15 December 2013

dr Ananto Sidohutomo Gigih Melawan Kanker



Salah satu tokoh yang konsisten berkampanye untuk memerangi kanker di Jawa Timur adalah Dokter Ananto Sidohutomo MARS. Belum lama ini Ananto me-launching Museum Kanker Indonesia di Jalan Kayoon 16-18, Surabaya. Museum ini bekerja sama dengan Yayasan Kanker Wisnuwardhana.

Berikut petikan wawancara dengan dr Ananto:

Bisa dijelaskan latar belakang pendirian museum kanker?

Begini. Berdasarkan data WHO tahun 2013, satu dari empat orang terkena kanker. Ini sangat mengerikan, Dan, menurut prediksi, pada 2030 penderita kanker akan meningkat tujuh kali lipat. Sebagain besar penderita kanker itu berada di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Lantas, mengapa perlu ada museum?

Kita ingin semakin fokus untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya penyakit kanker. Museum ini juga kita jadikan sebagai rumah perlawanan terhadap kanker sekaligus museum pendidikan. Jadi, masyarakat luas bisa datang ke sini untuk mendapatkan informasi tentang berbagai hal mengenai kanker. Ada referensi tentang sejarah perlawanan manusia terhadap kanker, budaya, serta koleksi benda-benda fisik. Dan, ini merupakan museum kanker pertama di Indonesia. Bahkan, setahu saya di negara-negara lain pun belum ada museum khusus tentang kanker.

Bagaimana dengan koleksi-koleksinya?

Yah, macam-macam dan tentu semuanya berkaitan erat dengan kanker. Saat ini kami baru memajang sekitar 30 koleksi jaringan tubuh manusia yang terkena kanker. Mulai dari kanker payudara, kanker indung telur, kanker leher rahim, kanker paru-paru, dan sebagainya. Koleksi-koleksi itu bisa memberi gambaran kepada masyarakat bahwa kanker itu bisa menyerang berbagai bagian tubuh manusia.

Ke depan, kita akan terus menambah koleksi di museum ini agar masyarakat bisa mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kanker. Sebagian koleksi itu berkat hasil jerih payah dr Etty Ananto, yang juga aktivis Bidadari. Kami hanya memilih koleksi yang benar-benar informatif agar pengunjung makin aware dengan kesehatannya.

Bagaimana Anda menilai pemahaman masyarakat kita tentang kanker?

Masyarakat sih sebenarnya paham dengan kanker, bahkan ada juga yang keluarganya terkena kanker. Sehingga, selama ini kanker dipandang sebagai penyakit yang sangat berbahaya. Namun, keganasannya tidak tampak nyata di mata masyarakat. Padahal, di Indonesia sendiri, pembunuh nomor satu wanita adalah kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks).
Orang cenderung bicara kanker secara umum saja, tapi tidak tahu kanker itu riilnya seperti apa. Maka, di sinilah pentingnya museum ini sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.

Museum Anda juga menampilkan sejarah perlawanan manusia terhadap kanker. Termasuk metode pengobatan Barat dan Timur?

Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sejak dulu manusia, khususnya para dokter, terus berjuang untuk mengatasi kanker. Ada metode pengobatan modern dari Barat, ada juga pengobatan Timur ala Tiongkok. Kedua metode ini memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Tapi, intinya, keduanya bisa saling melengkapi. Ini juga kita informasikan di museum.


Bagaimana ceritanya Anda mendirikan Bidadari, pusat deteksi dini kanker di Surabaya?

Saya ikut sedih melihat banyak anak-anak menderita karena kehilangan ibunya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika ibunya meninggal, terutama karena kanker serviks dan payudara. Saya tergerak menyumbang pikiran untuk mencegah itu terjadi. Akhirnya, saya buat sebuah gerakan moral yang saya namakan Bidadari. Kita tidak ingin seorang pun perempuan meninggal karena kanker serviks dan payudara.

Oh ya, selain dokter, Anda juga mulai dikenal sebagai sastrawan?

Saya ini pendekar, bertarung dengan baik di zaman saya muda. Saya sering duel di mana-mana sehingga saya dijuluki pendekar. Hehehe.... Saya kecil suka main bola. Di sela-sela itu saya juga diikutkan les gitar dan piano oleh orang tua. Nah, tiba-tiba saat mahasiswa saya mulai tertarik pada alat musik drum. Bahkan, saya pernah terpilih sebagai the best drummer lho. Nah, pengalaman-pengalaman saya itu semuanya sudah saya tulis. Yang saya tuliskan adalah semua apa yang saya rasakan. Bukan menuliskan peristiwanya. Tetapi saat itu saya belum mengerti apa itu puisi atau sastra. Guru di sekolah sebenarnya pernah mengajari saya soal sastra, tapi saya lewatkan saja. Hehehe....

Lantas, bagaimana Anda bisa produktif menulis, sementara Anda sangat sibuk? 

