12 December 2013

Bhima Aries Diyanto ketua KPU Sidoarjo

Sudah sangat lama saya tak bertemu BHIMA ARIES DIYANTO. Tapi saya sering mengikuti kinerja dia di Komisi Pemilihan Umum Sidoarjo. Dulu saya kenal Bhima sebagai komisiner biasa, anggota, tapi sekarang jadi ketua. 

Ketua lama, Mas Anshori, sudah mundur karena jadi hakim pengadilan tipikor. Anshori bertugas di Gorontalo, kalau tak salah. Bhima, Anshori, Zaenal, Nanang... merupakan anggota KPU Sidoarjo yang sering diskusi bareng tentang pemilu legislatif, aturan main kampanye, dan sebagainya.

Cangkrukan, ngobrol santai di warung sederhana di Cemengkalang, dekat kantor KPU. Dulu, warung itu milik seorang ibu yang cakep keturunan Arab. Putrinya gadis remaja yang lebih cakep lagi. Mungkin itu yang bikin warung tenda hijau itu sangat laris meski makanannya biasa-biasa saja.

Warung dengan nona manis itu tak ada lagi. Begitu pula Bhima Aries Diyanto sudah naik pangkat sebagai ketua KPU Sidoarjo. Saya tidak tahu apakah Bhima masih suka makan di warung sederhana atau sudah naik pangkat ke restoran menengah atas.

Yang pasti, saya lihat gaya Bhima masih sama seperti yang dulu. Masih informal, suka humor, tapi sangat menguasai pasal-pasal undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan pemilu. Jelas saja karena selama bertahun-tahun, setiap hari, orang-orang KPU membaca perangkat hukum itu.

Sebagai ketua, rupanya Bhima cukup tegas. Dia baru saja mencoret Al Irsyad, caleg dari Gerindra, karena terbukti menjabat kepala desa Janti, Waru. Ini satu-satunya pencoretan DCT di Sidoarjo. Dulu KPU Kota Delta ini juga mencoret empat kepala desa ketika DCT belum ditetapkan.

Tidak takut digugat? 

"Mengapa takut? Kami selalu mengacu pada aturan perundang-undangan yang ada. Caleg yang bersangkutan juga sudah tahu kalau kepala desa itu tidak boleh jadi caleg. Dia harus pilih salah satu: jadi caleg atau kades," katanya.

Di ruang kerjanya di pojok bawah, dulu KPU berkantor di lantai dua yang luas dan terbuka, Bhima rupanya masih setia dengan rokok. Sedotan rokok ini rupanya membuat dia lebih semangat bicara dengan bumbu-bumbu humor yang enak. Suasana tambah gayeng tapi tetap serius. Maklum, yang dibicarakan ini adalah soal politik, aturan main pemilu, caleg, hingga ketegasan KPU Sidoarjo.

Bahan obrolan soal pemilu ini memang tak akan habis-habisnya. Atribut kampanye di pohon dan tempat umum. Keberanian dan kenetralan KPU. Relawan demokrasi yang baru direkrut, jumlahnya 15 orang. Pemantau independen yang cuma dua. Sosialisasi pemilu legislati. Dan sebagainya.

Bagi saya, yang paling menarik adalah terpilihnya Bhima sebagai wakil Indonesia dalam konferensi tentang pemilihan umum di Spanyol. Tepatnya Barcelona. "Sempat beli kaos Barcelona?" saya bertanya.

Bhima tertawa kecil. Rupanya dia juga penggemar Xavi Hernandes dan kawan-kawan yang fenomenal itu. Tapi rupanya konferensi ini terlalu serius sehingga peserta dari berbagai negara enggan bersantai ke markas Barca.

"Peserta konferensi itu ketua-ketua atau komisioner KPU pusat di negaranya masing-masing. Satu-satunya ketua KPU tingkat kabupaten ya saya sendiri," tutur Bhima lantas tertawa kecil.

Cukup ajaib memang Bhima yang terpilih ke Barcelona. Mengapa bukan ketua KPU RI di Jakarta? Mengapa bukan komisioner KPU pusat? Mengapa Bhima? Karena sempitnya waktu, siang itu Bhima kembali lagi ke kampusnya Unair Surabaya untuk kuliah S2, topik ini belum dibahas.


Di akhir percakapan yang lebih banyak informalnya, bukan wawancara resmi ala wartawan, secara halus saya mengingatkan Bhima agar selalu berhati-hati. Komisioner KPU itu, apalagi ketua, banyak temannya tapi juga banyak musuhnya.

Di luar Jawa, saya mengingatkan Mas Bhima, banyak anggota KPU yang merasa tidak aman karena diancam caleg, tim sukses calon kepala daerah, bahkan kepala daerah yang punya kepentingan untuk mempertahankan jabatannya selama mungkin. Bhima yang ke Barcelona untuk membahas persoalan ini ternyata sangat sadar akan risiko-risiko macam ini. 

Selama ini dia mengaku banyak melakukan pendekatan dialogis, rembuk dari hati ke hati, mengundang 12 partai untuk membahas persoalan pemilu. Khususnya baliho-baliho dan poster yang berjejeran dari Waru hingga Porong, Bungurasih hingga Krian, Balongbendo, Tarik.

Rupanya pola pendekatan ala Bhima selaku ketua KPU Sidoarjo cukup efektif. Wayan Dendra memimpin langsung anak buahnya menurunkan atribus-atribut Gerindra dan calegnya. Demokrat juga ramai-ramai membersihkan atribut di tempat yang dilarang. Bhima sudah lama mengeluarkan daftar 16 titik larangan pemasangat atribut kampanye di Sidoarjo.

"Saya ingatkan bahwa sosialisasi caleg itu tidak hanya lewat baliho. Bisa lewat media massa seperti surat kabar," kata pria jangkung yang kelihatan lebih gemuk ini.

Hehehe.... Pasang iklan di koran tentu lebih efektif, tidak merusak pohon, bisa menembus audiens ke berbagai segmen. Bayangkan betapa semrawutnya Sidoarjo jika 459 caleg ramai-ramai memasang baliho di jalan-jalan. Belum caleg-caleg DPRD Jawa Timur dan DPR RI.

Omong-omong pemilu 9 April 2014 nanti pakai coblos atau contreng? "Coblos," jawab Bhima. Begitulah ketentuan undang-undang yang dibuat para wakil rakyat di Senayan, Jakarta.

Bhima sendiri sih inginnya metode yang lebih modern. Sebab mencoblos tanda gambar partai dan nama caleg itu sejatinya juga mengandung kekerasan. Bukankah kita berkomitmen mewujudkan pemilu tanpa kekerasan?

"Filipina sudah lama pakai e-voting dan pemilihan lewat internet. Jadi, pemilih tidak perlu datang ke TPS untuk mencoblos. Cukup memilih lewat laptop atau HP di rumah atau tempat kerja. Kita di Indonesia pun sebenarnya bisa seperti itu asalkan ada political will dari pembuat undang-undang. Posisi kami di KPU ini hanya sebagai pelaksana undang-undang, katanya lantas menyedot rokok kretek kesayangannya.

Obrolan pun selesai. Mas Bhima harus sekolah di kampus Unair Surabaya.

Di perjalanan pulang, saya pun ingat pemilu pertama di Indonesia pada 1955. Sudah 58 tahun berlalu tapi teknik mencoblos, karena waktu itu sebagian besar rakyat Indonesia buta huruf, masih dipertahakan sampai hari ini. Cara contreng yang pernah dipakai pada Pemilu 2009 dimentahkan lagi.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment