10 November 2013

Selamat Pagi Dijawab Assalamualaikum




"Selamat pagi Pak Bambang!" sapa presenter Abraham Silaban.
"Assalamualaikum!" jawab Pak Bambang.

Begitulah petikan pengantar wawancara di tvOne pagi ini, Ahad 10 November 2013. Program bicang-bincang di televisi itu membahas persoalan kemacetan di Jakarta. Mengapa berbagai kebijakan pemerintah tidak mempan?

Saya agak geli tapi sangat sering menjumpai masalah ringan ini. Sapaan salam selamat pagi atau selamat malam malah dijawab assalamualaikum.

Mestinya selamat pagi dijawab selamat pagi. Assalamualikum ya dijawab walaikumsalam! Anak-anak kecil pun tahu itu.

Tapi kenapa Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono malah menjawab selamat pagi dengan assalamualikum? Ini terkait erat dengan kebiasaan dan ideologi yang dianut seseorang.

Orang yang sangat islamis seperti Pak Bambang jelas tidak suka selamat pagi. Dengan menjawab asalamualikum, dia ingin mengatakan kepada pewawancara, "Pakailah assalamualaikum, jangan selamat pagi."

Di Surabaya, khususnya di Radio Suara Surabaya, pun sejak lama saya menemukan fenomena ini. Sang penyiar selalu menyapa lebih dulu selamat pagi, kemudian dijawab assalamualaikum oleh narasumber via telepon.

Di sinilah repotnya negara majemuk seperti Indonesia yang orang-orangnya selalu ingin menunjukkan ekspresi keagamaannya di depan publik. Di Indonesia batas antara ruang publik dan ruang privat hampir tak ada lagi.

Maka, ketika bulan Ramadan, si penyiar radio terkenal di Surabaya selalu berbasa-basi di awal wawancara. "Bagaimana puasanya hari ini? Lancar?"

Wah, bagaimana kalau sumber itu tidak puasa karena bukan Islam? Atau muslim tapi tak puasa karena berhalangan? Menjawab tidak puasa tentu kurang enak didengar oleh ribuan pendengar. Tapi menjawab puasa jelas berbohong jika kita memang tidak berpuasa.

"Alhamdulillah, PUASANYA  lancar," kata saya suatu ketika.

Saya tidak mengatakan PUASAKU lancar, tapi PUASANYA lancar, karena saya memang tidak berpuasa Ramadan. PUASANYA itu maksudnya PUASA DIA (mereka), puasa kaum muslimin, berlangsung lancar. Permainan kata ganti empunya saja. KU dan NYA itu jelas beda meskipun orang Jawa menyebut PUASANYA dengan maksud PUASAKU.

Saya sendiri tidak  akan pernah menanyakan apa agama seseorang. Kecuali orang itu sendiri yang menyebutnya atau mengenakan busana khas agamanya. Orang PKS (Partai Keadilan Sejahtera) pasti Islam, begitu pula Partai Persatuan Pembangunan.

Karena itu, suatu ketika saya kaget saat berjumpa Jenny, public relations manager sebuah hotel bintang empat di Surabaya, di gereja. Jenny ini sudah saya kenal bertahun-tahun ketika bertugas sebagai reporter. "Lho, Jenny, kamu Katolik ternyata?" sapa saya di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya.

"Hehehe.... Memangnya kamu kira agamaku apa?"

"Protestan.... Kamu kan lulusan UK Petra. Tapi dari gaya bahasa, pilihan katamu, selama ini saya duga kamu jemaat gereja aliran karismatik kayak Bethany dan sejenisnya."

5 comments:

  1. Dia dulu anggota ICMI, jadi memang tidak ragu-ragu untuk mengedepankan identitasnya sebagai Muslim. Walaupun begitu, dia SMP-SMA di Van Lith dan Kanisius, dua sekolah Katolik ternama di Jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin kental identitas keislamannya semakin bagus posisi politiknya di Indonesia. Kalau anda pakai selamat pagi dianggap sekuler, tidak islami, sehingga tidak bisa jadi modal sosial politik. Politik identitas memang luar biasa menonjol di indonesia. Salam yg dipakai, busana yg dipakai dsb sangat diperhitungkan politisi.

      Delete
  2. Kalau Assalamualaikum diucapkan dulu baru Selamat Pagi mungkin lebih bisa diterima.

    ReplyDelete
  3. salam yg islami assalamualikum ini maknanya universal semacam salam damai sejahtera... jadi gak masalah dipakai di ruang publik di Indonesia.

    ReplyDelete
  4. aq juga sering mengalami salam2an yg seperti itu. kita nikmati aja lah....

    ReplyDelete