27 November 2013

Susahnya Jadi Guru di SMA Minus

Kalau tidak salah, kemarin hari guru. Minggu lalu, saya juga dapat kesempatan memberikan materi pelatihan jurnalistik di sebuah sekolah swasta di kawasan Surabaya Utara. Sekolah swasta yang tergolong minus. Baik minus uang, karena murid-muridnya kelas tengah-bawah, pun minus otak.

Minus otak ini yang susah. Karena itu, antusiasme mengikuti pelajaran hampir tidak ada. Ketika sang guru ngomong di depan, mereka bicara sendiri. Dipancing guyonan, lawakan kecil, juga kayaknya gak mempan. Diputarkan film pendek ya dilihat, tapi kurang membantu menambah pengertian anak-anak itu.

Pembicara senior, yang paling ahli melawak, pun rupanya gak ngefek. Padahal, biasanya acara serupa di tempat lain sangat meriah. Anak-anak begitu antusias, banyak bertanya, angkat tangan memotong pembicaraan yang dianggap kurang jelas, dan  sebagainya.

"Waduh, Cak, kayaknya kita berhadapan dengan para siswa SMA yang kualitasnya sangat parah," kata saya kepada pembicara pertama. "Kayaknya jurus kita sudah habis untuk menghidupkan acara."

"Sing sabar ae, Cak! Jadi guru itu memang gak gampang," kata teman saya seraya tertawa kecil. Juancuk tenan!

Dari pengalaman ini, makin sadarlah saya bahwa para pelajar SMA di Surabaya dan sekitarnya ternyata punya kadar kecerdasan yang berbeda-beda. Bahkan sangat jomplang. Ada pelajar yang juara olimpiade internasional, jagoan matematika, fisika, kimia, pelajaran apa saja lancar. Tapi, sebaliknya, banyak pelajar di SMA-SMA tertentu yang membutuhkan penanganan khusus.

Sudah sering saya masuk keluar SMA/SMK untuk memberi semacam pembekalan atau wawasan singkat tentang jurnalistik. Tapi baru kali ini saya merasakan betapa susahnya mengajari anak-anak muda itu. Teman-teman saya pun merasakan hal yang sama. Padahal, guru-guru setempat mengatakan bahwa peserta pelatihan ini murid-murid pilihan.

Bulan lalu saya juga mengisi di SMA Al-Islam, Krian, Sidoarjo. Wuih, cerdas bukan main anak-anak muda itu. Sangat nyambung, interaktif, rajin bertanya, kritis, bahkan sudah seperti mahasiswa saja. Saking antusiasnya, para pemateri memperpanjang acara karena memang asyik. Tidak rugi kita bicara di depan anak-anak seperti itu meskipun tidak dibayar sepeser pun.

Saya kemudian membayangkan betapa susahnya para guru di sekolah-sekolah yang muridnya seperti SMA di Surabaya Utara itu. Sudah minus bayaran, karena SPP yang masuk sedikit, yayasan tidak kuat, dia harus menghadapi anak-anak yang kayaknya tidak berniat sekolah. Tidak punya antusiasme mengikuti pelajaran. Syukurlah, guru-guru itu masih punya idealisme untuk mengabdi di sekolah papan bawah itu.

Sebaliknya, betapa beruntungnya guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah yang muridnya tergolong bibit unggul. Sebut saja SMA-SMA Negeri kompleks Surabaya, SMA Sint Louis, SMA Santa Maria, SMA Muhammadiyah Pucang, SMA-SMA Petra, atau katakanlah SMA Al-Islam Krian. Guru-guru di sekolah yang pelajarnya memang punya bakat kecerdasan dari sananya justru membuat guru-gurunya antusias mengajar dan terus menambah ilmunya.

Atau, jangan-jangan para guru SMA punya resep khusus untuk membuat pintar anak-anak didiknya di sekolah minus meski (maaf) IQ-nya payah? Cobalah sekali-sekali ada program pertukaran guru antarsekolah di Surabaya. Guru-guru di SMA favorit kayak SMA kompleks, Sinlui, Santa Maria, Muhammadiyah Pucang... disuruh mengajar di SMA-SMA minus (seperti di Surabaya Utara itu). Dan, sebaliknya guru-guru SMA minus mengajar di sekolah-sekolah favorit.

1 comment:

  1. Orang sekolah seharusnya bisa mengimplementasikan pelajaran yang sudah diajarkan disekolah. Hal inilah saya rasa kekurangan kita, para lulusan SMA Indonesia tahun 60'-an. Saya sampai sekarang masih tidak paham, apa gunanya saya belajar aljabar, analitika, goniometri, disekolah.
    Suatu hari saya makan bersama dengan seorang teman bule, Peter. Dia sudah membeli gentong ( pot bunga ) untuk menanam bunga. Dia menjelaskan bentuk dan ukuran gentongnya, lalu bertanya kepada saya, berapa liter tanah humus yang harus dia butuhkan untuk mengisi gentong tsb. Saya jawab : masakah lu tidak bisa kira2 sendiri dengan mata-lu ! Peter: Mengapa kira2, kalau kurang khan gua harus ketoko lagi untuk membeli tanah, sebaliknya kalau kebanyakan, mau gua apakan sisa tanah itu. Kita di SMA khan pernah diajari menghitung volume, hanya saja gua lupa rumusnya, kata si-Peter. Ah, lu orang bule, semuanya harus tepat dan dihitung dengan matematika ! Peter: lu tidak tahu apa2, coba panggil anak-lu yang baru lulus SMA. Anak perempuan-saya lalu menerangkan kepada Peter caranya menghitung volume, belum selesai penjelasannya, si-Peter tertawa dan nyeletuk; ya, sekarang gua sudah ingat kembali rumusnya.
    Jadi orang bule kalau belajar matematika, tahu gunanya untuk apa. Kita orang Indonesia, belajar menghitung differential-integral, hanya untuk mendapatkan ijasah, membeo, menghafal buta rumus2, tidak tahu cara implementasi.
    Suatu hari seorang anak muda bule datang sebagai pasien ketempat saya, dia
    langsung menyapa, Selamat siang ! Saya heran dan bertanya; mengapa lu bisa berbahasa Indonesia ? Jawabnya : gua 3 tahun hidup di Bandung dan Jakarta,
    dikirim oleh Firma untuk mengajar para insinyur IPTN, semuanya sarjana2 technik lulusan Indonesia, caranya memakai alat2 dan mesin2 canggih yang dibeli oleh Menteri Habibie untuk membuat pesawat.
    Senang dong lu di Indonesia ! Ya, memang enak, diberi rumah dinas besar, mobil dinas, sopir dan pembantu. Cuma maaf, mereka itu semuanya sarjana, tetapi gua terangkan ber-kali2 cara memakai alat2 kami, mereka tetap tidak bisa ngerti, koq begitu ya, sedangkan gua cuma seorang tukang lulusan STM. Beginilah kalau kita cuma pandai theori. Para bule yang bekerja di Indonesia enak2, padahal dinegaranya, mereka orang2 biasa, yang cuma cukup makan dan hidup sederhana. Semoga para guru SMA di Indonesia zaman sekarang, semuanya sarjana lulusan universitas, seperti di Eropa.

    ReplyDelete