04 November 2013

Suster PRR Bangun Rumah Sakit Kusta di NTT

Aksi cari dana di halaman Gereja Yohanes Pemandi, Wonokromo, Surabaya.

Penyakit kusta atau lepra sebenarnya bisa disembuhkan secara total. Sayang, di sejumlah daerah di tanah air masih banyak penderita kusta yang belum mendapat perawatan medis secara layak. Inilah yang mendorong para suster kongregasi Putri Reinha Rosari (PRR) untuk fokus melayani masyarakat penderita kusta di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat ini kongregasi PRR tengah membangun berbagai fasilitas untuk penderita kusta di kawasan Naob, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT. "Yang sangat penting adalah unit rawat inap untuk pasien," kata Suster Maria Aline PRR di halaman Gereja Paroki Santo Yohanes Pemandi, Surabaya, Minggu (3/11/2013).

Sejumlah biarawati PRR mengadakan aksi penggalangan dana untuk penderita lepra di NTT dengan menjual kalender kudus 2014 serta berbagai suvenir khas NTT seperti selendang dari tenun ikat. Usai perayaan ekaristi, umat Katolik tampak antusias membeli kalender berisi foto-foto Paus Fransiskus. Meski harga sebuah kalender 'hanya' Rp 25 ribu, umat umumnya memberikan donasi di atas angka itu.

"Yah, kapan lagi kita mendukung karya para suster PRR di daerah. Toh, baru kali ini kayaknya suster-suster PRR mengadakan aksi penggalanan dana sosial di Paroki Yohanes Pemandi," ujar Benny, salah satu jemaat yang membeli dua kalender terbitan PRR itu.

Suster Aline menjelaskan, lokasi panti rehabilitasi penderita kusta milik PRR ini berlokasi di Naob, sekitar 30 kilometer dari Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara. Lokasinya tidak jauh dari negara tetangga Timor Leste.

Para suster PRR merasa terpanggil untuk melayani penderita kusta karena sampai sekarang fasilitas kesehatan di kawasan pinggiran NTT itu masih sangat menyedihkan. Ini membuat penderitaan para penderita kusta akan semakin parah. Padahal, jika ditangani secara intensif sejak dini, penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium Leprae ini bisa diatasi secara tuntas.

Suster Aline menjelaskan, para penderita kusta di sana disingkirkan dari pergaulan, bahkan keluarga dekatnya. Mereka tidak diperbolehkan tinggal satu rumah dengan orang sehat. "Mereka diambil atau datang sendiri ke Naob untuk berobat. Puji Tuhan, mereka sudah menyadari bahwa penyakit kusta itu bisa disembuhkan," tutur Suster Aline.

Selain unit rawat inap utama yang belum selesai, rumah sakit lepra di Naob ini juga tengah membangun rawat inap khusus untuk anak-anak. Juga dibangun untuk pelatihan dan terapi seperti pertenunan. Para eks penderita kusta juga mengelola lahan pertanian dan perkebunan di sekitar rumah sakit. Ini penting agar mereka memiliki aktivitas sebelum bisa kembali berkumpul dengan keluarganya di rumah masing-masing.

Setiap hari para suster, perawat, dan dokter dengan telaten dan penuh cinta kasih merawat para pasien kusta yang datang dari berbagai daerah di Pulau Timor, termasuk Timor Leste. Tim dokter dari Australia pun pernah datang ke Naob untuk melakukan operasi. "Yang memprihatinkan anak-anak kecil pun sudah terjangkit," kata Suster Aline.

Dengan kepedulian berbagai kalangan, khususnya dari umat Katolik di Surabaya, Suster Aline yakin rumah sakit kusta di Naob itu akan cepat selesai. Saat ini para pasien hanya menempati bangunan-bangunan yang masih sederhana. Tapi semangat hidup mereka untuk sembuh dan kembali bermasyarakat sangat tinggi.

Suster Aline menambahkan, selain karena kuman lepra, lingkungan di pelosok NTT yang kotor serta sarana yang terbatas semakin memudahkan penyebaran penyakit lepra di Naob dan sekitarnya. Karena itu, para suster PRR tidak hanya fokus menangani pasien, tapi juga memperbaiki lingkungan setempat. Budaya hidup bersih dan sehat terus ditanamkan para suster kongregasi yang berpusat di Larantuka, Flores Timur, NTT, itu. (rek)

Anda ingin membantu pelayanan Kongregasi Suster PRR di NTT?

Silakan hubungi :

Suster Maria Anfrida PRR (081 3286 10073)
Suster Maria Concita PRR (081 2424 94946)
Suster Maria Arnoldine PRR (081 3597 111 05)

BNI Cabang Maumere Nomor 0310526611 atas nama Tarekat PRR

1 comment:

  1. Saya kayyis, dr teknik UGM 2011 :D

    Gini mas, saya baca blog mas tentang Lembata. rencananya, pertengahan tahun depan saya dan teman2 saya mau ada KKN (semacam pengabdian masyarakat) dan rencananya mau ke kab. Lembata. tema kami seputar pendidikan, kesehatan dan potensi SDA. membaca cerita mas tentang Ile Ape, saya jadi agak ragu untuk ke Lembata. apa semua daerah seperti itu sekarang ?

    kami mau mencari desa yang masih kurang dan bermasalah dalam pendidikan, kesehatan n kepengurusan potensi SDA nya mas. apa mas punya rekomendasi desa mana yg bisa kami prioritaskan di Lembata untuk di bantu ?

    mohon penjelasannya mas. makasih sebelumnya

    ReplyDelete