13 December 2013

Mencoba nonton TVRI saja



Bayangkan Anda hanya punya satu channel televisi. Dan televisi itu adalah TVRI. Wow, rasanya aneh di era puluhan, bahkan ratusan televisi saat ini. Ketika TV-TV berlomba menyajikan acara yang menarik meski tak semuanya mendidik dan bermanfaat.

Begitulah. Seminggu ini saya mencoba hanya menonton TVRI karena kebetulan ada gangguan serius di televisi saya. Channel lain kabur, hanya TVRI yang jelas. Padahal, sudah lama sekali saya tak nonton TVRI, kecuali siaran langsung Liga Italia yang cukup menarik itu.

Menonton TVRI thok hari gini ibarat memutar balik jarum sejarah. Kembali ke masa lalu ketika Indonesia hanya punya satu televisi, ya TVRI itu. Nuansa jadul ini memang masih terasa meski sudah ada beberapa acara yang kemasannya mirip TV swasta yang heboh itu.

Saat memencet kibod ponsel ini di TVRI lagi ditayangkan tarian Bugis Makassar. Wanita-wanita menari sembari memegang kipas di hutan pinus. Sementara yang laki-laki memperagakan kemampuan bermain sepak raga. Melodi musiknya mirip reog ponorogo.

TVRI memang sedang membahas wisata di Malino, Sulawesi Selatan. Presenternya manis, narasinya pun apik.
Berbeda dengan presenter acara sebelumnya, Shinta, yang membahas pekan nasional petani di Malang. Kata-kata Shinta penuh jargon khas birokrasi alias bahasa pejabat ala Orde Baru. Mengingatkan saya pada Ussy Karundeng, presenter TVRI jadul yang bahasanya sangat birokratis dan ruwet.

Diskusi politik di TVRI pun lebih mendalam karena durasinya panjang. Ada iklan tak tak seekstrem di TV swasta. Apalagi talkshow di tvOne yang sering dipotong seenaknya oleh host demi iklan. Padahal si narasumber belum sampai ke point of view-nya.

Menurut saya, TVRI sangat kedodoran di acara hiburan, khususnya live music. Artis-artisnya bukan top class, diiringi band yang juga bukan aslinya. Ini membuat penonton dipaksa untuk segera mematikan televisinya atau pindah saluran.

Hebatnya, TVRI punya program musik jazz, keroncong, dan wayang kulit. Program yang tak ada di televisi swasta. Sayang, apresiasi musik berkualitas ini ditayangkan larut malam. Sebagian besar orang Indonesia, khususnya di wilayah waktu Indonesia tengah dan timur, sudah tidur lelap.

Saya juga jadi tahu kalau Mas Koko Tole ternyata seorang arranger musik keroncong yang kreatif. Dia berani membongkar pakem khas keroncong tanpa menghilangkan esensi keroncong yang mengalir dengan cengkok yang khas. Mas Koko ini dulu beberapa kali menulis komentar di blog ini tentang musik.

Singkat cerita, menonton TVRI rasanya lebih ayem tentrem. Waktu kita untuk membaca buku, koran, atau majalah pun jadi lebih banyak. Sebab kita tidak akan kecanduan seperti gosip artis di televisi swasta. Kita pun lebih relaks dan fokus dalam berpikir.

Menonton TVRI thok pun bagus untuk berlatih slow living dan deep thinking di era yang makin bergegas ini.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment