01 December 2013

Prof Sentot M. Soeatmadji Penggagas Museum Pendidikan Dokter



Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga akhirnya memiliki Museum Pendidikan Dokter  yang menempati sebagian Gedung Fakultas Kedokteran Unair di Kampus A, Jalan Mayjen Prof Dr Moestopo Nomor 47 Surabaya. Museum diresmikan sebagai salah satu rangkaian mata acara  pada  Peringatan Satu Abad FK Universitas Airlangga, pada 17 Oktober 2013.

YANG paling bahagia dengan peresmian Museum Pendidikan Dokter FK Unair ini tak lain Prof dr. Sentot Moestadjab Soeatmadji. Maklum, dokter senior yang juga dekan FK Unair era 1982-1985 inilah yang menggagas pendirian museum pendidikan dokter didukung para pembantu dekannya,  saat memimpin fakultas elite di kawasan Karangmenjangan, Surabaya, itu. Prof Sentot bersyukur kepada Tuhan karena di usia 84 tahun masih diberi kesempatan untuk melihat museum yang pernah digagasnya itu sekaligus ikut merayakan 100 tahun Fakultas Kedokteran Unair.

Museum kedokteran itu menempati sebagian Gedung FK Unair yang merupakan bangunan cagar budaya, tepatnya sayap kanan bangunan induk dan tetap mempertahankan arsitektur gaya Hindia Belanda baik eksterior maupun interior. Tata letak desain interiornya disekat-sekat menyesuaikan kebutuhan dan benda yang dipajang. Alat-alat kedokteran sepeti jarum suntik, gunting, kartu mahasiswa, beragam alat peraga, dan foto-foto para alumni tempo dulu turut dipajang di dalam museum.

Berikut petikan wawancara khusus LAMBERTUS HUREK dengan Prof Sentot M Soeatmadji di ruang kerjanya, Jumat (22/11/2013) siang.

Bagaimana ceritanya ide awal untuk mendirikan museum pendidikan dokter FK Unair?

Ide itu sudah lama sekali, bahkan sebelum peringatan 70 tahun pendidikan dokter di Surabaya tahun 1983. Waktu itu kami (pimpinan FK Unair), melontarkan gagasan mendirikan museum pendidikan  dokter kepada teman-teman sekerja, yaitu para pembantu dekan, PD I Prof Purnomo Suryohoedoyo, PD II dr. Soedoko sidohoetomo (almarhum), dan PD III dr. Wido Hriadi, SpOG. Ide tersebut mendapat dukungan sepenuhnya.

Apa yang Anda lakukan saat peringatan 70 tahun pendidikan dokter di Surabaya itu?

Kegiatan-kegiatannya cukup banyak. Pada 15 September 1985, FK UNAIR mendapat kehormatan dengan kehadiran Gubernur Jawa Timur (waktu itu) Bapak Wahono pada peresmian pekan  peringatan 70 tahun pendidikan dokter di Surabaya. Nah, waktu itu kami mengadakan pameran foto-foto dan buku-buku tentang cikal bakal FK Unair sejak awal berdirinya NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) hingga menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Pameran  ini sangat menarik karena kita bisa mengikuti perkembangan sekolah dokter di tanah air pada era Hindia Belanda hingga sekarang ini.

Yang penting juga, pameran foto itu dilengkapi dengan pameran Staatsblad van Nederlandsch Indie Nomor 365 tentang pendirian NIAS. Ini merupakan surat keputusan pemerintah kolonial Belanda yang menjadi dasar hukum berdirinya NIAS di Kota Surabaya. Staatsblad itu kemudian diberi pigura dan dipasang di ruang sidang A Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selain foto-foto tentang pendidikan dokter masa silam, dipamerkan juga koleksi buku-buku pada zaman NIAS, dan berbagai benda yang dianggap punya nilai sejarah bagi pendidikan dokter di Surabaya.

Apakah saat itu dibentuk semacam panitia untuk mewujudkan museum tersebut?

Ya. Ketika masih menjabat dekan, saya menerbitkan Surat Keputusan (SK) Dekan Nomor 429/PT.03.2/E/1985 tentang pembentukan panitia pendirian museum pendidikan dokter FK Unair. Ketuanya Pangeran Siregar, dr, SpTHT. Dokter Pangeran Siregar adalah mantan mahasiswa angkatan tahun 1949 dan pernah menjabat sebagai kepala bagian THT (telinga hidung tenggorok), sampai sekarang masih sugeng dan bisa diwawancarai. Gambar perencanaan, cetak biru pun sudah siap. Kita akan buat bertingkat dengan memanfaatkan lantai bawah untuk garasi terbuka, kantor Korpri Sub-Unit FK Unair, dan mushala.

Berapa dana yang disiapkan untuk mendirikan museum pendidikan dokter ini?

Waktu itu kami perkirakan seluruh pembangunannya membutuhkan biaya sekitar Rp 35 juta. Kami sudah punya modal awal sekitar Rp 10 juta. Nilainya cukup lumayan untuk kurs rupiah pada tahun 1980-an.