Nah, ketika membuat website Bidadari, saya mau tidak mau dipaksa untuk terus menulis. Karena dalam situs itu ada tiga topik besar yang selalu saya tulis, yaitu soal kanker serviks, kanker payudara, dan kanker secara umum. Saya menghabiskan ribuan malam untuk menulis yang berkaitan dengan kesehatan. Maka, di saat saya mengalami kejenuhan, saya menuliskan juga yang berkaitan dengan perasaan.
Suatu ketika saya bertemu mendiang Lan Fang, sastrawan terkenal di Surabaya. Lan Fang bilang, zaman sekarang sudah tak ada lagi dokter-dokter yang mau menulis. Lalu, saya bilang, ya, bolehlah saya menulis. Menurut Lan Fang ketika itu, tulisan saya cuma butuh sentuhan atau diperhalus lagi bahasanya dengan bahasa perasaan, sehingga menjadi bahasa sastra. (*)


CV SINGKAT

Nama : Dr Ananto Sidohutomo, MARS
Lahir : Surabaya, 28 Nopember 1963
Istri : Dr Etty HK, SpPA (Kons)
Anak : Deanandya Ananto, Muhammad Alim Ananto, Muhammad Arif
Ananto, Muhammad Ariq Ananto
Pekerjaan : Dokter, konsultan
Hobi : Membaca, menulis, musik

Pendidikan :
- Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga
- Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS), FK Unair

Aktivitas Lain :

- Penasihat Yayasan Kanker Wisnuwardhana.
- Penggagas dan Pendiri Museum Kanker Indonesia




Bikin SOP Deteksi Kanker Sendiri

Kanker payudara dan kanker serviks merupakan penyebab tertinggi kematian  wanita di Indonesia. Padahal dibandingkan 130-an jenis kanker, dua jenis  kanker ini sebenarnya lebih mudah dideteksi secara dini. Sayang, sampai  saat ini belum banyak wanita yang paham akan pencegahan kanker secara dini  ini.

Nah, dr Ananto Sidohutomo MARS melalui gerakan moral Bidadari mencoba  mengampanyekan deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks. Bidadari,  menurut Ananto, adalah gerakan moral yang tak mengizinkan seorang perempuan  pun meninggal akibat kanker serviks dan kanker payudara. Bidadari sendiri  diambil dari bahasa sansekerta, vidhyadharya, yang berarti seseorang yang  memiliki ilmu pengetahuan penanggulangan kanker serviks dan kanker  payudara.

Lewat Bidadari, Ananto aktif mengenalkan sejumlah cara pencegahan dini  kanker payudara dan kanker serviks yang bisa dilakukan sendiri tanpa  dokter. Caranya? Pria yang suka sastra ini memperkenalkan Kartu Skor Ananto  Sidohutomo. Para perempuan bisa mengisi kuesioner, lalu menjumlahkan  skornya. Jika sudah diketahui skornya, bisa dilihat tingkat risiko terkena  kanker payudara dan kanker serviks.

Ada pula Vagina Toilet Sendiri yang disingkat Valeri Ananto. Ini merupakan  standard operating procedure (SOP) untuk melakukan pembersihan organ intim  perempuan. Kemudian, Standing Pee Ananto, yaitu teknik buang air kecil   berdiri bagi kaum wanita. Sebab, munculnya kanker serviks berkaitan dengan  kebersihan organ intim.

"Misalnya, dalam kondisi darurat harus buang air  kecil di tempat umum yang tak jelas kebersihan toiletnya, menurut saya, tak ada salahnya melakukan standing pee," tuturnya.

Ananto juga menekankan agar suami pun dilibatkan dalam penecegahan dini  kanker payudara sang istri. Berdasar pengalamannya, banyak suami yang  menggeret istrinya ke klinik dan memberi tahu dokter bahwa ada benjolan di  payudara istri.  Sang istri ternyata ngotot kalau dirinya baik-baik saja.  Nah, setelah diperiksa, memang ditemukan ada kanker.

"Dari situ saya menyimpulkan, jika suaminya juga bisa menemukan kelainan  pada istrinya, pemeriksaan payudara juga bisa dilakukan oleh si suami.  Makanya saya buat Sarami. Dalam setahun saya menemukan sembilan kasus  (kanker), dan yang menemukan justru suami yang bukan dokter," katanya.  (*)

5 comments:

  1. Bagus banget bila dalam satu kegiatan ada yang meminati dan melaksanakan dengan sepenuh hati..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Pak dr Ananto, sudah membaca dan menulis komen di blog ini. Semoga usaha dr Ananto untuk memerangi kanker selalu mendapat berkat dari Tuhan. Good luck!

      Delete
  2. semoga indonesia segera menemukan obat untuk melawan kanker. beberapa teman saya meninggal karena kanker payudara. oh Tuha, tolong bantu para dokter di negara kami!!!

    ReplyDelete
  3. tak menyangkabisa bekenalan dgn seorang dokter yang peduli yang bermusik di jalanan[tunjungan ]sementara klo saya harus menemui dokter rutin setiap bulan POLI DIABET] perlu waktu setengah hari tq dokter Ananto Sidohutomo

    ReplyDelete
  4. Pak dokter..mertua saya orang tidak mampu yg telah di vonis penderita kanker tenggorkan..dari RS. Pasuruan akan di rujuk ke RS. Saiful anwar malang..apakah dokter bersedia untuk membantu menyembuhkan penyakit mertua saya..trima kasih untuk kesediaan nya..

    ReplyDelete