisah perjalanan Sun Go Kong yang mengawal gurunya, Tong Sam Cong, ke India untuk mengambil kitab suci secara utuh. Dikenal luas sebagai kera sakti, Sun Go Kong mampu berubah wujud menjadi 72 macam sehingga musuh-musuhnya bisa dengan mudah dikalahkan.

"Sun Go Kong itu punya tongkat ajaib yang bisa disimpan di telinga. Tongkat baja itu bisa dibuat besar atau kecil sesuai kebutuhan," katanya.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

08 January 2014

Minum arak makin gila di NTT


Proses pembuatan arak di Lembata, NTT.


 Tiba di Surabaya, saya membaca berita menarik. 14 orang meninggal dunia di Mojokerto karena minum cukrik alias arak jawa. 

Wow, sebelumnya tiga manusia mati di Sidoarjo karena minuman keras itu. Sebelumnya lagi di Surabaya pun sudah banyak korban berjatuhan. Tapi cukrik alias arak ini masih tetap dicari orang.

Saat berlibur di NTT, khususnya Kabupaten Lembata, saya kaget melihat begitu banyak remaja di desa yang kecanduan arak. Nongkrong di pinggir jalan atau kumpul di tempat tertentu lalu BEHING (minum minuman keras) bersama-sama. Acara baru selesai ketika akal sehat mulai tidak jalan.

"Arak di sini paling laku saat Natal dan tahun baru. Setiap hari ada saja orang yang datang beli," kata saudari sepupu saya yang ternyata penjual arak kelas wahid di kampung.

Budaya minum tuak di NTT yang dulu sangat populer rupanya mengalami pergeseran. Tuak yang tak lain nira pohon siwalan dianggap minuman ringan sekelas teh atau kopi karena kadar alkoholnya rendah.

Fermentasi alkohol belum banyak karena diiris pagi diminum sore. Bahkan kalau benar-benar bersih, tuak menjadi sangat manis. Dipakai untuk membuat gula merah atau gula lempe, kata orang NTT.

Maka tuak putih itu harus dimasak dulu. Disuling untuk dimbil alkoholnya. Proses destilasi selama 4-5 jam ini menghasilkan arak dengan kadar alkohol sangat tinggi. Cairan yang keluar paling awal disebut arak kepala dengan kadar alkohol super tinggi.

Arak yang bagus, kata para peminum di NTT, adalah yang keras. Dibakar bisa menyala. "Minum tuak itu cocok untuk perempuan. Laki-laki harus yang keras," kata seorang mantan TKI yang hobi minum arak.

Gila!

Harga arak di Lembata sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per botol aqua tanggung ukuran 600 ml. Khusus arak koten alias arak kepala Rp 60 ribu per botol. Di kota kabupaten biasanya si penjual ambil untung Rp 5000.

Kebiasaan minum arak cenderung makin gila di NTT, khususnya di kalangan anak muda, karena gaya hidup yang berubah. Sebagian besar anak muda sekarang tidak mau lagi bekerja di kebun atau melakoni pekerjaan kasar seperti orang tua atau kakek neneknya dulu.

Waktu luang yang banyak itu diisi dengan kongko-kongko atau cangkrukan. Si arak jadi teman ngobrol ngalor ngidul tak karuan itu. Orang yang pendiam pun biasanya berubah jadi cerewet kayak politisi di Jakarta setelah menenggak arak asli buatan orang kampung.

Yang menarik, meski sejak dulu budaya minum arak ini sudah merajalela di NTT, saya tak pernah mendengar ada orang mati karena minum arak. Padahal arak yang diminum jauh lebih banyak daripada di Jawa Timur. Karena itu, polisi pun tidak pernah merazia arak di Lembata atau Flores Timur.

"Polisi-polisi di sini malah paling doyan minum arak. Mereka bilang arak di Lembata ini jauh lebih enak ketimbang di Jawa," kata seorang teman yang juga peminum berat.

Saya sendiri berhenti minum arak dan tuak sejak SD di kampung. Dulu, ketika masih bocah, saya diam-diam mencoba minum arak dari gelas kecil. Mata kunang-kunang, bumi bergoyang, dan saya langsung pingsan. Sejak itu saya trauma dengan semua jenis minuman keras mulai dari tuak, bir, arak, hingga miras buatan pabrik.