Setelah tidak menjabat lagi sebagai dekan FK Unair, bagaimana kelanjutan rencana tersebut?

Nah, seperti dekan-dekan lain yang mengakhiri tugasnya, saya juga membuat memorandum akhir jabatan. Di situ antara lain saya menyinggung rencana pendirian museum pendidikan dokter FK Unair. Tujuannya supaya diteruskan oleh para pengganti saya. Saya sendiri sudah 20 tahun lebih pensiun dari FK Unair sehingga tentu tidak bisa terlibat lagi di dalamnya.

Mengapa FK Unair membutuhkan waktu begitu lama, sekitar 30 tahun, untuk merealisasikan gagasan yang sudah bergulir sejak tahun 1980-an?

Tentu saja ada kendala di sana-sini seperti masalah pendanaan dan sebagainya. Tapi, yang paling penting, museum tersebut sudah diresmikan dan bisa dinikmati oleh para mahasiswa, alumni, serta masyarakat luas.

Apa yang Anda inginkan dengan museum pendidikan dokter itu?

Saya ingin agar museum itu hidup.

Maksudnya?

Museum itu jangan hanya menjadi tempat untuk menyimpan barang-barang atau benda-benda peninggalan masa lalu. Museum harus bisa bercerita. Jadi, dengan melihat koleksi-koleksi yang ada di dalam museum, pengunjung bisa mengikuti perjalanan sejarah pendidikan dokter di Surabaya sejak zaman kolonial hingga saat ini. Termasuk prestasi-prestasi atau pencapaian yang telah dicapai oleh FK Unair. Karena itu, foto-foto yang dipasang di museum pun diberi teks dan sedikit penjelasan agar pengunjung bisa mendapat cerita dari gambar itu.

Bisa digambarkan sedikit tentang pendidikan dokter di NIAS Surabaya pada zaman Hindia Belanda?

Pada 26 September 1911, Noordhoek Hegt menjadi direktur definitif STOVIA (School Tot Opleiding van Indische Artsen), sekolah dokter untuk pribumi di Jakarta. Beliau kemudian melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan di STOVIA. Menurut beliau, sistem pendidikan sembilan tahun, 3 tahun pendidikan awal dan 6 tahun pendidikan lanjutan, ternyata kurang optimal menghasilkan lulusan untuk mengatasi penyakit menular di Hindia Belanda.

Maka, kemudian dibentuk sebuah komisi persiapan pendirian sekolah dokter kedua di Surabaya. Untuk mendapat hasil yang baik, maka sistem pendidikannya bukan 3 + 6 tahun, tapi 3 + 7 tahun. MULO pun dianggap kurang sebagai dasar pendidikan arts atau dokter. Akhirnya, pada 1 Juli 1913 didirikan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya. NIAS ini dimulai resmi menerima 30 mahasiswa pada 15 September 1913. (*)



Kembangkan Bahasa Belanda di Surabaya

TAK ayal lagi Prof dr H Sentot Moestadjab Soeatmadji merupakan salah satu dari sedikit ilmuwan kita yang sangat fasih berbahasa Belanda. Logat Hollands spreken-nya nyaris tak berbeda dengan penutur asli di Amsterdam atau Den Haag, Belanda. Karena itu, tidak heran kalau Prof Sentot selalu jadi jujukan para yunior yang ingin mengetahui sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia.

"Sebagian besar buku-buku tentang sejarah pendidikan dokter di tanah air memang ditulis dalam bahasa Belanda. Sementara saat ini makin sedikit orang Indonesia yang menguasai bahasa Belanda," kata Sentot.

Prof Sentot sendiri sejak kecil sudah sangat akrab dengan bahasa Belanda. Sekolah Dasar yang ditempuhnya juga Sekolah Dasar Belanda Tk I (Eerste Europesche Lagere School) yang lokasinya di Jalan Pemuda (Simpang Straat), di seberang Gedung Grahadi.  Sang ayah, R. Soeatmadji, merupakan dokter lulusan NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) angkatan ketiga, sekolah dokter pertama di Surabaya, yang menjadi cikal-bakal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 

Almarhum Ibunya, seorang guru kepala sekolah SD Sri Wedari di Malang, yang juga amat fasih berbahasa Belanda. Ibu Sentot (Ibu Zizza Irene SH CN) juga fasih berbahasa Belanda karena memang keturunan Belanda. Prof Sentot bahkan memiliki koleksi buku-buku NIAS yang juga memuat daftar nama para lulusan NIAS, termasuk dr Soeatmadji, ayahnya. 

Dokter-dokter pribumi tempo dulu ini biasa berinteraksi dengan dokter-dokter Belanda atau Tionghoa dalam bahasa Belanda. Hubungan di antara sesama dokter, khususnya lulusan NIAS, begitu dekatnya layaknya keluarga sendiri. Karena itu, sejak kecil Sentot sudah akrab dengan para dokter-dokter perintis seperti Prof. Dr. M. Soetopo, mantan Menteri Kesehatan RI, Prof. M Soetojo, dr.,Sp.B, mantan Kepala Bagian Bedah FK Unair, dan Prof. Kamal Loedin, dr.Sp.KK, mantan Kepala Bagian Penyakit  Kulit dan Kelamin. 

