19 December 2013

Pelukis Lekra menyanyi seriosa



Siang kemarin, 18 Desember 2013, saya mampir ke rumah Pak Greg di Beringin Indah, Taman, Sidoarjo. Perumahan di dekat flyover itu terendam air setinggi 20-30 cm. Katanya, sudah seminggu lebih.

Pak Greg, 77 tahun, pelukis yang pernah dibuang ke Pulau Buru oleh rezim Orde Baru karena ikut Lekra di Surabaya. Pria bernama lengkap Gregorius Soeharsojo Goenito ini bersyukur bisa kembali ke Jawa dengan selamat. Disambut sang pacar, kemudian menikah, dan sehat sampai sekarang.

Saat ini dia masih melukis. Lebih banyak menggambar Buru, Waiapo, dan barak-barak tapol. Rupanya ingatan akan masa pembuangan itu begitu membekas sampai usia lanjut. "Saya ini salah satu dari ribuan korban 3B Soeharto: buang, bunuh, bui. Saya cuma dibui dan dibunuh," katanya sambil tertawa kecil.

Menertawakan kepedihan dan penderitaan rupanya membuat Pak Greg selalu ceria. Dan tetap semangat ketika sebagian besar temannya sudah kembali ke pangkuan sang Pencipta. Pak Greg juga bangga karena baru saja menjadi narasumber utama liputan panjang majalah Tempo tentang Lekra: Lembaga Kebudayaan Rakyat.

"Mau minum kopi atau teh?" Pak Greg bertanya.

Saya bilang air putih saja. Di sela tumpukan bukunya memang banyak aqua gelasan.

Sambil bicara ngalor-ngidul tentang Lekra, sosialisme, komunisme, Pulau Buru, lukisan-lukisannya, rencana bikin buku sketsa Buru, kaitan antara Lekra dan PKI... tiba-tiba Pak Greg bersenandung. "Duhai malam, alangkah cepat berlalu...."

Wow, lagu seriosa!

Saya ingat betul judulnya: Kisah Mawar di Malam Hari. Komposisi semiklasik ala Indonesia yang dulu sering jadi lagu wajib bintang radio dan televisi. Percakapan pun terhenti karena fokus saya beralih ke seriosa.

Tak perlu bahas Lekra dan Buru karena memang sudah ditulis panjang lebar di Tempo. Juga di novel Pramoedya.

Pak Greg kemudian melanjutkan dengan lagu Bintang Sejuta. "Sejuta bintang cemerlang menerangi mayapada...," demikian petikan syair seriosa lawas karya Ismail Marzuki itu.

Kok sampeyan bisa nyanyi seriosa dan hafal liriknya?

"Lho, kamu ini bagaimana sih? Saya ini kan seniman sejak masih sangat muda. Dulu itu kami kumpul dengan seniman musik, teater, wayang kulit, perupa, dan sebagainya. Kami biasa nyanyi seperti ini. Di taman siswa bahkan kami diajari seni suara. Lagu-lagunya ya seriosa, semiklasik, bukan lagu-lagu pop kacangan itu."

Saya kemudian mengetes Pak Greg dengan beberapa lagu seriosa lain. Dan ternyata semuanya dilalap dengan mudah. Suaranya masih bagus meskipun power vokalnya tak bisa sekencang orang muda.

Di Pulau Buru, Pak Greg bilang banyak sekali seniman-seniman top Indonesia era 1960-an yang ikut menjalani isolasi khas Orde Baru. Pak Greg menyebut nama beberapa seniman musik yang menciptakan lagu-lagu terkenal. Salah satunya Subronto Kusumo Atmodjo, komponis yang beberapa lagunya dimuat di buku nyanyian gerejawi seperti Kidung Jemaat dan Puji Syukur.

Para seniman ini, juga selain dipaksa bekerja membuka sawah, tetap berkesenian di waktu senggang. Bikin lagu, paduan suara, sandiwara, puisi, wayang, ludruk, dan sebagainya. Karena itu, seniman-seniman muda macam Pak Greg justru makin terasah kepekaan artistiknya di pulau terpencil itu.

"Tahanan politik itu juga manusia yang membutuhkan kesenian. Dan lagu-lagu seriosa adalah lagu seni yang sangat bagus," katanya.

Tiba-tiba hujan deras. Wilayah Beringinbendo, Taman, pasti akan lebih parah lagi genangannya karena drainase benar-benar tidak jalan. Saya pun cepat-cepat pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Krian, Wonoayu, Sidoarjo, dan finish di kantor baru di kawasan flyover Buduran.

Saya berjanji akan datang kembali mendengarkan lagu-lagu seriosa dari Pak Greg. Musik lawas yang hanya diiringi piano tapi sangat berkelas.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment