10 December 2013

Endang Murtiningsih Bisnis Nasi Punel di Pondok Candra



Capek menjadi politisi dan caleg yang gagal, Endang Murtiningsih memilih berjualan nasi punel. Kebetulan wanita yang berdomisi di Pondok Candra, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini suka memasak sejak kecil. Rupanya, upaya banting setir Endang dari dunia politik ke kuliner ini tidak keliru.

Usahanya terus meningkat dari waktu ke waktu.  "Saya malah sudah lupa dengan dunia politik. Siapa saja yang akan maju dalam pemilu tahun depan pun saya enggak tahu," kata Endang Murtiningsih saat ditemui di rumah sekaligus depotnya kemarin.

Sudah sembilan tahun Endang menggeluti bisnis kuliner di rumahnya. Andalannya nasi punel ayam. Dibantu tiga pekerja dan menantunya, setiap hari Endang berbelanja bahan-bahan di pasar dan memasak sendiri.

"Rata-rata setiap hari saya menghabiskan 20 kilogram beras. Yah, sekitar 400 sampai 500 porsi," tutur mantan caleg dari sebuah partai besar ini.

Pergaulannya yang luas ditambah relasinya yang banyak membuat Endang tak kesulitan memasarkan nasi ayam olahannya. Sejumlah kantor pemerintah dan swasta sudah menjadi langganan tetapnya.

Pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 dia mengirim makanan ke pelanggan-pelanggannya. Begitu juga siang hari. Ada juga pelanggan yang makan langsung di depot di teras rumahnya yang dipenuhi tanaman obat keluarga (toga).

Yang menarik, pelanggan Endang bahkan meluas hingga ke luar Jawa Timur seperti Semarang dan Malaysia. Yang di Malaysia itu sebetulnya orang Indonesia yang sempat mencicipi nasi punel masakan wanita yang pernah menjadi bintang film iklan layanan masyarakat di televisi itu.

Nah, ketika datang lagi di Bandara Juanda, orang itu mengajak temannya untuk mencicipi nasi punel di Pondok Candra. Akhirnya, setiap kali berlibur ke Jawa Timur, nasi buatan Endang pun dipesan dalam jumlah banyak untuk dibawa ke Malaysia.

"Bisnis makanan itu lebih asyik daripada akti di partai politik. Di politik itu kita sulit membedakan mana teman dan mana lawan," ujarnya seraya tersenyum.

Sebelum beralih ke binis makanan, Endang sering melayani pengerjaan sablon kaos kampanye caleg, partai politik, atau pilkada. Saking percayanya pada teman satu partai, Endang pun menggarap kaos dalam jumlah besar tanpa uang muka. Celakanya, setelah pesanan kaos selesai dikerjakan, sang teman tidak mau membayar.

"Ada juga yang cuma bayar DP Rp 10 juta, padahal saya habis Rp 70 juta. Saya benar-benar kapok berbisnis dengan politisi. Bisa-bisa saya tambah legrek," katanya.

Berbisnis kuliner di rumah sendiri juga membuat Endang merasa lebih bahagia dan tenang. Betapa tidak. Dia bisa berkumpul setiap hari dengan keluarga, khususnya cucu kesayangannya. (*)

No comments:

Post a Comment