28 December 2013

Natal Sederhana di Atawatung

Remaja dan anak-anak berpose di kandang Natal Gereja Atawatung, Lembata, 25 Desember 2013.


Hujan deras, cuaca tak bersahabat, mewarnai Natal tahun ini di Atawatung. Tapi, bagi saya, sangat berkesan karena misa digelar di gereja masa kecil saya. Sudah bertahun-tahun saya tak ikut misa di gereja ini.
Bangunan gereja masih sama tapi jauh lebih bagus. Bahkan mungkin ia gereja terbagus di Kabupaten Lembata, NTT. Dulu umat duduk jongkok. Sekarang bangkunya seperti di kota di Jawa.

Sebagai tuan rumah, Stasi Atawatung menampung umat dari lima stasi atau delapan desa. Karena itu, umat membeludak sampai ke lapangan bola. Misa Natal pun jadi ajang reuni umat dari Mawa yang dulu bagian dari Stasi Atawatung, termasuk saya.

Misa dipimpin Romo Blasius Keban, pastor paroki asal Solor. Khotbahnya panjang dan bernada muram. Suasana kegembiraan Natal sepertinya hilang oleh isi khotbah yang terlalu banyak mengkritik umat. Sang pastor sepertinya terlalu banyak curhat.

Tak apalah, gaya khotbah romo memang beda-beda. Kita yang biasa misa di Jawa kaget mendengar khotbah yang sangat panjang dan minor itu.

Syukurlah, gaya Natal ala orang kampung masih terasa pada 25 Desember 2013. Umat Atawatung sebagai tuan rumah sudah menyiapkan jamunan istimewa untuk umat dari luar desa. Ada tim khusus yang bertugas mengajak para tamu mampir ke rumah-rumah yang sudah disiapkan.

Sebelumnya sudah ada acara potong kambing, babi, ikan. Silakan menikmati sepuas-puasnya. Tradisi pesta rakyat macam ini sudah berlangsung lama di hampir semua desa di Flores, Lembata, Solor, Adonara. Tahun lalu stasi kami yang menjamu tamu, tahun depan giliran stasi lain, dan seterusnya.

"Baru kali ini saya merasakan Natal yang berbeda. Setelah misa semua umat makan bersama hidangan yang istimewa," kata seorang wanita asal Jawa.

Maklum, di Jawa yang namanya Natal cuma urusan ibadah atau liturgi. Misa panjang, kor bagus, tapi tidak ada makan bersama. Tidak potong sapi atau babi. Kembali ke rumah, acara HODE LIMA atau saling jabat tangan masih mewarnai Natal di kampung halaman.

Suasana yang mengingatkan saya pada lagu Natal lama: Kenangan Natal di Dusun Kecil.

Gereja Atawatung, Lembata, NTT.

No comments:

Post a Comment