Prof Sentot juga lama aktif  di Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Belanda (YPKIB), yang didirikan bersama Konsul Kehormatan Kerajaan Belanda Mr. Frank van Gelder pada tanggal 9 Juni 1995. Gagasan mendirikan yayasan tersebut sebenarnya dilontarkan Mr. Frank van Gelder yang waktu itu selain sebagai Konsul kehormatan juga menjabat sebagai Direktur Bank ABN-AMRO di Surabaya. 

Pada waktu itu di Surabaya ada sekelompok Guru Privat Bahasa Belanda, yang dipimpin oleh Ibu Henny Sasabone, memberi les privat bahasa Belanda, terutama kepada mahasiswa dan pelajar yang ingin meneruskan studi di Nederland. Nah, Mr. Frank van Gelder ingin memberi status yang lebih resmi kepada kelompok pengajar bahasa Belanda ini, dengan menampungnya di dalam suatu lembaga yang kemudian dapat bekerja sama dengan Erasmus Huis di Kedutaan Besar Belanda Jakarta. 

Lahirlah YPKIB, Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Belanda, yang secara resmi juga bekerja sama dengan Pusat Pendidikan Bahasa Belanda, Erasmus Taal Center (ETC). Yayasan didirikan juga dengan bantuan sesepuh Jawa Timur almarhum Bapak H. Moh. Noer, yang juga menjadi pembinanya.  Nama YPKIB diusulkan oleh Prof. Sentot. 

Sesuai dengan namanya, yayasan ini fokus pada bidang pendidikan dan seni budaya. YPKIB yang dulu berpusat di Gedung ITS, Jalan Cokroaminoto Nomor 12-A menempati seluruh lantai empat, memiliki perpustakaan, ruang khusus untuk perpustakaan, dan juga kelas-kelas yang dilengkapi oleh komputer. Setiap hari menyelenggarakan kursus bahasa Belanda untuk tingkat pemula hingga lanjut. 

Guru-guru dan dosen-dosennya pun secara berkala mendapat kursus dan pelatihan secara periodik di Jakarta (Erasmus Huis).

YPKIB  bekerja sama dengan Kedutaan Besar Belanda (Erasmus Huis dan Erasmus Taal Center) di Indonesia untuk menggelar berbagai konser yang melibatkan artis-artis Belanda. "Saya jadi ketua umum YPKIB selama 11 tahun sampai tahun 2006," kata profesor yang ramah ini.

YPKIB beruntung mempunyai anggota pengurus Ibu Sylvia Kho-Pangkay yang juga menjabat  sebagai Konsul Kehormatan Kerajaan Belanda, setelah Mr. Frank van Gelder. Sebenarnya Sylvia Kho-Pangkay yang menjadi motor dan pendukung YPKIB. 

Ketua sekarang adalah Prof. Dr. Frans Limahelu, LLD dibantu Dr. I komang Wiarsa Sardjana, drh, Adrianta Suryadarma, dr.,SpIF.  "Saya sudah menyerahkan kepada pengurus lain untuk melanjutkan visi dan misi YPKIB," ujar pria 84 tahun ini.

Menyesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001, Prof Sentot kemudian mengubah YPKIB menjadi Yayasan Caraka Mulia. Kantornya pun dipindahkan dari Jalan Cokroaminoto ke Jalan Wahidin 36 Surabaya. 

"Caraka itu artinya utusan atau duta. Jadi, Yayasan Caraka Mulia ini mengembang misi menjadi utusan mulia dalam bidang pendidikan dan kebudayaan," katanya seraya tersenyum.

Prof Sentot mengaku senang melihat makin banyak orang muda yang mengikuti kursus bahasa Belanda di Caraka Mulia. Paling tidak buku-buku koleksi lama era Hindia Belanda masih bisa dibaca generasi muda. (rek)




CV SINGKAT PROF SENTOT SOEATMADJI

Nama : Prof dr H Sentot Moestadjab Soeatmadji 
Lahir : Manna, Bengkulu, 5 Februari 1929
Alamat : Jalan Raya Darmo 40, Surabaya, 60264
Profesi : Dosen dan dokter 

Jabatan : 
- Guru Besar Kepala Bagian Biomedik Laboratorium Genetika Medik Penelitian Biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
- Anggota Badan Penasehat PPPI (Paguyuban Pelestarian Pusaka Indonesia). 
- Dekan FK Unair 1982-1985 
- Rektor Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, 1996-...

Pendidikan : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

1 comment:

  1. RIP.. selamat jalan prof Sentot yg luar biasa. semoga amal ibadah dan jasa2 anda diterima di sisi Tuhan YME.

    ReplyDelete