17 November 2013

Temu Kangen Alumni Sekolah Kai Ming Surabaya



Sebelum Orde Baru, 1966, cukup banyak sekolah Tionghoa di Surabaya. Namun, sekolah-sekolah itu ditutup rezim Presiden Soeharto yang sejak awal menganut politik asimilasi. Tak ada ruang untuk budaya, bahasa, atau tradisi Tionghoa berkembang. Bahkan, nama-nama Tionghoa pun dipaksakan untuk diganti dengan bunyi Jawa atau Indonesia.

Salah satu sekolah Tionghoa yang ditutup adalah SD dan SMP Kai Ming di Jalan Kalianyar Wetan, Surabaya. Sekolah ini tinggal sejarah. Namun, para alumninya yang sebagian besar pengusaha sukses mengadakan reuni para guru dan alumni Kai Ming.

Temu kangen ke-60 tersebut digelar di Hotel Shangrilla, Surabaya, Sabtu malam (16/11/2013). Tampak hadir Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen, politikus Indah Kurnia anggota, taipan Alim Markus, pengusaha Liem Ou Yen, dan masih banyak lagi. Para alumni tak hanya datang dari dalam kota, luar pulau, bahkan dari Hongkong dan Guangzhou.

Soehardjo Gondo, ketua panitia, menjelaskan bahwa Sekolah Kai Ming didirikan pada 1953 oleh Yayasan Yan Ling dari marga Wu. Meski keberadaannya kurang dari 20 tahun, para alumni dan protolannya (maklum, banyak yang DO) tetap menjalin hubungan komunikasi satu sama lain. Yayasan Kai Ming yang telah berjalan 23 tahun diketuai Jusman Purnomo. Yayasan inilah yang rutin mengadakan bakti sosial dan temu kangen.

Salah satu alumni, Trisyanto, khusus datang dari Banjarmasin untuk mengikuti temu kangen di Surabaya. “Saya sudah punya 8 cucu," katanya.

Pada 1950-an itu, Trisyanto datang ke Surabaya naik kapal laut kemudian mendaftar di Sekolah Kai Ming bersama teman-temannya dari Kalimantan. Mereka indekos di Jalan Wijaya Kusuma. Setiap hari ke sekolah dengan bersepeda. Angkutan umum di Surabaya saat itu hanya trem atau kereta listrik.

Ketika Sekolah Kai Ming ditutup, Trisyanto pulang ke Banjarmasin dan bekerja di hutan. Pekerjaan yang sangat berat, katanya. Setelah itu jadi pegawai toko buku. "Saya baru kembali datang ke Surabaya tahun 1990. Saya kaget melihat perkembangan Surabaya sekarang. Beda jauh dengan tahun 1950-an,” katanya.

Rudi sempat mengenyam pendidikan di SD Kai Ming. Dia mengenal huruf dan berbicara bahasa Tionghoa sejak usia empat tahun. Sehingga, dia tak menemukan kesulitan mengikuti pelajaran dalam bahasa Tionghoa alias Mandarin.

"Kami harus bisa bercakap dan menulis Mandarin. Tulisan Mandarin sekarang berbeda dengan dulu," kata Rudi yang didampingi istrinya.

1 comment:

  1. Sekolah Kai-ming saya ingat sekali, sebab tahun 60 ketika masih sekolah di Petra Kalianyar, selalu melewati kalau berangkat atau pulang sekolah, berjalan kaki dari jalan Kusuma Bangsa.
    Banyak kenangan yang lucu ketika saya sekolah rakyat di THHK, sampai tahun 1957;
    Suatu ketika kita mendapat seorang murid baru, yang baru datang dari Tiongkok. Pak guru menyuruh murid itu untuk membaca buku pelajaran. Kita anak2 kelahiran Bali, ber-bisik2, wah pasti dia jago berbahasa Mandarin. Ketika dia mulai membaca dengan lancarnya, pak guru jadi bingung, kita anak2 Bali tertawa ter-bahak2. Ternyata dia melafal tulisan cina dengan bahasa Hok-kien ( Minnanhua ).
    Kita di sekolah THHK, diajar Bahasa Indonesia mulai kelas 2.
    Buku pelajarannya berupa buku gambar. Ada gambar sapi, kita mengejak, s a = sa, p i = pi , jadi sapi.
    Ketika ada gambar sebuah pipa ( penghisap tembakau ), ibu guru ( pribumi ) menyuruh seorang murid membaca, dia mulai perlahan mengejak, p i = ...??? pi kata bu guru, p a = ....? pa kata bu guru, terus jadi apa kata itu ? Jawab si-murid, jadi
    CANGKLONG Bu !
    Saya sering di-straf berdiri diruangan para guru, sebab waktu jam istirahat, tertangkap oleh jing-cha-yuan ( anak2 yang lebih tua, berbadan tegap, membawa toya dan dilengannya ada pita merah tertulis 警察员 ), sebab berbicara dengan bahasa Bali.
    老师,他说土话 ! Guru, dia ngomong bahasa daerah ! Jadi kita anak2 luar pulau umumnya lebih fasih berbahasa Mandarin daripada anak2 Tionghoa dipulau Jawa.
    Jika menulis aksara Cina, kurang satu titik atau satu strip, langsung dipecut dengan penjalin ( rotan ), dan di-straf menulis kata itu 100 kali, demikian pula jika tidak mampu menghafal.
    Baiknya disekolah Cina, kita diajari disiplin. Ada matapelajaran
    gongmin, 公民 , yang akhirnya ditiru oleh Presiden Soekarno dengan sebutan pelajaran Civics.
    Abang saya yang sekarang berusia 80 tahun selalu menggerutu, jika dia mengenang masa sekolahnya disekolah Cina, sampai lulus SMA. Kita disana diajari berbuat jujur, rajin, jangan menipu, jangan buang sampah sembarangan, dll. Tetapi kenyataannya, kehidupan diluar sekolahan, semuanya bertolak-belakang dengan apa yang diajarkan ! Yang bajingan menjadi kaya-raya, yang jujur cuma bisa jadi guru sekolah atau hue-ki ( pegawai ).

    ReplyDelete