10 December 2013

Pengungsi Afghanistan di Sidoarjo



Noor Muhammad tampak sumringah ketika menikmati jus jeruk di salah satu kantin di Puspa Agro Jemundo, Taman, Senin (9/12/2013) siang. Berkali-kali dia meminta Astuti, temannya, mengulang kata-kata bahasa Inggris yang dirasa kurang jelas. "Maaf, saya tidak bisa bahasa Inggris," ujarnya.

Pria asal Afghanistan ini memang tak bisa berbicara lancar baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Karena itu, Astuti pun lebih banyak berbahasa Tarzan sembari mengajarkan bahasa Indonesia kepada pria berkumis itu.

"Saya kasihan karena dia tidak punya kepastian kapan akan berangkat ke negara yang bersedia menmpung mereka," ujar Astuti.

Wanita asal Sukodono ini berkenalan dengan Noor Muhammad saat senam pagi di kompleks Puspa Agro. Sejak itu Noor sering curhat mengenai masa depan para pengungsi Afghanistan yang tidak jelas.

"Pulang ke negaranya tidak mungkin karena ada risiko politik dan sebagainya. Tinggal di sini pun statusnya cuma pengungsi sementara," kata wanita berjilbab ini.

Sudah tujuh bulan ini Noor Muhamad bersama para pengungsi Afghanistan, Iran, dan Iraq dititipkan pihak Imigrasi Jawa Timur di Rusun Puspa Agro Jemundo. Noor merupakan salah satu dari 95 pengungsi Afghanistan yang mendapat sertifikat dari UNHCR.

Dengan sertifikat itu, mereka berhak mendapat perhatian pemerintah Indonesia sebelum dikirim ke negara ketiga. "Saya dan teman-teman ingin ke Australia untuk tinggal dan bekerja di sana," tutur Noor.

Dia  enggan menceritakan persoalan politik seperti apa yang memaksa dia menjadi pengungsi di Jemundo. Namun, rupanya dia membawa bekal yang cukup sehingga tidak kesulitan membeli makanan dan minuman. Termasuk untuk mentraktir teman-teman wanitanya di Sidoarjo.

"Saya suka wanita di sini. Manis-manis dan baik hati," ujarnya sembari melirik Astuti di depannya.

Tinggal di Sidoarjo dengan menyandang status pengungsi, apalagi warga negara asing, tentu saja membuat Noor Muhammad dan kawan-kawan tidak bisa leluasa bepergian ke mana-mana. Mereka hanya boleh jalan-jalan di kompleks Puspa Agro Jemundo. Sebab, petugas Imigrasi mengawasi mereka selama 24 jam.

Hanya saja, karena sudah lama tinggal di pengungsian, Noor dan kawan-kawan terlihat kerasan dan makin beradaptasi dengan lingkungan setempat. Selain makin lancar berbahasa Indonesia, mereka pun senang makanan Indonesia.

"Saya suka nasi goreng," kata Noor. (rek)

10 comments:

  1. sangat informatif...maju trs utk blogger indonesia

    ReplyDelete
  2. I cant understand Bahasa, but I would like to knew, when I was in Indonesia Surabaya kota puspa agru I have best memorial history from Indonesian people, they are very kind and good and honest people.
    The first time when I came in Indonesia I cant eat nasi goring, after many time I habit to nasi goreng. now I like that unfortunately I miss all of them....
    3makasi.

    ReplyDelete
  3. Pengungsi itu tukang tipu, pacaran sama wanita indonesia dijanjikan mau dinikahi dan dibawa ke Australi/USA kl sdh dpt ijin berangkat ternyata janji palsu, uang ceweknya sdh habis dia tinggalkan juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sopo sing salah? Kok gelem diapusi pengungsi sing gak jelas iku? Gak papa.. buat pelajaran.

      Delete
    2. Hahahaha lhaiyaa salahe gelem d bujuki,,, mungkin liat orang cakep gt kali wkwkw

      Delete
  4. Ada kasihan.mreka perlu suport kita.tapi disisi lain kita yo legrek kalo disuruh mbandani terus.wkwkwkkwk....

    ReplyDelete
  5. Saya driver taksi online barusan antar mereka berenam ke ciputra waterpark, sempat ngobrol sebentar wkt saya tanya sdh kemana aja selama mengungsi di puspa agro, mereka jawab sdh keliling bandung, jogja, bali & probolinggo. Dlm hati saya bertanya2 mereka ternyata banyak duit ya & lifestyle nya diatas kita sbg org pribumi. Jadi kalo banyak yg kasihan thd mereka saya jadi bertanya2, hidup mereka baik2 aja & terlihat bahagia kok.

    ReplyDelete
  6. Kelihatannya lebih bahagia ketimbang di negaranya yg perang melulu. Mereka jenuh sehingga cari kompensasi dengan ngelencer ke luar puspa agro meskipun sebenarnya tidak boleh. Malah pernah ada yg ketahuan tinggal dan ngajar di Candi sebelum dicokok.

    Mereka ini sebenarnya jadi beban negara dan merugikan rakyat Jatim. Lha wong rusunawa di Sidoarjo itu dibangun untuk masyarakat kurang mampu tapi malah dijadikan hunian orang asing selama bertahun2.

    ReplyDelete
  7. Saya punya beberapa teman refugees dari puspa agro,mereka rata2 baik2 kok .ga pernah minta2 ,sy simpati kita doakan semoga mereka mendapatkan masa depan yang jelas,tinggal jauh dari keluarga,di sini luntang lantung
    bayangkan gimana rasanya

    ReplyDelete
  8. Saya jg punya temen refugee dr Pakistan sjauh ini sih baik2 aja. Klo lainx mirip pria kesepian gt dah...

    ReplyDelete