Saran saya: Sebaiknya kita hanya minum air putih, teh, atau kopi!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

06 January 2014

Quo vadis NTT? Gubernur Frans Lebu Raya dikritik

Meski hanya semalam di Kupang, saya menangkap banyak keluhan masyarakat tentang petinggi provinsi. Kebetulan Gubernur Frans Lebu Raya tengah melantik anggota kabinetnya usai terpilih untuk masa jabatan kedua.

Gubernur Frans, seperti juga gubernur-gubernur sebelumnya, dinilai hanya memilih orang-orangnya saja. Sementara pejabat-pejabat cerdas, yang bukan orangnya, disingkirkan. Jadi staf ahli atau nonjob. Karena Frans berasal dari Flores Timur, kata seorang pengamat, banyak orang Flores Timur yang dipasang.

"Sekarang ini Adonara lagi naik daun. Dulu, waktu gubernurnya Piet Tallo, orang Timor yang naik daun," kata pengamat itu seraya tertawa kecil.

Obrolan santai sembari menikmati sei alias daging asap khas Kupang ini beroleh pembenaran esok harinya. Tiga koran lokal yang saya baca (Pos Kupang, Timor Express, Victory News) juga membuat liputan mendalam tentang mutasi pejabat eselon. Kata-kata yang dipakai bahkan terasa keras dan kasar.

Gubernur Frans dikritik sangat tajam. Tapi apalah artinya kritik kalau pejabat-pejabat itu sudah dilantik? Di NTT, ungkapan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu rupanya masih berlaku. Pejabat-pejabat baik di provinsi maupun kabupaten memang punya budaya politik seperti itu.

Prinsip manajemen the right man on the right place belum dikenal di NTT. Asas kekeluargaan yang berlaku. Tak peduli kualitas dan kompetensi, asalkan keluarga, kerabat, konco si pejabat akan dapat posisi. Dan itu terus berulang dari waktu ke waktu.

Karena itu, bisa dimengerti mengapa NTT sangat sulit maju. Pertimbangan-perimbangan rasional dan meritokrasi, seperti dibahas pengamat di Pos Kupang, sangat sulit diterapkan di bumi Flobamora itu.

Ya... Quo vadis NTT? Mau dibawa ke mana provinsi yang biasa dipelesetkan sebagai Nusa Terus Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu ini?

Kita hanya berdoa agar Nanti Tuhan Tolong!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

04 January 2014

Untung ada Trans Nusa di NTT

Pesawat Trans Nusa lagi mendarat di Bandara Wunopito, Lembata.


NTT itu provinsi kecil tapi pulaunya banyak. Ombaknya juga besar, khususnya di musim hujan seperti ini. Karena itu, transportasi udara menjadi andalan bagi mereka yang ingin cepat dan efisien.

Syukurlah, NTT punya 14 bandara mungil (kalau tak salah) untuk menjangkau 22 kabupaten. Syukurlah, ada maskapai yg buka penerbangan berjadwal ke lapangan2 terbang itu. Dulu hanya Merpati dengan jadwal yg tak jelas. Tiketnya pun mahal sekali.

Syukurlah, pascareformasi ada deregulasi yg membuat masuknya banyak pemain baru di udara. Ini membuat cukup banyak airline kecil yg beroperasi di langit NTT. Maka suasana ruang tunggu Bandara Eltari, Kupang, setiap hari seperti terminal bus di Jawa saja. Selain kemampuan membeli tiket makin baik, harga tiket pun kiang terjangkau.

Lembata, kabupaten asal saya, dilayani dua maskapai: Susi Air dan Trans Nusa. Susi hanya bisa muat 12 penumpang, sementara Trans Nusa 40an orang. Trans Nusa punya dua pramugari yg ramah.

Kita yg di Jawa sangat terbantu karena Trans Nusa punya branch di Surabaya dan Jakarta. Bisa beli tiket dan minta informasi di situ. Sementara si Susi harus kontak ke Kupang. Beli tiket pun harus pakai rekening BRI yg saya tak punya.

Yang mengejutkan saya, penerbangan Lembata-Kupang 3 Januari 2014 benar2 on time. Bahkan lebih maju dari jadwal seharusnya. Aneh, karena biasanya pesawat di Indonesia suka terlambat.

