28 December 2013

Hidup tanpa sinyal di Lembata

Hidup tanpa sinyal lebih susah ketimbang sayur tanpa garam. Sayur tanpa garam justru lebih sehat untuk mereka yang darah tinggi. Tapi kita yang tiap hari biasa pegang ponsel atau laptop, berkelana di internet?

Itulah yang saya alami di Lembata. Kabupaten baru di NTT ini hanya dilayani satu operator: Telkomsel. Tapi BTS-nya tak banyak. Warga di sekitar 20 km dari Lewoleba, ibukota kabupaten, sudah sulit mendapat sinyal.

Orang kampung biasanya lari ke bukit atau pantai agar dapat sedikit sinyal telkomsel. Tapi lemah bukan main. Masuk ke internet sudah sulit. Bagus juga untuk belajar menjauhkan internet dari kehidupan. Kembali ke masa lalu ketika ponsel belum ada, listrik pun masih mimpi.

Ponsel tanpa sinyal ini mengingatkan saya pada masa ketika jaringan listrik PLN belum masuk kampung saya. PLN baru tembus kampung sepuluh tahun lalu.

Waktu itu banyak TKI yang kirim kulkas ke kampung. Bisa dibayangkan kulkas tanpa listrik. Maka kulkas pun berubah fungsi jadi lemari penyimpan makanan. Bahkan lemari pakaian.

HP tanpa sinyal pun tetap ada gunanya. Paling tidak bisa buat memutar lagu atau memotret sana-sini. Anggap saja dokumentasi perjalanan mudik ke kampung halaman.

2 comments:

  1. hape semahal apapun bisa tidak berguna kalau tidak ada pulsa

    ReplyDelete
  2. Yah Bung Hurek, saya seumur hidup belum pernah pakai HP.
    Enam tahun silam anak2 memberi hadiah natal sebuah HP yang ditaruh dibawah pohon natal kepada saya. Anak bungsu memberi saran kepada kakak2-nya, belikan papa HP yang paling primitif, sebab toh dia tidak tahu cara memakainya.
    HP Nokia model tua itu, masih terbungkus dikotak orisinil, tidak pernah saya gunakan, sebab memang tidak tahu cara mengoperasikannya. Kemana saya pergi, bojo-ku selalu ngintil koyok mimi. Dia selalu memiliki HP yang tercanggih dan terbaru.
    Jadi buat apa saya harus punya HP, toh berita2 yang penting
    selalu disampaikan oleh bojo-ku. Demikian pula dengan Navigator dimobil, selalu bojo-ku yang mengetik tujuan kemana.
    Aku juga tidak becus memakainya.
    Kadang2 saya iri melihat babu, tukang becak, pedagang sate, pada handy2-an. Oleh teman2, para sarjana technik, saya dijuluki encek Low-tech, yang di-jawa-kan menjadi Cek Lotek.
    Suatu hari saya ketemu kakak ipar bojo-ku di Surabaya, dia sarjana physika, saya bilang; koh, gua ini tidak bisa pakai handy.
    Dia balik bertanya; apakah lu merasa kekurangan sesuatu, kalau tidak pakai handy ? Tidak, jawaban-ku. Ya, sudah ! Gitu saja koq repot, katanya.
    Demikian pula dengan radio yang ada didalam mobil-ku, begitu banyak tombol2-nya, entah untuk apa tombol2 tersebut,
    pokoknya ada colokan USB dan tombol random, ya sudah.
    Otak-tua memang tambah bebal. Lacurnya tambah tuwek, tambah tergantung sama bojo, lama2 bojo jadi ngelunjak.
    Nasib, oh nasib.

    ReplyDelete