27 November 2013

Orang Flores yang Merasul di Pare

Gereja Paroki Santo Mateus di Pare, Kediri, Jawa Timur.

Jadilah garam dan terang dunia! Kalau garammu tawar, dengan apa ia diasinkan? Tak ada gunanya. Selain dibuang dan diinjak-injak orang.

Pesan ini sederhana, tapi sarat makna. Tidak mudah menjadi garam yang sejati sebagai pewarta kabar baik di Jawa. Sebuah pulau yang berbeda jauh tradisi, budaya, religi, hingga peradabannya dengan Flores.

Karena itu, saya sangat mengapresiasi orang-orang Flores yang jadi garam di Jawa. Jadi aktivis, pengurus paroki, motor berbagai kegiatan-kegiatan di lingkungan Gereja Katolik. Di berbagai kota di Jawa, saya selalu menemukan orang Flores yang sangat giat di gereja. Dari tukang kebun, satpam, dirigen, koster, hingga pastor ada.

Salah satunya Aloysius Gas. Orang Ende ini ternyata sangat terkenal di Pare, Kediri, alias Paroki Santo Mateus. Bung Gas ini kayaknya lebih terkenal dari pastor paroki. Kalau pastor sering berganti, Bung Gas dari dulu jadi ujung tombak gereja di kota tahu itu.

Bung Gas aktif di hampir semua lini. Mulai ngurus BIAK, OMK, warta paroki, paduan suara, kerasulan awam, kitab suci, liturgi, hingga lansia. Kalau ada acara di Keuskupan Surabaya, Bung Gas nyaris tak pernah absen.

"Bung Gas ini kayaknya lebih terkenal dari romo di Pare," goda saya.

"Hehehe... Kita ini hanya abdi Tuhan, membantu melayani Tuhan dan gereja tanpa pamrih. Kita orang Flores tidak punya materi, tapi kita bisa ambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan," katanya dalam kata-kata khas seorang katekis tulen.

Tanpa pamrih! Ini bukan omong kosong. Bung Gas punya pekerjaan lain, guru, dan berbagai kegiatannya di gereja tidak dibayar. Bahkan dia harus keluar duit untuk ke Surabaya dan kota-kota lain sebagai utusan Paroki Pare.

Kalau ada orang Flores yang nyasar ke Kediri, silakan mampir saja ke tiga gereja Katolik yang ada di sana. Minta alamat atau telepon Bung Gas. Maka engkau tak akan kelaparan dan diberi tumpangan. Masih banyak lagi orang Flores yang jadi pentolan gereja di Kediri, tapi Gas yang paling terkenal.

Bung Gas selalu menulis berbagai kegiatan parokinya untuk saya edit. Tulisannya mirip notulensi rapat sehingga kurang enak dibaca. Ayat-ayat kitab suci cukup banyak. Tapi selalu ada sisi menarik yang membuat saya ikut haru.

Belum lama ini Bung Gas menemani para lansia Paroki Pare untuk bakti sosial di ziarah di Jogja, tepatnya di Gereja Hati Kudus Yesus, Ganjuran. Ini tempat ziarah umat Katolik terkenal di Jawa yang sangat bernuansa Jawa. Saya beberapa kali ikut misa malam Natal di sini.

Bung Gas menulis bahwa dia sangat terharu ketika mengikuti perayaan ekaristi dalam bahasa Jawa krama inggil. Khotbah, nyanyian, semua doa... dalam bahasa Jawa.

"Oh, ternyata saya justru semakin menemukan Tuhan dalam ekaristi bahasa Jawa meskipun bahasa Jawa saya kurang bagus," katanya.
Melihat sepak terjang Bung Gas di parokinya, saya pun teringat lagu liturgi dengan melodi khas Flores yang diciptakan Pastor Hendri Daros SVD yang diajarkan pak guru ketika saya duduk di SD di pelosok Lembata. Melodinya paling enak di bagian solo soprano.

Syairnya: Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah kabar sukacita bagi segenap bangsa!

Rupanya Bung Gas diam-diam sudah melakukannya di Pare. Bung Gas juga memberi imej positif bagi orang Flores yang berada di Jawa Timur. Selamat berjuang Bung Gas!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment