19 December 2013

Pak Sutaji di Pasar Seni Sidoarjo



Pak Sutaji dan Bu Nurhayati, istrinya, masih tinggal di pasar seni, Pondok Mutiara Sidoarjo. Sementara pentolan-pentolan lama macam Pak Totok, Hesti, Henry, Sugeng... sudah tak ada di situ.

Bangunan yang sejak 2005 diharapkan jadi pusat kegiatan seni, sekaligus pasar seni, itu pun tampak muram. Cuma namanya saja pasar seni. Cita-cita Pak Noengky dkk dari Dewan Kesenian Sidoarjo rupanya belum kesampaian.

"Nggak gampang memang mengurus seniman, khususnya pelukis. Visi dan misinya tidak selalu sama dan sulit disatukan," kata Pak Sutaji yang tinggal di pasar seni sejak 2005.

Pasutri ini tetap sederhana tapi asyik. Jadi jujukan siapa saja yang ingin mampir, ngopi, ngobrol ngalor ngidul. Pak Taji memang suka bicara dan cenderung ke kejawen + kristiani. Ayat-ayat Alkitab dikaitkan dengan ajaran budaya Jawa. Kitab suci yang dibacanya pun berbahasa Jawa.

Ngopi bersama Pak Taji, mau tidak mau, harus ngobrol soal budaya + kristiani + seni musik + lukisan + lingkungan. Pak Taji merangkum itu semua. Dia juga cerita tentang kebaktian kebangunan rohani (KKR) di hotel mewah. Bagaimana dia didamprat oleh seorang pendeta dengan kata-kata kasar.

"Globalisasi ini juga sudah merambat ke gereja-gereja. Sudah banyak gereja yang cara kerjanya mirip industri," katanya.

Hehehe.... Pancingan Pak Taji ini sengaja saya redam karena urusannya bisa panjang. Tema yang sebetulnya sangat relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya justru tertarik dengan beberapa lukisan Yesus di stan Pak Taji. Siapa yang melukis itu?

"Saya sendiri," kata pria 73 tahun ini.

Oh, saya tak menyangka kalau Sutaji Puspo Pinardi bisa melukis. Hasilnya pun tak mengecewakan. Selama ini saya tahu dia menekuni seni tradisi, tembang Jawa, menemani istrinya yang penyanyi campursari.

Makin tua membuat Pak Taji makin mendalami hal-hal rohani. Dia seorang jemaat GKJW, gereja pribumi pertama di Jawa Timur, yang sangat concern pada budaya Jawa. "Anak-anak GKJW sekarang malah nggak bisa bahasa Jawa lho. Lama-lama GKJW tidak ada bedanya dengan GKI atau GPIB," katanya.

Bu Nur sendiri sibuk memasak, bikin kopi untuk saya. Ibu ini baru saja merilis album campursari. Minggu lalu dia diundang ke Jember untuk menyanyi di sebuah gereja, khusus lagu rohani berbahasa Jawa.

"Puji Tuhan, berkat itu selalu ada saja. Saya dan suami hidup seperti ini tapi tetap gembira dalam Tuhan," kata Bu Nur.

"Saya request lagu Pamarta Kula Agesang!" kata saya merujuk album pertama Bu Nur, Pamarta Kula Agesang.

Bu Nur tertawa kecil, lalu menyanyikan kidung rohani Protestan Jawa itu sembari memasak di depan stannya. Nyanyian rohani yang mengingatkan saya pada orang-orang Kristen sederhana di desa-desa yang masih polos, sederhana, dan takut akan Tuhan.

Matur nuwun Bu Nur!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment