28 November 2013

Quo Vadis Angelus Domini?

Lonceng Angelus di Desa Bungamuda, Kecamatan Ileape, Lembata, NTT.


Saya baru menerima kiriman artikel yang ditulis Romo Tondo CM dari Mas Joko. Tolong dikoreksi, katanya. Romo Tondo, yang nama lengkapnya Prof Dr John Tondowidjojo Tondodiningrat CM, merupakan pastor senior di Surabaya. Beliau juga guru besar komunikasi di beberapa universitas.

Tumben! Kali ini Romo Tondo membahas Doa Angelus atau yang di Flores dikenal dengan Doa Malaikat. Doa yang biasa didaraskan tiga kali sehari: jam 6, 12, dan 18. Kebiasaan rutin yang sangat terasa di Flores, pulau di NTT yang sebagian besar penduduknya Katolik.

Membaca uraian Romo Tondo yang sangat dalam, saya pun baru sadar kalau sudah lama tidak melakukan kebiasaan Doa Angelus di Jawa. Sebab devosi semacam ini bukan ritual wajib yang harus dilakukan orang Katolik. Dilakukan sangat bagus, tak dilakukan pun tak melanggar apa-apa. Yang wajib itu ekaristi.

Dulu saya biasa mampir ke beberapa gereja katolik di Surabaya, Malang, Jember setiap menjelang jam 12.00. Oh, ternyata lonceng gereja selalu dibunyikan. Tujuannya tentu untuk mengingatkan umat akan saatnya berdoa Malaikat Tuhan atau Angelus Domini.

Sayang, di Surabaya, saya jarang melihat orang-orang yang kebetulan berada di kompleks gereja seperti di Katedral HKY yang berinisiatif mengajak semua orang berdoa Angelus. Orang-orang di kantin cuek aja. Makan, minum, ngobrol, sesuka hati. Sementara lonceng terus berbunyi.

Kok gak ada doa Angelus?

Okelah, Katolik memang sangat minoritas di Jawa Timur sehingga selalu ada alasan untuk tidak melakukan ibadat devosional seperti Angelus ini. Tapi bukankah orang-orang ini berada di lingkungan Katolik?

Akhirnya, saya pun larut dalam kebiasaan dan rutinitas umat di Jawa, khususnya kota besar, yang memang tak punya kebiasaan Angelus. Karena sering diabaikan ya lama-lama jadi kebal. Lama-lama doa sederhana yang dikenal sejak tahun 1200an itu pun tidak dihafal lagi. Lupa!

Saya baru tersentak ketika ikut ziarah ke Gua Maria di Sendangsono, Jogjakarta. Komunitas Katolik Jawa perdana yang dirintis Romo van Lith sejak 1904, kalau tak salah ingat. Saya lihat beberapa ibu penjual kerupuk dan gula merah selalu mampir ke dekat gua dan berdoa bersama.

Ya, doa Malaikat Tuhan atau Angelus Domini. Mereka berdoa dalam bahasa Jawa halus (krama inggil) seperti kebiasaan mereka selama bertahun-tahun. Tapi di pihak lain saya juga melihat rombongan peziarah dari Surabaya dan kota-kota lain yang cuek aja dengan Angelus. Bahkan tidak tahu kalau ada doa Angelus rutin tiga kali sehari.

Mengapa doa Angelus selalu menyentak saya? Kebetulan dulu ketika masih SD di kampung, pelosok Flores Timur, kami, anak-anak SD, diberi tugas untuk membunyikan lonceng Angelus. Gantian tiga kali sehari.

Setelah lonceng berbunyi, orang-orang berdoa Angelus sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Murid-murid SD spontan berdiri dan salah seorang murid mengucapkan MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN.... dan seterusnya saling menjawab. Kebiasaan masa kecil yang sangat membekas.

Sayang, kebiasaan lama itu rupanya tidak dilakukan di kampung saya. Ketika pulang kampung untuk cuti tahunan, saya tak pernah mendengar lonceng Angelus dibunyikan. Padahal lonceng tua itu masih tergantung di dekat kompleks sekolah.

Quo vadis Angelus Domini?

Rupanya semangat kebersamaan, guyub kompak ala desa, semakin lama semakin memudar. Termasuk dalam urusan Angelus Domini ini.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Beberapa hari sebelum artikel ini muncul, saya iseng membaca buku Rosa Mistika yang saya terima dari hasil keteguhan induk semang ingin berikan ke saya.

    Walaupun bukan katolik, tetapi buku dan artikel ini seperti mengingatkan saya bahwa sudah lama sekali saya tidak ke gereja.

    Terimakasih banyak atas artikelnya.
    Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah...

    ReplyDelete