10 November 2013

Suster OCD Menanam Sayur Organik

Suster OCD Biara Celaket, Mojokerto, yang tak berkasut.
Usai perayaan ekaristi pagi ini, Minggu 10 November 2013, halaman Gereja Yohanes Pemandi, Jalan Gadung 15 Surabaya, dipenuhi aneka sayur-mayur, ubi jalar, roti gandum, sari buah, hingga jajanan pasar.

"Semuanya organik, tidak pakai zat kimia dan pestisida," ujar Bu Vivi sang pemasar kepada saya.

Kebetulan saya tidak kebagian tempat duduk di dalam gereja, sehingga terpaksa duduk di luar, dekat Bu Vivi, penanggung jawab produk organik Biara OCD Celaket, Mojokerto. Selalu ada "untungnya" orang yang terlambat ke gereja. Hehehe.....

Ibu yang tinggal di Citraland, Paroki Yakobus, itu kemudian menunjukkan daun kangkung yang berlubang-lubang. Beda dengan sayur di pasar atau mal yang utuh dan cantik. Tapi dari segi kesehatan, kata Vivi, yang bolong-bolong itu produk organik yang jauh lebih sehat.

Vivi dan beberapa temannya tengah memasarkan hasil kebun organik milik para suster karmelitarum yang bermarkas di Celaket, Pacet, Mojokerto. Para biarawati OCD ini (OCD = Ordo Carmelitarum Discalcaetorum) sehari-hari bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka tak berkasut alias tidak pakai alas kaki.

Biara kontemplatif ini memang mensyaratkan suster-susternya untuk mandiri. Makan minum dari hasil kebun sendiri. Nah, orang-orang seperti Bu Vivi ini adalah OCD awam yang ikut membantu menjual aneka produk pertanian yang dihasilkan para biarawati OCD. Sebab, mereka tidak boleh keluar ke mana-mana.

"Suster kontemplatif itu sangat langka di Indonesia. Di Jawa Timur kayaknya cuma OCD ini. Sebelumnya mereka lebih dulu buka biara di Bajawa (Flores)," kata Vivi.

Saat ini jumlah suster OCD yang rajin ora et labora di Pacet, Mojokerto, ada 16 orang. Para pelanjut jejak Santa Teresa dari Avilla ini menggunakan sistem biara kecil. Sebuah biara tak boleh lebih dari 21 orang. Kalau sudah genap angka selikur, maka mereka harus buka biara baru dan seterusnya.

Karena harus berkebun, biasanya suster-suster OCD membuka biara di lahan pegunungan yang sejuk dan subur. Sulit dibayangkan para suster ini harus bekerja kebun siang hari di Surabaya.

"Saya akui doa-doa suster OCD sangat mantap. Itu saya rasakan sendiri ketika mereka mendoakan saya punya papa," ujar wanita Tionghoa ini seraya tersenyum.

Akhirnya, saya membeli kangkung bolong, ubi jalar, dan sari buah yang katanya mengandung antioksidan.

"Terima kasih ya. Kalau ada waktu, silakan berkunjung ke Pacet," ujar Vivi sangat ramah.

Yah, para suter OCD ini saya kira ingin mengingatkan umat Katolik bahwa bekerja di kebun, jadi petani, bukan pekerjaan yang hina. Justru dengan menjadi wong cilik, wong tani, mereka bisa benar-benar menghayati nasihat Injil seperti yang dicontohkan Santa Teresa dari Avilla.

Selamat berhari Minggu!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment