21 December 2013

Misa Requiem di Rumah Romo Damar di Sidoarjo



Menjelang Natal ini, Paroki Hati Kudus Yesus, Katedral, Surabaya, dikejutkan oleh berita dukacita. Bapak Christoforus Maridjo meninggal dunia dalam usia 71 tahun di RSAL Surabaya. Almarhum Maridjo ayah kandung Romo Damar Cahyadi, Pastor Paroki HKY Katedral Surabaya.

Informasi langsung beredar cepat via SMS. Dan, siang tadi (21/12/2013), digelar misa requiem di rumah duka Jl Kombes M Duryat I/1 Sidoarjo. Umat Katolik dari Surabaya, khususnya HKY, dan umat Katolik di Sidoarjo ramai-ramai datang ke rumah duka untuk mengikuti upacara penghormatan terakhir untuk almarhum Pak Maridjo.

Misa requiem dipimpin Uskup Surabaya Monsinyur Sutikno Wisaksono. Cukup banyak romo dan suster yang hadir. Di antaranya Romo Senti Fernandez dan Romo Agus Sujatmiko. Ada pula caleg asal Flores yang nyaleg di Sidoarjo, Silvester Ratu Lodo.

"Almarhum Pak Maridjo ini meninggal sebagai orang Katolik yang baik. Beliau berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pastor. Dan itu tidak banyak orang tua yang bisa melakukannya," kata Silvester yang juga politikus Partai Golkar.

Misa requiem berlangsung cukup lama meskipun sebagian lagu ordinarium ditiadakan. Cuma lagu antar bacaan, bapa kami, komuni. Bapa Uskup berkhotbah dengan singkat tapi padat. Menekankan bahwa orang beriman yang setia mengikuti Kristus pasti akan mendapat tempat yang bahagia di sisi Tuhan.

Saya yang berdiri di luar kebagian jatah menjadi penerima tamu ibu-ibu muslimah, para tetangga almarhum. Mereka datang ketika misa baru sampai pada bacaan Injil disusul khotbah. Artinya, misa masih panjang karena dipimpin langsung Bapa Uskup.

"Mohon bersabar kira-kira 30 menit lagi," kata saya meyakinkan ibu-ibu itu yang ingin buru-buru mengucapkan belasungkawa kepada Ny Maridjo.

Ketika sudah 30 menit, misa baru sampai Bapa Kami. Dus, masih lama. Ibu-ibu itu rupanya sudah tidak sabar. "Berapa menit lagi Mas?" tanya salah satu ibu muslimah.

Hehehe.... Susah juga menjelaskan liturgi Katolik kepada ibu-ibu pengajian muslimah Sidoarjo ini. Saya kemudian bilang bahwa misa requiem ini seperti salat jenazah dalam Islam. Hanya saja, misa requiem ini lebih lama karena dipimpin langsung Bapa Uskup.

"Sabar aja Bu, paling setengah jam lagi. Sekarang belum bisa takziah sama Bu Maridjo. Misanya kan belum selesai," kata saya dengan tenang.

Rupanya ada ibu-ibu yang ingin segera pulang karena punya kesibukan lain. Sementara ibu-ibu yang lain bertahan hingga misa selesai.

Yah, saya akui upacara kematian atau misa requiem Katolik memang jauh lebih lama ketimbang salat jenazah muslim. Karena itu, perlu ada saling pemahaman agar para pelayat yang non-Katolik tidak kecewa.

"Kalau sudah selesai misa, ibu-ibu silakan takziah," kata saya.

Jenazah almarhum Pak Maridjo dimakamkan di tempat pemakaman Delta Praloyo, Lingkar Timur Sidoarjo.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment