31 December 2013

Hani Chandra politikus Lembata




Baliho besar di Trans Lembata, NTT, itu mengingatkan masa remaja saya. Wow, Hani Chandra! Putri baba perintis hotel di Lewoleba ini maju caleg bersama Partai Hanura.

Belakangan saya tahu kalau Hani ternyata sudah lima tahun jadi anggota DPRD Lembata. Rupanya enak jadi wakil rakyat sehingga Hani maju lagi bersama partai lain karena partainya sendiri tidak lolos.

Sang waktu memang bisa mengubah siapa saja. Saya yang dulu pendiam, kata orang, kini cenderung cerewet. Hehehe...

Hani Chandra yang saya tahu di Lewoleba dan Larantuka dulu sangat cerdas, sedikit bicara, banyak berdoa, rajin dan ulet layaknya keturunan Tionghoa. Sangat jauh dari watak politisi yang suka bicara berbual-bual.

Kalau tak salah ingat, Hani tinggal di asrama putri susteran. Suka berdoa lama-lama. Siswa lain sudah selesai berdoa, dia masih tutup mata dan mengatup tangan. Cocok jadi suster.

Karena itu, saya agak terkejut melihat sosok Hani yang kini politikus tulen. Balihonya besar, Senyumnya manis di baliho, entah aslinya bagaimana.

Hani itu orang hebat, kata saya. Seorang caleg satu dapil pesaing Hani di Lembata I tertawa ngakak. "Apanya yg hebat?" dia bertanya.

"Otaknya lah. Ulet, tekun, jiwa bisnis, religius."

Si caleg ini bilang Hani cuma kebetulan terpilih karena suaranya hanya 200an. Dia lolos karena sumbangan suara caleg-caleg separtai. "Jujur, elektabilitasnya rendah," katanya.

Apa pun kata orang, saya senang bila orang-orang cerdas macam Hani Chandra duduk di DPRD Lembata. Visi bisnisnya dibutuhkan untuk mengangkat potensi Lembata. Dia juga mungkin lebih kebal godaan korupsi karena sudah mapan ekonominya dan suka berdoa.

Saya belum sempat ngecek apakah Hani Chandra yang politikus pun masih religius dan suka berdoa. Saya harap Hani terpilih lagi.

No comments:

Post a Comment