01 December 2013

Kor gereja perlu ekspresi

Misa minggu pertama Adven di Wonokromo, Paroki Yohanes Pemandi, Surabaya, baru selesai. Misa dipimpin Romo Kris Kia Anen SVD, pastor paroki asal Flores Timur. Dari dulu paroki ini memang didominasi pastor-pastor asal Flores karena kongregasi SVD yang bertugas di sini.

Romo Kris mengajak kita bertobat, menyambut Natal. Kita juga diajak berjaga-jaga karena anak manusia datang pada waktu yang tak kita duga. Advent memang masa persiapan Natal. Persiapan hati. Natal sebetulnya perayaan rohani yang tidak perlu dirayakan ala pesta-pesta duniawi.

Itu yang kira-kira saya tangkap dari kotbah Romo Kris Kia Anen SVD.

Yang menarik perhatian saya justru paduan suara atau kor. Mengenakan busana merah jambu, kor ini cukup bagus. Dirigen oke, olah vokal mereka juga bagus. Cuma cenderung kecepatan di beberapa lagu yang sebetulnya menuntut tempo sedang (moderato) atau lambat (largo).

Sebut saja lagu pembukaan O Datanglah Imanuel. Jelas sekali bahwa lagu ini berisi harapan dan permohonan akan kedatangan Sang Imanuel. Ada rasa rindu yang dalam.

Sayang, kor membawakan dengan tempo yang terlalu cepat. Bahkan birama 3/4 diubah jadi 6/8. Maka, nuansa lagu kerinduan akan Juru Selamat pun menjadi hilang. Enteng sekali. Ekspresi tak akan bisa muncul. Belum kita bicara soal dinamika.

Membawakan lagu tanpa ekspresi atau dinamika, bagi sebuah paduan suara gerejawi, justru kontraproduktif dalam perayaan ekaristi. Ingat, que bene cantat bis orat!

Bene cantat! Yang ditekankan di situ adalah bernyanyi dengan baik. Bukan hanya sekadar bernyanyi. Menyanyi dengan memperhatikan intonasi, frasering, kemudian tempo, dinamika, ekspresi.

Mengapa kor-kor di gereja menyanyi dengan sangat bagus, memperhatikan semua elemen paduan suara, ketika ikut lomba atau festival? Karena ingin menang. Ingin dapat skor tinggi dari dewan juri. Ingin dapat keplokan tangan penonton.

Anehnya, ketika bertugas di gereja, kor-kor kita menyanyi biasa-biasa saja. Bahkan, jarang berlatih. Soalnya Tuhan tidak kelihatan. Tidak ada juri yang menilai.

Persoalan utama di kor-kor Katolik di Jawa Timur sejak dulu, yang saya perhatikan sejak dulu, adalah tempo, dinamika, dan ekspresi. Lagu-lagu dibawakan terlalu lambat, ditarik-tarik. Penyakit tempo super lambat ini paling parah di Flores.

Tapi, ketika dirigen memperbaki tempo, malah terlalu cepat. Tidak semua lagu itu harus cepat Bung! Ada tempo lambat dan sedang. Kalau tempo lambat dijadikan sangat cepat ya rusaklah komposisi sebagus apa pun.

Rupanya komisi liturgi Keuskupan Surabaya, khususnya Bung Yulius, Bung Sipri, Pak Arie, perlu bikin lokakarya khusus untuk para dirigen dari 42 paroki. Kita ingin ada standar mutu paduan suara yang tidak jomplang.

Salam damai!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment