10 December 2013

Buku Nyanyian Liturgi SKB yang Fenomenal

 Kaget juga saya membaca e-mail Mbak Retno dari Jakarta. Soalnya dia bicara SKB, buku nyanyian liturgi Katolik lama terbitan Nusa Indah, Ende, Flores. Buku itu dulu sangat populer di kampung saya, pelosok Lembata, Flores Timur, yang waktu itu belum ada jaringan listrik PLN.

Mbak Retno Paat menulis begini:

Salam kenal. Saya Retno dari Paroki Bahtera Kasih Jakarta. Dalam tulisan anda ada mengenai buku nyanyian, salah satunya buku Syukur Kepada Bapa (SKB).

Saya ingin menanyakan mengenai buku SKB, karena ada lagu Hati Yesus Hati Tuhan Kami (SKB 300). Kira2 dimana saya bisa dapatkan buku tersebut ya pak? Karena saya tertarik dengan lagu tersebut. Sepertinya semasa saya kecil dulu pernah dengar lagu tersebut.

Apakah anda punya partitur lagu tersebut, syukur2 bahkan SATBnya? Mohon informasinya karena saya ingin membawakan lagu tersebut bersama kelompok koor saya apabila memungkinkan. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

Tuhan memberkati.

Best regards,
Retno

Waduh, ternyata Mbak Retno ini punya pengalaman masa kecil yang sama dengan saya (atau kami) dari pelosok Flores. Lagu-lagu lama SKB begitu membekasnya sehingga terbawa-bawa sampai dewasa. Padahal, buku SKB ini sudah pensiun sejak pertengahan 1980-an.

SKB digantikan Madah Bakti terbitan Pusat Musik Liturgi (PML), Jogjakarta, yang lebih menekankan nyanyian liturgi inkulturasi. Ada juga lagu-lagu SKB yang dimuat di Madah Bakti, tapi tidak banyak. Yang paling banyak ordinarium misa gaya Flores, Timor, Batak, Manado, Jawa, Sunda, Papua, Dayak, dan sebagainya. Madah Bakti ini juga luar biasa!

Madah Bakti kemudian pensiun, diganti Puji Syukur sampai sekarang. Puji Syukur, menurut saya, cenderung lebih dekat ke SKB dan Kidung Jemaat, buku nyanyian jemaat Kristen Protestan arus utama macam GPIB, GMIT, atau GKI. Lagu-lagu Protestan banyak dimuat di Puji Syukur yang sekarang.

Karena itu, ketika melihat upacara pemberkatan pernikahan Pangeran William dan Catherine di televisi, saya pun jadi familier dengan lagu-lagu liturgi di Gereja Anglikan, salah satu denominasi Protestan arus utama. Lagunya nempel di otak saya. Versi Indonesianya di Puji Syukur: Tuntun Aku Tuhan Allah!

Kembali ke SKB yang diminta Mbak Retno. Lagu nomor 300, Hati Yesus Hati Tuhan Kami, tempo doeloe memang sangat disukai ibu-ibu di kampung. Ibu-ibu yang aktif di kongregasi macam Legio Maria atau Santa Ana. Mereka paling rajin ke gereja untuk ibadat adorasi dan penghormatan terhadap hati Yesus yang mahakudus.

SKB memang punya banyak lagu-lagu devosional seperti itu. Dan kebetulan melodi lagu-lagu tersebut memang bagus-bagus. Kalau dinyanyikan pelan-pelan, dihayati, akan meresap dalam hati dan otak. Itulah yang membuat lagu-lagu liturgi lama selalu dikenang orang sepanjang masa. Itulah yang rupanya dialami Mbak Retno di Jakarta.

Buku SKB diterbitkan pertama kali pada 1971. Saya kebetulan menyimpan versi cetakan ke-22 tahun 2007. Dilihat dari sekian kali dicetak ulang, rasanya SKB ini sudah menyebar luas ke seluruh Indonesia pada masa jayanya. Pada 2007 masih dicetak meski secara resmi KWI sudah lama merekomendasikan Puji Syukur sebagai buku nyanyian liturgi rujukan di seluruh Indonesia.

Buku SKB ini disusun oleh Pastor A. van der Heijden SVD dan Marcel Beding, keduanya sudah almarhum, dan awalnya terbatas untuk umat Katolik di Flores dan NTT umumnya. Tak dinyana SKB menyebar ke seluruh Indonesia dan membawa berkat bagi jutaan orang Katolik di tanah air.

Yang paling menarik, buat saya, salah satu penyusun buku ini, Marcel Beding, adalah orang Lembata. Tepatnya Lamalera, kampung yang terkenal dengan tradisi memburu ikan paus itu. Artinya, sejak dulu rupanya sudah ada orang Lembata yang hebat dan punya pengaruh d lingkungan Gereja Katolik di Indonesia.

Sebagai orang Lembata, saya ikut bangga.

1 comment:

  1. Salam kenal mas Lambertus. Kakak ipar saya jg orang Lembata, Agustinus Hayong Leuweheq, anak bapak Paulus Isa Leuweheq. Memang Flores memiliki kekayaan musik luar biasa. Sayang sekali lagu2 inkulturasi kurang mendapat tempat di Puji Syukur. Bahkan sisipan lagu2 Keuskupan (warna biru utk Surabaya) saat ini sudah tidak ada.

    ReplyDelete