03 November 2013

Zakheus - Gayus Tambunan - Akil Mochtar



Khotbah romo hari ini tentang Zakheus si pemungut cukai alias petugas pajak. Orangnya pendek, gemuk, rakus, suka memeras, tapi belakangan bertobat. Zakheus berusaha memanjat pohon agar bisa melihat Yesus Kristus yang disambut khalayak ramai.

Romo tamu asal Flores ini juga pendek, logat Flores Barat kental sekali, tapi poinnya mengena. Suaranya agak aneh ketika menyanyi karena nadanya naik turun. Lucu juga sang pastor memberikan ilustrasi khotbahnya.

Saya lihat beberapa anak kecil sibuk mencatat kotbah di buku tulis. Untuk ditunjukkan ke romo, kemudian ditanda tangani, kemudian ditunjukkan lagi ke guru agama Katolik, kemudian diujikan. Kalau lulus ujian, anak-anak ini akan dibaptis.

Ketika romo banyak bicara tentang Zakheus dan praktik curang petugas pajak, saya langsung ingat Gayus Tambunan. Petugas pajak yang mendekam di penjara karena korupsi pajak miliaran rupiah. Dengan duit haram itu, Gayus sempat melarikan diri ke luar negeri sebelum dicokok petugas.

Oh, ternyata sejak zaman Yesus petugas-petugas pajak sudah brengsek seperti Zakheus. Istilah 'pemungut cukai' atau tax collector di kitab suci selalu merujuk pada perilaku yang negatif: korupsi, tukang peras, patgulipat, memperkaya diri, dan sejenisnya. Mana ada petugas pajak yang bersih?

Tapi, menurut romo yang belum saya tahu namanya ini, Zakheus melakukan apa yang disebut metanoia. Taubat sempurna! Dia paling antusias menyambut Yesus, naik pohon, bahkan mengundang Yesus makan di rumahnya.

"Tuhan, separuh hartaku akan kuberikan kepada orang miskin. Dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan empat kali lipat," ujar Zakheus kepada Yesus.

Saya geli mendengar ucapan Zakheus meski perikop ini sudah sering saya dengar dan baca. Menyerahkan harta untuk orang miskin. Mengembalikan uang perasan empat kali lipat. Dari mana Zakheus dapat uang untuk mengembalikannya?

Kalau hanya mengandalkan gaji sebagai pegawai pajak atau bea cukai, mustahil Zakheus bisa kaya. Kekayaannya diperoleh secara tidak halal. Dus, omongan bahwa dia mengembalikan aset klien empat kali lipat hanya retorika belaka. Intinya, dia ingin tobat, kembali ke jalan yang benar meski harus jadi orang miskin karena hartanya akan habis.

Saya bayangkan Gayus serta pegawai-pegawai pajak atau bea cukai yang korupsi puluhan sampai ratusan miliar. Begitu juga Ketua MK Akil Mochtar yang terim suap miliaran rupiah meskipun gaji resminya Rp 200-300 juta per bulan.

Apakah Gayus-Gayus atau Akil-Akil pun bisa meniru Zakheus? Mengembalikan harta hasil korupsi atau gratifikasi atau pencucian uang? Saya ragu. Kita di Indonesia hanya bisa bicara pemiskinan koruptor tanpa kejelasan. Boro-boro merasa berdosa seperti Zakheus, koruptor kelas kakap seperti Gayus Tambunan atau Akil Mochtar tak pernah merasa bersalah.

Petugas-petugas pajak atau pejabat tinggi macam Akil Mochtar selalu punya seribu alasan untuk membenarkan perbuatannya. Cerita Zakheus yang bertobat rupanya hanya ada di kitab suci pada zaman Yesus Kristus dan pernah ada di Indonesia. Tapi, yang pasti, Tuhan senantiasa memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan mengalami kasih-Nya.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network










No comments:

Post a Comment