Katanya, konsumen pesawat di NTT dengan lama penerbangan rata2 sekitar 40 menit ini terus meningkat. Paling tidak stabil dalam beberapa tahun terakhir. Ini penting untuk memastikan kontinuitas penerbangan di NTT. Siapa yg mau terbang kalau rugi terus? Itulah yg terjadi dengan Merpati di masa lalu.

Pemkab2 juga harus bisa bekerja sama dengan pihak maskapai. Karena itu, tindakan Bupati Ngada Marianus menutup bandara karena tersinggung tak boleh terulang. Dan, jangan lupa, Trans Nusa pernah ngambek di Lembata gara2 pemkab tidak segera membersihkan lapangan terbang dari pohon kelapa.

Semoga tidak tersinggung lagi!

02 January 2014

Tugu Buaya terkenal di NTT

Kopi Tugu Buaya sepertinya kurang terkenal di Jawa Timur meski dibuat di Gresik. Penikmat kopi di Surabaya, termasuk saya, pun jarang yang memesan Tugu Buaya. Yang terkenal adalah Kapal Api, Sidoarjo, dan belakangan Top Kopi.

Anehnya, di NTT, khususnya Lembata, Tugu Buaya justru sangat terkenal. Di warung-warung kita mudah menjumpai kopi yang diproduksi PT Indraco Jaya Perkasa ini. Bahkan di kampung saya hampir semua rumah menyediakan kopi Tugu Buaya ini.

"Rasanya seperti kopi asli dari kampung saya," kata adik saya di Lembata. Kebiasaan menyangrai kopi biji, kemudian digiling sendiri, sudah tak ada lagi di kampung. Sedih juga karena dulu ada gilingan kopi di rumah saya.

Saya sendiri kurang tahu bagaimana Tugu Buaya bisa penetrasi ke NTT dan mengubah coffee habit warga kampung. Mungkin trik pemasarannya yang hebat. Ia selalu menyediakan hadiah-hadiah menarik seperti kulkas, tv, dvd, sepeda, hingga magic com.

Saya sendiri kurang cocok dengan Tugu Buaya. Tapi, apa boleh buat, harus minum juga karena tak ada alternatif lain. Tak ada rotan akar pun jadi.

01 January 2014

Tahun baru - Pesta rakyat di Lembata



Tak ada trompet dan aneka hiburan modern. Tapi tahun baru selalu dirayakan secara meriah di NTT, khususnya Flores dan Lembata. Semua orang terlibat dan dilibatkan.

Malam tahun baru selalu dijadikan ajang refleksi dan evaluasi sekaligus pesta rakyat. Semua kepala desa seakan berlomba mengemas acara pergantian tahun sebaik mungkin.

Dari enam desa di Kecamatan Ileape, mulai Lewotolok sampai Waimatan, semuanya menyembelih babi dan kambing. Juga disediakan ikan dan ayam bagi mereka yang tak cocok dengan hewan kaki empat. Lewotolok rupanya hanya potong kambing karena muslimnya cukup banyak.

Tahun ini saya ikut di Lamawara, kampung pinggir laut. Selama empat jam, dimulai pukul 20:00, semua warga kumpul di balai desa. Acara pertama ibadat bersama secara Katolik. Meski tanpa pastor, kebaktian berlngsung apik dengan khotbah yang berbobot. Beberapa lagu lama dinyanyikan membuat saya teringat masa kecil dulu di kampung.

Selanjutnya, anak-anak diberi kesempatan makan malam. Makan dengan hidangan spesial. Kemudian giliran pria dewasa disusul perempuan. Ini memang urutan lama yang rupanya masih dipertahankan di era globalisasi ini.

Masih ada banyak waktu menuju pukul 00.00. Wow, anak-anak kampung ternyata sudah bisa membawakan lagu Cherrybelle dengan koreografi seperti di televisi. Ada juga tarian dolo yang rancak.

Kemudian pidato-pidato dari sejumlah tokoh seperti ketua BPD, desa siaga, guru senior, wakil perantau, dan ditutup kepala desa Moses Soge. Pak kades meminta maaf atas kesalahannya selama satu tahun dan meminta warga hidup rukun dan damai.

Kades Moses juga menggunakan malam tahun baru untuk menyampaikan beberapa program desa. Ada yang berhasil