29 December 2013

Bicara terlalu banyak di kampung

Inilah susahnya hidup di masyarakat yang hanya mengenal budaya lisan alias oral society. Semua orang bicara bicara bicara meski tak tahu persis akar permasalahannya.

Hobi bicara berpanjang-panjang, banyak bumbu, ini sangat terasa di Lembata, NTT, khususnya Ileape. Saya heran dengan stamina bicara beberapa orang (tidak semua) yang luar biasa. Sampai lupa makan minum karena bicara tanpa titik koma itu dianggap lebih penting.

Begitulah. Tiba di kampung halaman saya harus siap mental jadi pendengar yang baik. Mau cut susah, dengar terus juga tak jelas poinnya. Sebetulnya banyak topik menarik dan perlu saya ketahui sebagai orang NTT di Jawa. Tapi, karena anak kalimatnya terlalu banyak, poinnya tenggelam. Dan saya pun kehilangan konsentrasi untuk mengikuti alur cerita.

Gunakan kalimat sederhana! Nasihat untuk wartawan ini rupanya berbanding terbalik dengan di kampung. Orang-orang rupanya punya budaya bicara dengan kalimat majemuk bersusun bertingkat-tingkat. Kalimat yang beranak bercucu bercicit membuat saya kelelahan mengikuti cerita kasus yang sebenarnya menarik.

Suatu ketika saya bertanya mengapa si A dan anaknya tinggal di situ, bukan di sana. Amboi, pertanyaan sederhana ini dijawab dengan jelimet. Kalimat majemuk kelas ruwet. Hampir tiap kata ada keterangannya alias aposisi.

Terus, intinya bagaimana? Hehehe... Saya bingung sendiri karena penjelasan yang panjang itu justru lebih banyak kembangannya. Poinnya sederhana: si A tidak cocok dengan mertua!

Melihat banyak orang di kampung yang lidahnya bercabang-cabang, saya teringat iklan rokok produksi Surabaya. TALK LESS DO MORE! Bicara sedikit banyak bekerja!

Mungkin budaya lisan yang ekstrem inilah yang antara lain membuat NTT, khususnya Lembata, sangat sulit maju.

1 comment:

  1. Jika Bung Hurek sering menonton Prof. Sahetapy diacara ILC TV One, beliau sering berkata : wenn das herz voll ist, geht der mund ueber. Istilah yunani-tua, syndrom ini disebut logorrhoe.
    Di Indonesia sering terdengar penyakit diarrhoe, yaitu sakit mencret atau kecirit.
    Nah, logorrhoe adalah penyakit kecirit ngomong. Jadi kasihan saudara2 kita di Lembata, mereka nyerocos terus, karena dalam hati mereka sebetulnya sumpek. Didalam benak mereka penuh dengan problem se-hari2, sehingga semuanya harus dikeluarkan dari mulut. Kalau ditelan terus menerus, bahkan tidak baik untuk perkembangan jiwa. Lain kali kalau Bung pulang lagi ke Lembata, biarkanlah mereka ngomong terus. Insya Allah Anda tahan.
    Orang yang hidupnya tentram dan puas, biasanya pendiam.
    Pepatah diatas, saya mendengarnya dari pegawai-bule-saya. Sewaktu bekerja, stress, saya sering nyerocos ngalor-ngidul, jika
    cewek2 bule itu sudah brebeken, maka salah satu dari mereka, biasanya yang paling tua dan paling semok selalu nyeletuk :
    ya, ya, herr chef, wenn das herz voll ist, geht der mund ueber.
    Saya tersentak sadar, menatap dadanya yang besar seperti blonceng, sambil tersenyum.

    ReplyDelete