10 December 2013

UKM Wedoro Fokus ke Grosir



Sentra industri sepatu dan sandal di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, kini tak seramai awal 2000-an. Banyak toko yang tutup atau berubah fungsi. Rombongan pengunjung yang datang dengan bus-bus besar pun tak terlihat lagi. Bagaimana sebetulnya kondisi UKM di kawasan Wedoro?

Berikut petikan wawancara Lambertus Hurek dengan HM Baidarus YR alias Haji Ubed, Senin (10/12/2013). Pria kelahiran Wedoro, 14 Agustus 1973, itu merupakan ketua Asosiasi Perajin Sepatu dan Sandal Wedoro.

Toko-toko dan showroom di Wedoro kok sepi banget?

Kondisinya memang sudah lama begitu, sangat sepi. Boleh dikatakan toko-toko yang ada di Wedoro dan sekitarnya sudah setengah mati. Sangat memprihatinkan. Kita bisa hitung berapa banyak toko yang masih buka dan yang sudah tutup.

Kira-kira berapa persen yang masih jalan?

Wah, payah sekali. Hanya sekitar 10 persen saja yang masih bertahan. Karena itu, saat ini Wedoro tidak bisa lagi dijadikan jujukan bagi wisatawan atau masyarakat yang ingin jalan-jalan atau wisata belanja. Wong toko-tokonya lebih banyak yang tutup.

Dulu, sekitar tahun 2000 dan beberapa tahun sesudahnya setiap hari Wedoro ini sangat ramai. Mulai pagi sampai tengah malam begitu banyak orang yang datang belanja. Suasana seperti itu yang tidak terasa lagi sekarang ini.

Mengapa bisa terjadi penurunan yang sangat tajam?

Ada banyak faktor penyebabnya. Tapi, yang paling utama, para pedagang di toko-toko itu tidak punya strategi yang bagus. Karena itu, mereka jelas kalah bersaing dengan produk-produk sejenis. Kebanyakan pedagang juga hanya sekadar latah atau ikut-ikutan saja. Apalagi banyak pedagang yang justru datang dari luar, bukan orang Wedoro. Jadi, mereka tidak mau susah-susah cari strategi untuk tetap mengangkat produk sandal dan sepatu di sini.

Sayang juga ya karena nama Wedoro pernah sangat kondang di tingkat nasional.

Ya, mau bagaimana lagi? Persaingan di dunia bisnis memang luar biasa keras. Kalau kita tidak punya strategi, ya, nggak akan bisa bersaing baik di dalam maupun di pasar internasional.

Lantas, apa strategi Anda dan kawan-kawan yang di asosiasi?

Begini. Meskipun toko-toko dan showroom-nya sudah setengah mati, yang menggembirakan, produksi sandal dan sepatu justru tetap berjalan dan bahkan meningkat. Hanya saja, sekarang ini UKM Wedoro lebih fokus ke grosir atau partai besar. Kalau grosiran ini malah terus meningkat dan pasarnya sudah menjangkau ke mana-mana.

Apa sih keunggulan produk-produk Wedoro?

Yang jelas, kita sudah punya nama. Di Indonesia ini kalau kita bicara sepatu eva, orang pasti ingat Wedoro. Kita juga bikin sendiri, produksinya pun makin bagus dengan kualitas yang terjaga. Beda dengan grosir di Pasar Turi, Surabaya, yang mengambil barang dari luar, termasuk dari Wedoro.

Pasarnya ke mana saja?

Surabaya dan kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogja, bahkan sampai ke luar pulau. Sampai sekarang para perajin tetap memproduksi karena permintaan dari luar sangat banyak. Kalau dilihat dari luar, Wedoro sepertinya mati karena banyak toko yang tutup. Tapi dari segi produksi justru meningkat dari waktu ke waktu.

Berapa banyak rumah produksi sandal dan sepatu di Wedoro saat ini?

Sekitar 70 unit rumah. Ada yang perajin lama, ada yang baru, ada yang meneruskan usaha orang tua, dan sebagainya. Puluhan perajin Wedoro ini setiap hari bekerja keras untuk melayani order dari berbagai kota. Insya Allah, industri kecil dan menengah di Wedoro ini tetap bertahan meskipun harus menghadapi gempuran dari luar.

Anda kelihatan sangat optimitis dengan masa depan industri alas kaki di sini?

Harus optimis dong. Soalnya, sekarang ini  saya lihat makin banyak anak-anak muda yang ikut terjun langsung ke industri ini. Mereka membuat inovasi-inovasi baru dengan desain yang lebih menarik dan modern. Anak-anak muda ini kan punya akses ke internet sehingga mereka bisa dengan cepat mengikuti tren yang ada di pasar internasional. Jadi, produk-produk Wedoro tidak akan ketinggalan zaman. (*)

1 comment:

  1. Saya ikut prihatin setelah melihat kenyataan di wedoro bagi pengrajinnya.Semoga tetap survive dan brani berinovasi dalam bersaing.

    ReplyDelete