18 December 2013

Rumah tetangga pun dijual



Kaget juga ketika saya bersepeda pagi ini. Ada tulisan di depan salah satu rumah: DIJUAL, HUBUNGI 081xxxx. Sekitar enam bulan lalu juga ada rumah di RT 04 ini, kawasan lumayan elite di Pucangsewu, Surabaya, yang dijual.

Di jalan saya berpikir kok begitu mudahnya orang kota menjual rumah? Pindah alamat dan tempat tinggal.
Beli rumah atau kontrak di tempat lain, kemudian pindah lagi, dan seterusnya. Tak ada lagi tempat tinggal yang menetap ala orang-orang kampung di pedesaan.

Sudah lama saya survei lingkungan perumahan yang mayoritas warga Tionghoa itu. Hanya lima rumah yang bukan Tionghoa, yakni tiga Jawa, satu Batak, satu keturunan Padang. Sebagian besar belum menetap 20 tahun di sini. Yang benar-benar "penduduk asli" dalam arti orang tua atau kakek-neneknya tinggal di situ sejak perumahan itu dibangun akhir 1960-an hanya EMPAT rumah.

Artinya, 30 rumah dihuni oleh penduduk baru. Dua rumah dirombak menjadi satu gereja aliran pentakosta. Satu rumah lagi jadi kantor perusahaan kontraktor bangunan. Maka, tidak heran hubungan antarwarga di sini kurang erat. Hanya tahu sedikit-sedikit tapi tak ada komunikasi.

"Surabaya sudah berubah sangat banyak. Bukan saja kotanya makin maju, ramai di jalan, tapi karakter masyarakatnya lain sama sekali," ujar almarhumah Eyang, salah satu penduduk asli angkatan pertama perumahan itu.

Eyang Jito pun sudah meninggal lebih dulu. Eyang Warji kini stroke di tempat tidur. Hanya beliaulah angkatan pertama yang tersisa. Komposisi penduduknya berubah, pola pergaulan pun lain. Pagar-pagar dibuat tinggi, rapat, demi keamanan sehingga sosialisasi tak ada lagi.

"Dulu sebelum tahun 1990-an sangat guyub. Kami sering dolan ke rumah tetangga, ngopi, cerita-cerita. Tahun 2013 ini yang datang arisan RT paling banyak 5 orang," kata Eyang suatu ketika.

Yah, kota-kota memang berubah, apalagi Surabaya yang makin modern dan fungsional. Tradisi jagongan ala wong kampung makin berkurang, bahkan sudah lama hilang di perumahan menengah atas. Tahu-tahu kita melihat bendera putih dipasang di depan rumah + karangan bunga dukacita. Ibu X telah meninggal dunia.

Tak lama kemudian rumah itu pun jatuh ke orang baru. Tidak kerasan atau ada peluang besar di tempat lain, pindahlah keluarga itu. Maka, ketika seorang bapak menanyakan alamat rumah Pak X di rumah nomor sekian, saya tak bisa menjawab karena tidak tahu. Saya tahu rumah yang punya taman indah itu milik orang Tionghoa, bukan haji asli Jawa.

"Maaf, saya 20 tahun tidak ke Surabaya. Dulu saya sering main ke rumah Pak X ini waktu masih kuliah di ITS," kata bapak yang memakai mobil kelas atas itu.

Inilah hebatnya dinamika orang kota yang luar biasa. Orang-orang kampung kadang sulit membayangkan bagaimana tanah warisan nenek moyang, bangunan di atasnya, makam-makam di sekitarnya, bisa beralih tangan begitu cepat semudah mengubah nomor HP.

Bahkan, saya kenal banyak seniman di Surabaya dan Sidoarjo yang nomor HP-nya masih sama dengan delapan tahun lalu, sementara tempat tinggalnya sudah ganti tiga kali. Rupanya zaman sekarang ini lebih mudah menemui orang di jagat maya, karena alamat e-mail tetap sama, ketimbang tatap muka di dunia nyata.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. yah itulah uniknya, namanya juga orang kota gan. daripada ditaro tulisan gitu, lebih jual aja disini rumah dijual nya http://goo.gl/wJzkF

    ReplyDelete