28 December 2013

Rp 4000 Setahun di Keuskupan Larantuka

Rupanya Keuskupan Larantuka punya masalah finansial yang serius. Dana swadaya umat sangat minim, sementara banyak proyek yang harus digarap. Gereja-gereja juga sudah banyak yang rusak.

Saat ikut misa Natal di Gereja Atawatung kemarin, saya terkejut dengan surat gembala Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong Kung. Cukup panjang tapi intinya mengajak umat lebih peduli gereja. Dulu pernah diimbau tapi kurang efektif.

Maka dibuatlah semacam kewajiban. Setiap umat wajib menyumbang Rp 1000 per triwulan. Dus, Rp 4000 setahun. Angka yang sangat kecil, recehan, tapi sering jadi masalah di NTT.

Sudah lama saya gundah dengan masalah finansial di Keuskupan Larantuka. Keuskupan tempat gereja katolik pertama di Indonesia ini sangat kedodoran dalam pendanaan gereja.

Contohnya gereja kecil di Mawa. Sudah belasan tahun direnovasi tapi belum jadi sampai sekarang. Pembangunan mandeg karena tak ada duit. Gereja-gereja lain pun kondisinya sudah tak pantas disebut sebagai rumah ibadah.

Bandingkan dengan di Jawa, khususnya Surabaya. Ada paroki yang biaya pengadaan AC mencapai miliaran rupiah. Altar ratusan juta, bahkan miliaran. Ada juga paroki yang lukisan dan dekorasinya miliaran rupiah.

Juga ada paroki yang habis ratusan juta hanya untuk urusan memecahkan rekor Muri pohon natal terbesar. Telinga saya benar-benar tersiksa mendengar surat gembala yang dibaca Romo Blasius Keban.

Umat di Keuskupan Larantuka sebetulnya punya kemampuan untuk menyumbang paroki atau keuskupan. Cuma kemauan untuk berbagi kasih masih kurang. Anak-anak sering menghabiskan duit untuk pulsa atau rokok tapi enggan mengisi kolekte atau persembahan.

Lebih gila lagi ada juga umat yang doyan membeli arak seharga Rp 25000 per botol, tapi sangat sulit menyisihkan uang untuk gereja. "Gereja kan sudah ada yang urus," kata si pecandu miras itu.

Keuskupan Larantuka rupanya belum berhasil melalui masa transisi dari SVD ke praja. Mengubah mental menerima ke memberi memang tidak gampang.

1 comment: