19 November 2013

Peti Jenazah di Flores yang Sederhana

Melihat peti jenazah di Ario Surabaya.


Untuk kesekian kalinya saya ikut jalan-jalan bersama komunitas Petjinan Surabaya. Melancong sambil belajar mengenal budaya Tionghoa. Jalan-jalan yang asyik, tapi capek. Objek yang dilihat terlalu banyak.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Ario, perusahaan jasa kematian di Jalan Dinoyo. Orang Surabaya mengenal Ario sebagai penyedia peti mati untuk warga Tionghoa. Dan memang bisnis utama Ario ya peti jenazah.

Kami diajak Pak Ario Karjanto, bos Ario, melihat peti-peti di bagian belakang. Wuih, penuh sesak. Jeni kayu, tebal tipis, bentuk, ukurannya macam-macam. Yang pling ciamik berupa kayu jati gelondongan yang disebut siupan.

Berapa harganya? Juga macam-macam. Ada yang nol rupiah alias gratis karena memang disediakan manajemen untuk bakti sosial. Tapi rata-rata harganya selangit. Siupan yang bagus dibanderal ratusan juta.

"Siupan di pojok itu harganya Rp 800 juta. Murah ya," ujar teman saya, Yolanda, wartawan JTV, yang sempat wawancara dengan salah satu manajemen.

Hehehe... Delapan ratus juta rupiah untuk peti jenazah yang akan ditanam di dalam tanah bersama sang mayat.

Ini memang persoalan budaya. Bagaimana orang Tionghoa memberikan hormat kepada keluarga yang meninggal agar rohnya bahagia di alam sana. Karena itu, ukuran murah atau mahal tidak cocok untuk soal seperti ini. Bagi orang kaya-raya, 800 juta mungkin keciiiil... Tidak akan membebani keluarga yang masih hidup.

Pulang dari Ario, saya pun membandingkan peti jenazah Tionghoa Surabaya dengan peti jenazah di pelosok Flores, NTT. Ibarat langit dan bumi. Bahkan jauh di atas langit lagi. Karena budaya dan tradisinya memang sangat berbeda.

Di Flores Timur, daerah saya, jenazah memang dimasukkan peti, kecuali orang muslim yang cukup dibungkus kafan. Tapi tidak ada tradisi menyiapkan peti mati, apalagi berdagang peti jenazah seperti di kota-kota besar di Jawa. Sangat tabu!

Bagaimana kalau tiba-tiba ada warga kampung yang meninggal? Gampang sekali. Warga ramai-ramai mencari kayu yang lunak untuk bikin peti. Kayu lunak sangat penting karena cara membuatnya gampang dan mudah rusak di dalam tanah. Apalagi kayunya masih basah alias mentah.

Peti jenazah di NTT, khususnya di desa-desa, memang sengaja dipilihkan dari kayu sederhana yang gampang rusak. Tidak diniatkan untuk tidak rusak dalam waktu lama.

Bahkan, tempo doeloe jenazah hanya dimasukkan dalam keranda yang terbuat dari bambu. Dibuat setengah lingkaran memanjang, keranda ditutupi kain sarung tenun ikat. Cukup! Lalu dikuburkan seperti biasa.

Dalam perkembangannya, kayu-kayu lunak itu biasa diganti papan biasa yang kebetulan tersisa di rumah penduduk. Bahkan tripleks pun bisa dipakai. Saya tidak pernah melihat jenazah dimasukkan ke peti kayu jati.

Karena itu, peti mati di Flores Timur memang tidak ada harganya sama sekali. Pohon randu atau waru kan banyak. Ongkos tukang pun tak ada. Anak-anak kecil pun bisa bikin. Biaya yang diperlukan cuma untuk membeli paku saja.

Itu pun biasanya kita bisa meminta sana-sini dengan mudah. Sebab, ketika ada kematian di desa, semua warga pun berkabung dan mau membantu apa saja. Papan-papan sisa yang nganggur di rumah bisa dipakai. Kalau kurang bisa minta di rumah si A atau si B atau si X.

Yang juga penting, sistem pengawetan jenazah dengan formalin belum dikenal di Flores Timur dan Lembata. Karena itu, jenazah harus segera dikubur. Tidak bisa dibiarkan lama-lama meskipun pihak keluarga sangat berkabung dengan ratapan yang menyayat hati.

Kira-kira begitulah. Lain padang lain belalang... Lain pula peti jenazahnya. Lain pula tradisi dalam penanganan jenazah dan rituat perkabungannya.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment